Gus Nadir

Mengkaji ISLAM Kontekstual bersama

Gus Nadir

Islam Enjoy Logo
Filsafat

Penalti Kehidupan

Dalam babak perempat final Piala Dunia tahun 1990 terjadi adu penalti antara Argentina dan Yugoslavia. Juara bertahan Argentina Lolos dengan skor 3-2. Tapi sang kapten, Diego Armando Maradona, yang disebut-sebut saat itu sebagai pemain terhebat sejagad raya, ternyata melakukan kesalahan fatal dalam adu penalti. Tembakannya ke arah kanan gawang terlalu lemah dan mudah ditebak kiper Yugoslavia. Hampir saja Argentina tersingkir saat itu akibat kegagalan sang maestro.

Semua pemain top dunia pernah mengalami kegagalan dalam menendang penalti. John Terry, sang kapten, memupus kesempatan Chelsea memenangkan piala champions tahun 2008 akibat kegagalannya menendang penalti. David Beckham juga pernah gagal. Fransesco Totti juga demikian. Bahkan Lionel Messi dan Christiano Ronaldo juga beberapa kali gagal melakukan tendangan penalti.

Kita tidak meragukan bahwa mereka para pemain bertalenta tinggi, dengan skill yang luar biasa, dan mental juara yang begitu kokoh serta dukungan fans yang dahsyat. En toch mereka bisa gagal juga dalam momen yang menentukan.

Begitu juga dengan kita. Boleh jadi kita berhadapan dengan situasi 50-50 dimana kita harus memilih dan ketika kita sudah memilih mengarahkan bola, ternyata hasilnya meleset dan keberhasilan yang sudah di depan mata melayang jauh. Dari kegagalan para superstar bola di atas, kita belajar memaknai kesuksesan. Orang sukses bukanlah orang yang tidak pernah gagal; bukan orang yang tidak pernah keliru memilih jalan; bukan orang yang tidak pernah terpeleset jatuh. Orang sukses adalah orang yang tidak pernah menyerah dan setiap kali jatuh selalu siap untuk bangun lagi. Orang sukses itu tidak baper. Mereka punya seribu nyawa untuk muncul kembali.

Dan seperti juga kegagalan Diego Maradona tahun 1990 itu, ada banyak penonton yang mencemooh dan menertawakan bahkan gembira dengan kegagalannya. Para penonton itu seolah merasa mereka lebih hebat menendang bola daripada Maradona. Mendadak Maradona aja digoblok-goblokin.

Begitu juga dengan kelemahan, kegagalan, dan jatuhnya kita. Akan ada banyak orang yang mencemooh, menjauh bahkan terus membicarakan hal tersebut dimana-mana, pada setiap kesempatan, dan mereka selalu fokus pada sisi negatif kita. Namun saya beri tahu satu hal padamu kawan….orang-orang tersebut akan terbelalak melihat kita yang selalu bangun disetiap kita jatuh, melawan cemoohan dengan berbagai prestasi, dan menjawab berbagai serangan dengan terus melangitkan doa dan cinta kita. Orang-orang tersebut akan sulit tidur melihat ternyata ‘kite kagak ada mati-matinyee….’ 🙂 🙂

Tabik,

Nadirsyah Hosen

Nadirsyah Hosen

Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School. Juga Pengasuh PonPes Ma'had Aly Raudhatul Muhibbin, Caringin Bogor pimpinan DR KH M Luqman Hakim.