Muna lahir 43 tahun yang lalu di Amerika saat Ayahnya tengah melakukan penelitian di sana. Kembali ke Saudi Arabia dan belajar di negeri asalnya, Muna kemudian mengikuti ayahnya tinggal sekitar dua tahun di Malaysia.

Muna mengenang bahwa dia belajar wajah Islam yang lain saat berada di Malaysia dimana etnik Melayu, Cina dan India berinteraksi dengan rukun, dan bagaimana Islam memberi ruang bagi perempuan untuk berperan di masyarakat. Muna tentu membandingkannya dengan negeri asalnya.

Kesan yang begitu mendalam mengenai praktek Islam di Asia Tenggara, di seputar wilayah nusantara tersebut, membawa Muna menyuarakan dan menampilkan wajah dan suara Islam yang berbeda dengan Islam mainstream ala Wahabi di negaranya. Lihatlah bagaimana ia mengenakan hijabnya, yang mirip kerudung ala dunia Islam melayu sebelum tahun 1980-an. Rambutnya menyembul. Polesan make-upnya terlihat jelas. Tapi Muna tidak peduli itu. Ia ingin dikenal dengan apa yang ada di dalam kepalanya, ketimbang apa yang membungkus kepalanya.

Muna kembali ke Amerika untuk menempuh pendidikan lanjutannya. Kemudian bekerja 8 tahun di Alwaleed bin Talal Foundation, dan akhirnya memutuskan menjalankan bisnisnya sendiri. Muna menjelma menjadi salah satu tokoh perempuan Saudi yang sangat berpengaruh. Ia menjadi salah satu host acara tv populer Kalam Nawaem yang membahas tema sensitif seperti pendidikan untuk perempuan, seks, komedi, dan lainnya. Muna dijuluki Oprah-nya Saudi. Muna, yang telah menjadi salah satu simbol modern perempuan Arab, kerap diundang memberikan kuliah umum di berbagai forum internasional serta universitas kelas dunia. Dunia ingin mendengar ide-ide cerdasnya.

Muna men-design model hijabnya dan kemudian memproduksinya. Hijab ala Muna sekarang banyak dikenakan oleh perempuan Arab yang berpendidikan, dan meniti karir di ruang publik. Berbeda dengan trend hijab syar’i di Indonesia, Muna malah mengembangkan hijab yang mengikuti cita rasa fashion modern.

Tentu tidak semua lelaki senang melihat peran publik yang dimainkan oleh seorang Muna AbuSulayman. Dan banyak pula perempuan yang akan mencibir Muna yang telah memiliki dua anak dan bercerai dengan suaminya ini. Kelihatannya tidak mudah memang untuk para lelaki memiliki istri yang cantik, pandai dan berkarir di ruang publik. Akan ada para suami yang berlindung dibalik interpretasi klasik sejumlah ayat suci demi ego kelaki-lakian mereka.

Tidak mudah menjadi seorang Muna. Muna telah menjadi suara yang lain dari Saudi Arabia — dimana suara perempuan selama ini dianggap aurat, wajah mesti ditutup cadar dan peran perempuan terbatas urusan kasur dan dapur. Muna berani tampil beda.

Tabik,

Nadirsyah Hosen


ps: Catatan tambahan dari Muhamad Taufik Ridlo:
“Peranan ayah Muna juga saya pikir cukup berpengaruh Prof Dr Abdul Hamid Abu Sulaiman yang di era awal tahun 90 menjadi rektor IIUM International islamic university Malaysia dan juga sebagai pioneer pemikiran Islam yang salah satu bukunya أزمة العقل المسلم (Krisis pemikiran muslim) yang diterbitkan IIIT the International institute of Islamic Thought. Dengan tulisannya mencoba untuk menyelaraskan dan membumikan nilai nilai Islam dalam bahasa kekinian sehingga konsep tinjauan ilmu ilmu yang berkembang di zaman sekarang dilihat dari sudut pandang Islam sebagai bingkainya sehingga pada saat itu isue yang berkembang adalah islamiyyah AL marifah”

Contributor
Reaksi visitor pada artikel ini.
Tampilkan komentar Sembunyikan komentar
Comments to: Muna AbuSulayman: Suara Lain dari Saudi
  • 2 Februari 2018

    Jilbabnya mirip sama perempuan Iran di Negara Republik Islam Iran

    Reply
  • […] 7. Muna AbuSulayman: Suara Lain dari Saudi https://nadirhosen.net/tsaqofah/wanita/193-muna-abusulayman-suara-lain-dari-saudi […]

    Reply
Write a response

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Attach images - Only PNG, JPG, JPEG and GIF are supported.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Login


Khazanah GNH

Komunitas Santri Gus Nadirsyah Hosen

Global Nalar Hakekat
Kompleksitas persoalan kehidupan di abad modern ini meniscayakan terbentuknya sebuah komunitas, dimana anggota dari berbagai latarbelakang agama dan budaya, bisa saling belajar layaknya para santri, di sebuah rumah virtual bersama: Khazanah GNH

Khazanah GNH
Komunitas santri yang berwawasan global, mengindentifikasi beragam persoalan dan isu-isu aktual, dengan mengembangkan nalar yang sehat, bukan atas dasar keberpihakan politik sesaat, tapi melalui diskusi (kajian dan ngaji) akan hakikat kemanusiaan dan kehidupan. Dengan cara ini peradaban manusia yang tercabik-cabik dirajut kembali dengan keluhuran budi dan qalbu guna menebar rahmat dan kasih sayang pada semesta.”

Sudah terdaftar?