Gus Nadir

Mengkaji ISLAM Kontekstual bersama

Gus Nadir

Islam Enjoy Logo
Syariah

Dilema Hidup: Antara Regulasi dan Etika (1)

Seringkali hidup ini tidak hanya berdasarkan dalil, tapi juga pertimbangan maslahat dan mudarat. Kerapkali satu dalil bertentangan dengan dalil lainnya, sementara situasi meminta kita mengambil keputusan dengan cepat. Kadangkala kita harus meninggalkan dalil atau regulasi atau bahkan mengorbankan pihak lain demi menegakkan keadilan dan menjaga kemaslahatan.

Saya akan coba tulis berseri hal-hal di atas untuk menjelaskan bahwa pilihan hidup ini seringkali berujung pada dilema. Bagaimana kita menyelesaikan dilema itu?

Jika menghadapi pilihan sulit dalam hidup mana yang anda pilih:

1. pilihan berdasarkan aturan, apapun hasil akhirnya nanti.
2. pilihan berdasarkan hasil akhir yang lebih adil dan maslahat meski harus menabrak aturan
3. pilihan berdasarkan kualitas karakter pribadi, bukan soal aturan atau hasil akhir.

Contoh kasus:

Anda berada di atas jembatan dan anda melihat ke bawah ada lima orang pekerja di lintasan kereta. Para pekerja itu tidak menyadari bahwa ada kereta barang yang akan melintas dan bisa menyebabkan hilangnya nyawa mereka, kecuali anda yang di atas jembatan segera bertindak. Anda melihat ada pengemis tua yang sedang bersandar di pagar jembatan tidak jauh dari anda berdiri. Kalau anda dorong pengemis tua itu maka dia akan jatuh persis menimpa gerbong kereta barang dan cukup untuk membuat gerbong keluar dari lintasan kereta. Kelima pekerja akan selamat, tapi pengemis tua akan meninggal. Atau anda akan memilih untuk lompat dan mengorbankan diri anda sehingga kelima pekerja selamat dan pengemis tua juga tidak perlu didorong jatuh ke bawah.

Yang mana yang anda pilih:

1. Jika hidup anda berdasarkan dalil semata, maka anda akan diam saja karena semua pilihan melanggar aturan. Maka anda akan bersikukuh berpegang pada aturan yang ada dan ketimbang berpikir menyelamatkan lima pekerja, atau mengorbankan diri anda atau pengemis tua, anda akan menyalahkan kenapa lima pekerja itu berada di lintasan dan kenapa kereta barang itu tidak dilengkapi klakson untuk memberi warning. Pendek kata, anda merasa benar tidak melakukan apapun, bahkan anda akan menyalahkan pihak lain atas musibah tersebut. Kecelakaan tersebut terjadi karena tidak diturutinya aturan dengan baik. Anda pulang dan tidur dengan nyenyak.

2. Jika hidup anda berpegang pada hasil akhir dan bukan pada aturan semata, maka anda akan mengatakan pada diri anda sendiri: bukan pada tempatnya saat ini menyalahkan pihak lain, ini saatnya bertindak menyelamatkan nyawa lima pekerja. Anda memutuskan untuk mendorong pengemis tua itu jatuh ke bawah. Anda korbankan dia demi menyelamatkan lima pekerja. Bagi anda, mengorbankan satu nyawa demi menyelamatkan lima nyawa adalah tindakan yang mulia. Hidup anda jauh lebih berharga ketimbang pengemis tua yang tidak punya masa depan. Jadi tidak mengapa mengorbankan pengemis tua daripada mengorbankan lima pekerja atau bahkan diri anda sendiri. Anda pulang dan tidur nyenyak karena sudah berhasil menyelamatkan lima pekerja.

3. Jika orientasi anda adalah bagaimana meningkatkan kualitas pribadi anda, dan bukan semata-mata soal aturan atau hasil dari sebuah aturan, maka sebagai orang baik yang senantiasa hendak berbuat baik, maka anda akan memilih untuk lompat dan mengorbankan diri anda demi kelima pekerja dan pengemis tua. Anda lompat, jatuh, meninggal dan kisah anda di dunia ini selesai sudah. Tapi orang lain selamat akibat dari tindakan mulia anda.

Dalam kasus di atas kita tidak lagi semata bicara: mana dalilnya? atau dalil mana yang lebih kuat? Kita bicara soal: bisakah dalil atau aturan dikesampingkan oleh situasi dan kondisi?

Bagaimana menurut anda? Yang mana yang akan anda lakukan? Anda memilih tindakan nomor berapa?

Di bagian kedua insya allah saya akan jelaskan bagaimana dilema di atas bisa direspon lewat salah satu sumber hukum Islam yang sayangnya jarang dibahas, yaitu Istihsan. Sambil saya mempersiapkan tulisan berikutnya, monggo ditulis di kotak komentar pilihan mana yang akan anda pilih dalam kasus di atas smile emoticon

Selamat ber-akhir pekan,

 

Nadirsyah Hosen

Nadirsyah Hosen

Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School. Juga Pengasuh PonPes Ma'had Aly Raudhatul Muhibbin, Caringin Bogor pimpinan DR KH M Luqman Hakim.