Gus Nadir

Mengkaji ISLAM Kontekstual bersama

Gus Nadir

Islam Enjoy Logo
Akhirat

Tafsir Wajah

Wajah adalah cermin jiwa –sesuatu yang tidak bisa ditutupi meski dipoles dengan bedak dan gincu. Perubahan raut wajah, baik senang ataupun susah, akan bisa terlihat. Mereka yang kehilangan jati dirinya disebut sebagai kehilangan muka atau wajah. Itulah sebabnya saat kita ber-wudhu bukan sekedar wajah lahiriah kita yang sedang kita bersihkan, tapi juga wajah batiniah kita agar tak sering kita kehilangan wajah kita.

Dalam surat al-Ghasiyah diceritakan bahwa kelak di akherat ciri orang yang masuk neraka terlihat jelas di wajah mereka. Banyak wajah yang tertunduk hina (wujuhun yaumaidzin khasyiah). Merekalah wajah-wajah yang akan digiring masuk api neraka. Ini berbeda dengan kelompok lain yang wajahnya berseri-seri (wujuhun yaumaidizn na’imah). Dari wajahnya saja kita tahu bahwa ini calon penduduk surga. Itulah wajah manusia kelak di akherat.

Ada juga yang berwajah dua: dzul wajhain. Ini biasanya dilukiskan dengan mereka yang memiliki sifat munafik: kalau berkata, ia berdusta; kalau berjanji, ia mengingkari; dan kalau diberi amanah, ia berkhianat. Ini mereka yang selalu menyembunyikan wajah aslinya, ke satu pihak ia sorongkan satu wajahnya dan ke pihak lain ia kedepankan wajah yang berbeda. Ia memiliki wajah yang tampil di publik, dan wajah yang dipakai di ruang privat. Alih-alih bersikap apa adanya, ia malah bersikap mengada-ngada.

Bukannya bersikap apa adanya, gerak geriknya malah mengundang tanya ada apanya. Mereka yang berwajah ganda alias bermuka dua tidak akan henti-hentinya mengeluarkan berbagai jurus akal bulusnya. Tidak ada ketulusan dalam tutur kata dan sikap perbuatannya. Kalau bahasa Arab mengenal istilah dzul wajhain, bangsa kita malah mengenal istilah dasamuka alias berwajah sepuluh. Kalau punya kawan yang berwajah dua saja sudah bikin kita pusing, bagaimana kalau punya karib-kerabat yang berwajah sepuluh?

Dalam satu riwayat dikisahkan para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW: “Karib seperti apa yang baik untuk kami?” Rasulullah SAW menjawab, “Yakni apabila kalian memandang wajahnya, maka hal itu mengingatkan kalian kepada Allah.” Ternyata ada manusia yang wajahnya dapat memgingatkan kita pada Allah. Itu artinya, wajah mereka merupakan pantulan cahaya “wajah” ilahi. Subhanallah!

Dalam riwayat lain, ketika turun Surat al-An’am: 65, Nabi berseru sampai dua kali: “aku berlindung dengan wajah-Mu (a’udzu bi wajhika)”. Kenapa demikian? karena semua akan sirna kecuali “wajah” Allah. (QS 55:26-27; QS 28:88; Qs 18: 28). maka sebaik-baik perlindungan adalah meminta perlindungan dengan “wajah” Allah yang kekal.

Maka hadapkanlah wajah kita kepada “wajah” Allah, baik ke timur maupun ke barat semuanya ada “wajah” Allah (QS 2:115). Nabi Ibrahim pun berseru, “Inni wajjahtu wajhiya lilladzi fatar-as-samawati wal ard hanifan wama ana minal-musyrikin.” (QS 6:79)

Karena kepunyaan Allah lah semua yang ada di Timur dan di Barat, Allah mengingatkan kita bahwa:

“Bukanlah menghadapkan wajah kamu ke arah Timur dan Barat itu merupakan suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir, dan orang-orang yang meminta-minta, dan memerdekakan hamba sahaya, melaksanakan shalat secara sempurna, dan menunaikan zakat, dan orang-orang yang menepati janji mereka apabila mereka berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya) dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa” (QS 2:177)

Sekedar menghadapkan wajah kita ke Timur dan Barat itu mudah, bukan? Tapi kalau yang kita cari adalah “wajah” Allah, maka butir-butir kebajikan pada ayat di atas layak untuk kita renungkan dan laksanakan. Semoga kelak wajah kita di akherat dapat langsung memandang wajah Allah –sebagai puncak kenikmatan seorang hamba.

….wajahku dan wajahMu saling bermuwajahah
wajahku merona
wajahMu memesona

Tabik,

Nadirsyah Hosen

(Petikan dari buku best seller karya Nadirsyah Hosen, Tafsir al-Quran di Medsos, 2019. Bisa dipesan via mizanstore.com)

Nadirsyah Hosen

Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School. Juga Pengasuh PonPes Ma'had Aly Raudhatul Muhibbin, Caringin Bogor pimpinan DR KH M Luqman Hakim.