Pengadilan Adat di Mesir masih memberlakukan cara tradisional dalam mendeteksi kebohongan. Tokoh spiritual adat memanaskan besi, lantas meminta perempuan yang dituduh suaminya berbohong untuk menjilat besi panas itu. Mengerikan?

Perempuan itu melakukannya dengan penuh keyakinan demi membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah. Diyakini kalau dia berbohong maka lidahnya akan melepuh. Kalau dia jujur, seperti yang terjadi di video ini, maka lidahnya akan baik-baik saja. Di sinilah kekuatan spiritual pemangku adat menjadi bukti hukum (evidence). Luar biasa, bukan?

Cerita semacam ini juga saya alami waktu saya kecil di Madrasah dulu. Bagaimana ketika santriwati ada yg kehilangan kalung emasnya, maka untuk membuktikan tidak ada pencuri di antara kami, kami diminta memasukkan tangan ke dalam air timah yg mendidih. Syukurlah tidak jadi dilaksanakan karena kalung emas itu sudah ketemu duluan. Salah taruh rupanya.

Pengadilan modern sudah mengembangkan sekian teknik untuk memverifikasi alat bukti. Penegak hukum juga memakai alat deteksi kebohongan yang canggih. Namun tetap saja bagi sebagian pihak, proses pembuktian secara adat yang bernuansa mistis-spiritual lebih diyakini kebenarannya, seperti terlihat dalam video ini. Kalau sistem hukum Indonesia mengadopsi metode ini, kira-kira para tersangka koruptor berani melakoninya gak yah?

Tabik,GNH

Bisha'a: Egypt's controversial 'lie detector'

Licking hot metal as a lie detector test? Yeah, even today this legally forbidden practice of Bedouins is still alive and well.A report from #Shababtalk – with شباب توك – DW

Dikirim oleh DW News pada Kamis, 11 Oktober 2018

Login


Khazanah GNH

Komunitas Santri Gus Nadirsyah Hosen

Global Nalar Hakekat
Kompleksitas persoalan kehidupan di abad modern ini meniscayakan terbentuknya sebuah komunitas, dimana anggota dari berbagai latarbelakang agama dan budaya, bisa saling belajar layaknya para santri, di sebuah rumah virtual bersama: Khazanah GNH

Khazanah GNH
Komunitas santri yang berwawasan global, mengindentifikasi beragam persoalan dan isu-isu aktual, dengan mengembangkan nalar yang sehat, bukan atas dasar keberpihakan politik sesaat, tapi melalui diskusi (kajian dan ngaji) akan hakikat kemanusiaan dan kehidupan. Dengan cara ini peradaban manusia yang tercabik-cabik dirajut kembali dengan keluhuran budi dan qalbu guna menebar rahmat dan kasih sayang pada semesta.”

Sudah terdaftar?