Limadza Ta’akharal Al-Muslimun Wa Limadza Taqaddama Ghairuhum adalah pertanyaan yang menjadi judul buku karya Amir Syakib Arsalan. “Mengapa kaum muslimin terbelakang dan yang lainnya maju?”, judul buku ini menyentak dan menjadi terkenal.

Kalau mau tersinggung dengan judulnya bisa saja, bukankah ada individu muslim yang hebat? Apa ini maksudnya menghina para alim ulama? Tentu saja yang dimaksud dalam kata al-muslimun itu plural atau jamak. Ia bermakna umum, bukan menyasar individu tertentu. Dalam bahasa arab teksnya begini: ‎لماذا تأخر المسلمون ولماذا تقدم غيرهم. Jadi secara umum Syakib Arsalan bertanya secara retoris mengapa kaum Muslim kondisinya terpuruk sementara kaum yang lain lebih maju.

Pertanyaan ini sebenarnya dikirim oleh Muhammad Basyuni Imran dari Tanah Air ke majalah al-Manar di Mesir tahun 1929. Surat dari Nusantara itu minta penjelasan faktor-faktor penyebab kelemahan, kemunduran, dan kehinaan umat Islam. Surat itu juga bertanya sebab-sebab majunya Eropa, Amerika dan Jepang, dan bagaimana cara kita mengejar mereka sambil menjaga agama Islam yang lurus.

Mendapat surat ini, Sayyid Rasyid Ridha mengalihkannya kepada Amir Syakib Arsalan yang baru kembali dari Cordoba. Kita tahu Cordoba di Spanyol menyisakan jejak gemilang peradaban Islam masa silam. Amir Syakib Arsalan menulis jawabannya dan dimuat di majalah al-Manar. Tahun 1940 jawaban itu diedit dan diterbitkan dalam bentuk buku dan diberi pengantar oleh Sayyid Rasyid Ridha. Buku itu langsung menyita perhatian dunia Islam yang saat itu banyak berada dalam cengkeraman penjajah & mencari jawaban atas keterpurukan. Tidak heran sejumlah negara kolonial melarang peredaran buku Syakib Arsalan karena khawatir dengan efeknya yang menginspirasi umat.

Namun, bagaimana kondisi umat Islam saat ini? 70 tahun lebih sejak buku tersebut terbit kaum muslim masih terpuruk. Melihat dunia arab yang bergejolak, harapan akan kemajuan Islam dialihkan pada Islam di Asia Tenggara. Cikal bakal kembalinya peradaban Islam disebut-sebut akan muncul dari Malaysia dan Indonesia. Tahun 1997 Prof John Esposito memprediksi bahwa kedua negara inilah yang akan memimpin dunia Islam menuju kejayaannya.

Hampir 20 tahun sejak prediksi tersebut, kondisi umat di Indonesia dan Malaysia belum juga bisa bersaing dengan Barat. Parahnya lagi, banyak yang mengalami sindrom rendah diri dan sensi akibat keterpurukan kondisi umat dan kerap menyalahkan pihak lain. Maka pertanyaan yang muncul sejak tahun 1929 lalu masih relevan: mengapa kaum muslim terbelakang dan mengapa yang lain maju?

Kita membutuhkan tokoh seperti Syakib Arsalan yang kini menawarkan penjelasan dan solusi atas persoalan umat di masa modern. Tugas cendekiawan dan ulama untuk terus berusaha memenangkan umat dengan meningkatkan kualitas. Bukan sebuah hil yang mustahal peradaban Islam kembali jaya di tangan generasi berikutnya. Itu semua tidak bisa terjadi tanpa peningkatan kualitas SDM umat. Tetap optimis, mari kita tunggu ijtihad para pakar untuk memberi jawaban aktual atas pertanyaan klasik ini.

Tabik,

Nadirsyah Hosen


Sumber: elmaraji.wordpress.com
Sumber: elmaraji.wordpress.com
img00641-20121025-1733
Sumber: inibukubudi.wordpress.com
Contributor
Tidak Ada Komentar
Berikan komentar Batal
Comments to: Pertanyaan Klasik: “Mengapa Mereka Maju, dan Kita Tidak?”

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Attach images - Only PNG, JPG, JPEG and GIF are supported.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Login


Khazanah GNH

Komunitas Santri Gus Nadirsyah Hosen

Global Nalar Hakekat
Kompleksitas persoalan kehidupan di abad modern ini meniscayakan terbentuknya sebuah komunitas, dimana anggota dari berbagai latarbelakang agama dan budaya, bisa saling belajar layaknya para santri, di sebuah rumah virtual bersama: Khazanah GNH

Khazanah GNH
Komunitas santri yang berwawasan global, mengindentifikasi beragam persoalan dan isu-isu aktual, dengan mengembangkan nalar yang sehat, bukan atas dasar keberpihakan politik sesaat, tapi melalui diskusi (kajian dan ngaji) akan hakikat kemanusiaan dan kehidupan. Dengan cara ini peradaban manusia yang tercabik-cabik dirajut kembali dengan keluhuran budi dan qalbu guna menebar rahmat dan kasih sayang pada semesta.”

Sudah terdaftar?