Gus Nadir

Mengkaji ISLAM Kontekstual bersama

Gus Nadir

Islam Enjoy Logo
Tafsir

Kosa kata dari Nusantara di dalam al-Qur’an

Bahasa dan budaya itu dinamis. Telah terjadi pertemuan antar bangsa, baik lewat jalur perdagangan ataupun lainnya, yang membuat terjadinya penyerapan bahasa maupun percampuran budaya. Termasuk juga bahasa Arab. Dan karena al-Qur’an turun dalam bahasa Arab, maka penyerapan berbagai istilah dan nama non-Arab pun ikut terserap ke dalam kosa kata al-Qur’an.

Apakah dengan demikian ada bahasa non-Arab di dalam al-Qur’an? Saya kutip penjelasan Tafsir al-Qurthubi:

‎لَا خِلَافَ بَيْنَ الْأَئِمَّةِ أَنَّهُ لَيْسَ فِي الْقُرْآنِ كَلَامٌ مُرَكَّبٌ عَلَى أَسَالِيبَ غَيْرِ الْعَرَبِ، وَأَنَّ فِيهِ أَسْمَاءٌ أَعْلَامًا لِمَنْ لِسَانُهُ غَيْرُ الْعَرَبِ، كَإِسْرَائِيلَ وَجِبْرِيلَ وَعِمْرَانَ وَنُوحٍ وَلُوطٍ. وَاخْتَلَفُوا هَلْ وَقَعَ فِيهِ أَلْفَاظٌ غَيْرُ أَعْلَامٍ مُفْرَدَةٍ من كلام غير الْعَرَبِ، فَذَهَبَ الْقَاضِي أَبُو بَكْرِ بْنُ الطَّيِّبِ وَالطَّبَرَيُّ وَغَيْرُهُمَا إِلَى أَنَّ ذَلِكَ لَا يُوجَدُ فِيهِ، وَأَنَّ الْقُرْآنَ عَرَبِيٌّ صَرِيحٌ، وَمَا وُجِدَ فِيهِ مِنَ الْأَلْفَاظِ الَّتِي تُنْسَبُ إِلَى سَائِرِ اللُّغَاتِ إِنَّمَا اتُّفِقَ فِيهَا أَنْ تَوَارَدَتِ اللُّغَاتُ عَلَيْهَا فَتَكَلَّمَتْ بِهَا الْعَرَبُ وَالْفُرْسُ وَالْحَبَشَةُ وَغَيْرُهُمْ، وَذَهَبَ بَعْضُهُمْ إِلَى وُجُودِهَا فِيهِ، وَأَنَّ تِلْكَ الْأَلْفَاظَ لِقِلَّتِهَا لَا تُخْرِجُ الْقُرْآنُ عَنْ كَوْنِهِ عَرَبِيًّا مُبَيِنًا، وَلَا رَسُولَ اللَّهِ عَنْ كَوْنِهِ متكلما بلسان قومه، فالمشكاة: الكوة وو نشأ: قَامَ مِنَ اللَّيْلِ، وَمِنْهُ” إِنَّ ناشِئَةَ اللَّيْلِ” و” يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ” أي ضعفين. و” فَرَّتْ مِنْ قَسْوَرَةٍ” أَيِ الْأَسَدِ، كُلُّهُ بِلِسَانِ الْحَبَشَةِ. وَالْغَسَّاقُ: الْبَارِدُ الْمُنْتِنُ بِلِسَانِ التُّرْكِ. وَالْقِسْطَاسُ: الْمِيزَانُ، بِلُغَةِ الرُّومِ. وَالسِّجِّيلُ: الْحِجَارَةُ وَالطِّينُ بِلِسَانِ الْفُرْسِ. وَالطُّورُ الْجَبَلُ. وَالْيَمُّ الْبَحْرُ بِالسُّرْيَانِيَّةِ. وَالتَّنُّورُ: وَجْهُ الْأَرْضِ بِالْعَجَمِيَّةِ. 
‎قَالَ ابْنُ عَطِيَّةَ:” فَحَقِيقَةُ الْعِبَارَةِ عَنْ هَذِهِ الْأَلْفَاظِ أَنَّهَا فِي 
‎الْأَصْلِ أَعْجَمِيَّةٌ لَكِنِ اسْتَعْمَلَتْهَا الْعَرَبُ وَعَرَّبَتْهَا فَهِيَ عَرَبِيَّةٌ بِهَذَا الْوَجْهِ.

Imam al-Qurthubi menjelaskan bahwa tidak ada perbedaan pendapat bahwa al-Qur’an berisikan kata yang disusun dari term dan nama yang berasal dari non Arab. Misalnya: Israil, Jibril, Imran, Nuh dan Lut.

Namun demikian mereka berbeda pandangan apakah ada kata lain yg non-Arab? Imam Qurthubi menyebut nama Qadhi Ibn at-Thayyib, at-Thabari dan ulama lainnya yang percaya bahwa al-Qur’an itu murni berbahasa Arab dan tidak ada kata lain yg non Arab dalam al-Qur’an.

Kalaupun ada kata yg tersusun dari bahasa non Arab, menurut mereka, itu hanya kesamaan saja antara bahasa Arab dan non Arab seperti Habasyah, Persia dan lainnya.

Imam Qurthubi juga menyebutkan bahwa ada pula yang berpendapat kalaupun ada kosa kata non Arab jumlahnya hanya sedikit dan tidak menghapus kenyataan bahwa al-Qur’an murni berbahasa Arab.

Imam Qurthubi kemudian menyebutkan beberapa contoh kosa kata tersebut seperti Misykat (QS 24:35), Nasya-a (QS 73:6), Qaswarah (QS 74:51). Ini contoh kosa kata yang berasal dari Habasyah (Ethiopia).

Imam Qurthubi juga menyebut al-Ghassaq (QS 38:57) dari Turki, Qisthas (QS 17:35) dari Romawi. Sijjil (QS 21:104) dari Persia. Dan contoh-contoh lainnya.

Imam Qurthubi kemudian mengutip Ibn ‘Athiyyah yang mengatakan: “hakikatnya adalah kosa kata tersebut asing namun orang Arab telah menggunakannya dan mengarabkannya. Jadi kosa kata itu juga dianggap bahasa Arab.”

Mungkin untuk memahami penjelasan di atas kita bisa lihat sendiri dengan bahasa Indonesia yang seringkali telah bercampur dengan bahasa asing dan kemudian kita gunakan sehari-hari dan menjadi bahasa Indonesia. Misalnya kata rakyat, musyawarah, wakil, tunggal, mutakhir, adil, introspeksi, dan lain sebagainya. Ada yang diserap dari bahasa Arab, Inggris, sanskrit, melayu dan lainnya.

Sekali lagi itu menunjukkan betapa dinamisnya bahasa itu.

Nah, satu hal yang tidak disebut dalam penjelasan kitab Tafsir al-Qurthubi di atas, ternyata ada juga bahasa Nusantara yang diadopsi dalam al-Qur’an.

‎إِنَّ الْأَبْرَارَ يَشْرَبُونَ مِنْ كَأْسٍ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا

Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur (QS 76: 5).

Sejak abad 4 Masehi (atau lebih awal lagi), kapur barus yang berasal dari daerah Barus di Sumatera telah terkenal di dunia Arab dan Asia. Maka itulah sebabnya al-Qur’an mengdopsi kata “kafur” ini. Al-Qur’an menyebutkan bahwa penduduk surga kelak akan minum dari mata air di surga yang airnya seputih, sewangi, dan sedingin kapur barus, tapi tidak rasa dan bahayanya.

Penjelasan di atas diperoleh dari Tafsir ar-Razi:

‎أَنَّ الْكَافُورَ اسْمُ عَيْنٍ فِي الْجَنَّةِ مَاؤُهَا فِي بَيَاضِ الْكَافُورِ وَرَائِحَتِهِ وَبَرْدِهِ، وَلَكِنْ لَا يَكُونُ فِيهِ طَعْمُهُ وَلَا مَضَرَّتُهُ

Dahulu kafur ini komoditi yang sangat mahal (konon seharga emas) dan dicari oleh banyak pihak. Kafur digunakan sebagai wewangian, bumbu masak, bahkan untuk obat-obatan. Di surga kelak, minuman yang dicampur dengan kafur inilah yang dihidangkan untuk orang-orang beriman. Kafur ini menjadi simbol kemewahan. Interaksi awal perdagangan antara wilayah Nusantara dengan dunia Arab bisa dilacak dari diserapnya kosa kata ini ke dalam tradisi Arab, sehingga turut pula masuk dalam bahasa al-Qur’an.

Saat ini kapur barus di tanah air dikenal dengan camphor atau kamper. Masih dipakai untuk wewangian di dalam lemari pakaian. University of Texas dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa kamper bisa menyembuhkan batuk, gatal-gatal di kulit, dan bisa pula membantu untuk menumbuhkan rambut untuk pria gundul, serta manfaat lainnya. Bahkan ada yg mencampurnya ke dalam teh untuk meraih efeknya. Namun para peneliti mengingatkan bahayanya bila konsumsinya tidak terkontrol.

Sampai di sini kita menyadari bahwa bukan saja relasi antara Nusantara dengan Arab sudah terjadi sebelum masa turunnya wahyu al-Qur’an, tapi juga begitu dinamisnya bahasa (dan juga budaya) itu. Kosa kata Arab diserap dalam bahasa Indonesia, sementara kosa kata dari Nusantara malah diadopsi dan diabadikan dalam al-Qur’an.

Tabik,

Nadirsyah Hosen

Nadirsyah Hosen

Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School. Juga Pengasuh PonPes Ma'had Aly Raudhatul Muhibbin, Caringin Bogor pimpinan DR KH M Luqman Hakim.

This Article Has 13 Comments
  1. Iwan ibnu syarijan Reply

    Tiap kali membaca tulisan2 Prof Nadhir… Sll ada yg baru dlm memahami dn menerima ilmu yg sangt bermanfaat untuk kehidupan hr ini dn jg kehidupan mendatang… Yaitu alam akhir… Smg Prof bisa istiqomah dlm membimbing ummat ini memahami problem kehidupan yg semakin menantang…

  2. MUHAMMAD ASRORI AS Reply

    Abu Ubaid Qasim ibn Salam dan jawaliqi adalah sebagian dari para ulama’ yg setuju terhadap pendapat tentang adanya kata serapan dalam Al Qur’an itu.
    Adapun imam Syafi’i dan ibn Faris termasuk dari golongan para ulama’ yg tdk setuju terhadap keberadaan kata serapan tsb.

  3. Muhammad Ulil Abshor Reply

    MasyaaAllaah Gus. I Love you…

  4. Pingback: Gus Nadir: Kosa Kata dari Nusantara di Dalam Al-Qur’an | The Truly Islam

  5. benny Reply

    Trimakasih Prof atas tulisan tulisannya yang memudahkan orang awam seperti saya semakin memahami tentang Islam. Smoga Prof slalu sehat utk terus berkarya mencerdaskan orang lain. Salam..

  6. Alfaqir ila rahmatillah Reply

    Luar biasa tulisan Gus nadir ini, saya selalu mendapatkan sesuatu yg baru bila membaca tulisan2 anda. Cumn ini Gus ada yg ganjel pd : ”
    ‎لَا خِلَافَ بَيْنَ الْأَئِمَّةِ أَنَّهُ لَيْسَ فِي الْقُرْآنِ كَلَامٌ مُرَكَّبٌ عَلَى أَسَالِيبَ غَيْرِ الْعَرَبِ، brarti kan hrs ada tambahan kata ” tidak”. bahwa tidak ada perbedaan pendapat bahwa al-Qur’an TIDAK berisikan kata yang disusun dari term dan nama yang berasal dari non Arab. 

  7. Akmaluddin Reply

    Artikelnya tetap menarik Prof, meski sebelumnya pernah dimuat pada Oktober 2014 dg topik yg sama (lihat archive.rimanews.com dengan judul artikel “Ini satu-satunya Ayat Al-Qur’an yang Meminjam Kosakata Indonesia).

    Sy sependapat bahwa bahasa dan budaya memiliki karakteristik yg dinamis sehingga akulturasi pd keduanya menjadi suatu keniscayaan. Terlebih pd bahasa, bahwa tdk ada bhs di dunia ini yang bisa berdiri sendiri sehingga harus meminjam, mengadaptasi, bahkan mengadopsi bhs lain untuk memperkaya kosakatanya.

    Jika dilihat dari angka tahun, bhs Indonesia secara resmi disebut pd peristiwa Sumpah Pemuda th 1928 (abad ke sembilan belas) meski cikal bakalnya yaitu bhs Melayu sudah digunakan sejak kerajaan Sriwijaya (abad ketujuh).

    Perlu kajian lebih mendalam apakah kata kafur pd ayat tersebut berasal dr bhs Nusantara yg dipakai sejak abad ketujuh, sementara org2 Mesir kuno pada ribuan tahun Sebelum Masehi sudh menggunakan kafur untuk berbagai keperluan. Interaksi bangsa Mesir dg bangsa Arab pun sudah terjalin jauh sebelum datangnya pedagang dr Arab ke Nusantara.

    Dengan demikian, menurut hemat saya sangat memungkinkan kata kafur pd ayat tersebut ‘dipinjam’ dr bhs dan budaya orang Mesir yg kemudian diadaptasi oleh bhs Nusantara.
    Wallahu a’lam…

  8. Akmaluddin Reply

    Artikelnya tetap menarik Prof, meski sebelumnya pernah dimuat pada Oktober 2014 dg topik yg sama (lihat archive.rimanews.com dengan judul artikel “Ini satu-satunya Ayat Al-Qur’an yang Meminjam Kosakata Indonesia).

    Sy sependapat bahwa bahasa dan budaya memiliki karakteristik yg begitu dinamis sehingga akulturasi pd keduanya menjadi suatu keniscayaan. Terlebih pd bahasa, bahwa tdk ada bhs di dunia ini yang bisa berdiri sendiri sehingga harus meminjam, mengadaptasi, bahkan mengadopsi bhs lain untuk memperkaya kosakatanya.

    Jika dilihat dari angka tahun, bhs Indonesia secara resmi disebut pd peristiwa Sumpah Pemuda th 1928 (abad ke sembilan belas) meski cikal bakalnya yaitu bhs Melayu sudah digunakan sejak kerajaan Sriwijaya (abad ketujuh).

    Perlu kajian lebih mendalam apakah kata kafur pada ayat tersebut berasal dr bhs Nusantara yg dipakai sejak abad ketujuh. Sementara itu, org2 Mesir kuno pada ribuan tahun Sebelum Masehi sudh menggunakan kafur untuk berbagai keperluan. Interaksi bangsa Mesir dg bangsa Arab pun sudah terjalin jauh sebelum datangnya pedagang dr Arab ke Nusantara.
    Dengan demikian, menurut hemat saya sangat memungkinkan kata kafur pd ayat tersebut ‘dipinjam’ dr bhs dan budaya orang Mesir yg kemudian diadaptasi oleh bhs Nusantara.
    Wallahu a’lam…

  9. Akmaluddin Reply

    Artikelnya tetap menarik Prof, meski sebelumnya pernah dimuat pada Oktober 2014 dg topik yg sama (lihat archive.rimanews.com dengan judul artikel “Ini satu-satunya Ayat Al-Qur’an yang Meminjam Kosakata Indonesia).

    Sy sependapat bahwa bahasa dan budaya memiliki karakteristik yg dinamis sehingga akulturasi pd keduanya menjadi suatu keniscayaan. Terlebih pd bahasa, bahwa tdk ada bhs di dunia ini yang bisa berdiri sendiri sehingga harus meminjam, mengadaptasi, bahkan mengadopsi bhs lain untuk memperkaya kosakatanya.

    Jika dilihat dari angka tahun, bhs Indonesia secara resmi disebut pd peristiwa Sumpah Pemuda th 1928 (abad ke sembilan belas) meski cikal bakalnya yaitu bhs Melayu sudah digunakan sejak kerajaan Sriwijaya (abad ketujuh).
    Perlu kajian lebih mendalam apakah kata kafur pada ayat tersebut berasal dr bhs Nusantara yg dipakai sejak abad ketujuh. Sementara itu, org2 Mesir kuno pada ribuan tahun Sebelum Masehi sudh menggunakan kafur untuk berbagai keperluan. Interaksi bangsa Mesir dg bangsa Arab pun sudah terjalin jauh sebelum datangnya pedagang dr Arab ke Nusantara. Dengan demikian, menurut hemat saya sangat memungkinkan kata kafur pd ayat tersebut ‘dipinjam’ dr bhs dan budaya Mesir yg kemudian diadaptasi oleh bhs Nusantara.
    Wallahu a’lam…

  10. Rukma Reply

    Assalamu’alaikum, Gus.

    Mohon penjelasan, dari mana kita tahu bahwa kapur itu adalah bahasa asli Nusantara. Apakah semata-mata karena asalnya yang dari Sumatra kemudian namanya ikut terbawa pedagang hingga masuk dalam Al Quran? Ataukah, malah terbalik, kapur itu istilah yang kita serap dari Al Quran?

    Berhubung saya bukan orang linguistik, saya masih saja bingung tentang etimologi, bagaimana bisa mengetahui asal-usul suatu kata yang sudah ada sejak ribuan tahun lalu.

    Terima kasih. Wassalamualaikum Wr. Wb.

  11. Didik .J M Reply

    Sebenarnya pembahas asal muasal bahasa itu bagus. Ttp biarkan itu untuk perbendaharaan para peneliti dan para ahli bidang bahasa. Bagi kita (muslim) pemahaman terhadap makna yg terkandung dlm Al Quran lebih penting, mengingat dari situlah rujukan kehidupan kita dr alam kandungan ibu, dunia, alam kubur, hingga alam akhir nanti.

  12. Ahmad Faisholi Reply

    maaf prof,mhn koreksi,mnurut saya,terjemahan singkat penjelasan tafsir Qurthubi di atas(khususnya yg awal) adalah”Tdk ada perbedaan/pertentangan diantara para Imam(ulama besar dri brbgai disiplin ilmu) bhw tdk ada kalimat di dlm Al-Qur’an yg tersusun dari uslub slain bahasa arab.mskipun mmng di dlm nya trdpt nama2 yg di ketahui bkn dari bahasa arab(isim alam).spt isrofil,jibril,dst.sdngkn mengenai adanya”kosa kata” dari bahasa lain,para imam/ulama berbeda pendapat….”.soal kata”kafur” di dlm Al Qur’an,sblm ini sya sdh pernah baca tulisan yg mmbhs ttng itu.apakah mmng bnr itu asli dari Indonesia?mengingat bangsa Indonesia itu adanya belakangan.jgn2 kata”kafur” ada jg di dlm kitab Nabi2 trdahulu.jgn sampai ada org bilang bhw Al Qur’an itu”Kalam Budaya”,bkn”Kalam Ilahi”.wallohu a’lam bisshowab…

  13. Jauhari Umar Reply

    Assalamu’alikum Gus Nadir. Mohon izin share tulisannya di website nusantarainstitute.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.