Ketika Allah memberi, maka Dia sesungguhnya sedang memperlihatkan belas kasih-Nya kepadamu. Dan ketika Dia menolak memberimu, maka Dia sedang menunjukkan kekuasaan-Nya. Dan di dalam semuanya itu, Dia sesungguhnya hendak memperlihatkan Diri kepadamu dan ingin menjumpaimu dengan kelembutan-Nya. (al-Hikam – Syekh Ibn Athailah)

Pemberian dan cobaan dari Allah adalah bagian dari ke-Maha LembutanNya. CaraNya itu sangat lembut dan halus mengenalkan DiriNya. Ibn Athaillah mengingatkan bahwa saat kita mencintai Allah itu kita tak lagi berharap imbalan dan pujian dari selainNya.

Fa inna al-muhibb man yabdzulu laka. Laysa al-muhibb man tabdzulu lahu
(
Pecinta itu yang berkorban kepadaMu, bukan yang Kau berkorban kepadanya)

Jika semua dilandasi cintaNya, kesulitan pun seolah pesta bagi mereka yang berharap perjumpaan denganNya. Kenapa demikian?

Rubbama wajadta min al-mazidi fi al-faqat ma la tajiduhu fi al-shaum wa al-shalat
(Boleh jadi kita akan dapat pengalaman batin dalam penderitaan, apa yang tak bisa diperoleh saat berpuasa dan shalat)

Bagi Ibn Athaillah, pengalaman batin saat diuji juga caraNya menarik kita lebih dekat lagi kepadaNya, bukan hanya saat ibadah. Bermacam ujian itu hakekatnya adalah hamparan pemberian (al-faqat busuth al-mawahib). Begitu dahsyat pesan al-Hikam.

Datangnya cobaan tak hanya meniscayakan kesabaran tapi juga syukur, karena di balik ujian itu ada karunia yang hendak diberikan Allah.

Al-‘atha` min al-khalq hirman wa al-man’u min Allah ihsan
(Pemberian dari makhluk itu kerugian, penolakan dari Tuhan itu kebaikan)

Cara pandang Ibn Athaillah akan makna pemberian dan penolakan ini luar biasa. Menjungkirbalikkan logika kita. Yang sedih dengan penolakan Allah atas doanya itu indikasi ketidakpahaman kita pada Allah. Kata al-Hikam, penolakan bagian dari pemberianNya.

Innama yu`limuka al-man’u li ‘adami fahmika ‘an Allah fihi
(Pemahaman kita akan ilmu Allah terbatas, kita tidak paham hakikat ilmuNya)

Pemberian, penolakan, ujian semuanya itu caraNya mengenalkan kasih sayangNya kepada kita. CaraNya itu begitu halus & lembut. Saat diberi atau saat ditolak itu hanyalah wasilah bagiNya menarik kita lebih dekat lagi. Jangan sampai membuat kita berpaling dariNya.

Demikian sekedar berbagi makna pemberian dan penolakan dari perpsektif al-Hikam karya Syekh Ibn Athailah.

Tabik,

Nadirsyah Hosen

Contributor
Tidak Ada Komentar
Berikan komentar Batal
Comments to: Pemberian dan Penolakan dalam Perspektif al-Hikam

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Attach images - Only PNG, JPG, JPEG and GIF are supported.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Login


Khazanah GNH

Komunitas Santri Gus Nadirsyah Hosen

Global Nalar Hakekat
Kompleksitas persoalan kehidupan di abad modern ini meniscayakan terbentuknya sebuah komunitas, dimana anggota dari berbagai latarbelakang agama dan budaya, bisa saling belajar layaknya para santri, di sebuah rumah virtual bersama: Khazanah GNH

Khazanah GNH
Komunitas santri yang berwawasan global, mengindentifikasi beragam persoalan dan isu-isu aktual, dengan mengembangkan nalar yang sehat, bukan atas dasar keberpihakan politik sesaat, tapi melalui diskusi (kajian dan ngaji) akan hakikat kemanusiaan dan kehidupan. Dengan cara ini peradaban manusia yang tercabik-cabik dirajut kembali dengan keluhuran budi dan qalbu guna menebar rahmat dan kasih sayang pada semesta.”

Sudah terdaftar?