Dalam sebuah penerbangan di tanah air, begitu pesawat mendarat seorang bapak langsung melepas sabuk pengaman dan segera berdiri. Pramugari mengingatkan bapak itu untuk duduk kembali demi keselamatannya. Bapak tersebut langsung marah dan tersinggung berat karena sudah ditegur. Maka keluarlah kata-kata berbagai isi kebun binatang dari mulut si bapak. Peristiwa itu disaksikan oleh istrinya yang berjilbab dan anaknya yang berusia sekitar 7-9 tahun.

Dalam kesempatan lain, seorang ibu berumur setengah baya dengan tiba-tiba menyerobot antrian panjang. Ditegur baik-baik, ibu ini lantas marah-marah dan memaki sejumlah orang yang memintanya kembali ke belakang.

Ada apa ini? Kenapa orang yang salah, ketika diingatkan malah lebih galak dia? 
Bagaimana dengan anda? pernahkah seperti itu juga?

Problem ini muncul karena kita tidak bisa membedakan antara diri dan perbuatan kita. Ketika kita melakukan kesalahan, dan lantas ditegur maka harga diri kita seolah runtuh dan teguran itu merupakan serangan terhadap diri kita. Padahal sejatinya yang dikoreksi itu adalah perbuatan kita. Kita ciptakan berbagai excuse untuk membenarkan ketersinggungan kita tadi:

“Kenapa menegur saya di depan umum?” (lho anda kan melakukan kesalahannya di depan umum? Entar kalau saya bisiki, anda malah kegelian hehehe)

“Kenapa kok cuma saya yang disalahkan? Kan biasanya banyak yang juga melanggar?” (hanya karena sebelumnya banyak yang melakukan kesalahan serupa, bukan berarti anda boleh melakukan kesalahan berulang-ulang)

“Ya saya tahu saya salah, tapi jangan begitu dong cara menegurnya” (kalau anda tidak mau ditegur, maka jangan melakukan kesalahan. Sesederhana itu)

Sekali lagi, yang ditegur itu adalah perbuatan anda. Bukan diri anda. Lain halnya kalau orang mengomentari hidung anda yang besar atau mata anda yang sipit, atau rambut anda yang gondrong. Tapi kalau yang ditegur adalah perbuatan anda, maka tidak perlu baper. Segera introspeksi, dan jika memang anda bersalah, segera perbaiki kesalahan anda tersebut.

Semua orang pernah melalukan kesalahan. Satu kesalahan tidak akan membuat harga diri anda runtuh. Justru kalau anda marah-marah saat ditegur, maka orang lain akan semakin memandang anda dengan negatif.

Kekeliruan menyamakan perbuatan dan diri pribadi ini juga sering hinggap di benak orang lain. Kita tegur perbuatannya, kita tidak suka dengan perbuatannya, tapi kita sebenarnya tidak perlu membenci orangnya. Sekali lagi, mari kita bedakan kedua hal ini: perbuatan dan diri pribadi. Kalau kita gagal membedakannya, maka begitu banyak orang yang harus kita benci hanya karena dia melakukan kesalahan atau perbuatan yang tidak menyenangkan kita.

Setiap manusia bukan saja pernah melakukan kesalahan, tapi kita juga masih diberi kesempatan untuk memperbaikinya. Selama nyawa masih ada, setiap detik adalah undangan Allah untuk kita selalu memperbaiki diri kita guna menjadi pribadi yang lebih baik, dan hidup yang lebih bermakna untuk sesama.

Maaf, kali ini dalil dan kitab referensi dari catatan di atas anda cari sendiri saja yah 🙂

Tabik,

Nadirsyah Hosen

Contributor
Reaksi visitor pada artikel ini.
Tampilkan komentar Sembunyikan komentar
Comments to: Mengapa Mudah Tersinggung?
  • 6 November 2018

    Assalamualaikum ust.
    Mohon maaf, bagaimana sih seharusnya sikap kita dijaman modern ini? Terutama soal agama islam yg saat ini bnyak sekali aliran aliran baru

    Reply
Write a response

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Attach images - Only PNG, JPG, JPEG and GIF are supported.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Login


Khazanah GNH

Komunitas Santri Gus Nadirsyah Hosen

Global Nalar Hakekat
Kompleksitas persoalan kehidupan di abad modern ini meniscayakan terbentuknya sebuah komunitas, dimana anggota dari berbagai latarbelakang agama dan budaya, bisa saling belajar layaknya para santri, di sebuah rumah virtual bersama: Khazanah GNH

Khazanah GNH
Komunitas santri yang berwawasan global, mengindentifikasi beragam persoalan dan isu-isu aktual, dengan mengembangkan nalar yang sehat, bukan atas dasar keberpihakan politik sesaat, tapi melalui diskusi (kajian dan ngaji) akan hakikat kemanusiaan dan kehidupan. Dengan cara ini peradaban manusia yang tercabik-cabik dirajut kembali dengan keluhuran budi dan qalbu guna menebar rahmat dan kasih sayang pada semesta.”

Sudah terdaftar?