1. Filsafat

Buka Dulu Topeng Kepalsuan dan Kemunafikan Dirimu

Clark Kent adalah seorang reporter yang terlihat lugu dan pemalu. Ia juga terkesan serius dengan kacamata yang dipakainya. Tapi sebenarnya ia adalah sosok pahlawan yang menjaga bumi. Tidak banyak yang tahu bahwa ia adalah Superman. Begitulah caranya penulis komik Superman mengaburkan identitas Superman dalam sosok Clark Kent yang bekerja dan berinteraksi sehari-hari sebagaimana layaknya manusia biasa. Kacamata yang dipakai Clark Kent adalah asesoris yang dipakai untuk menyamarkan jati dirinya.

Ini berbeda dengan Bruce Wayne, seorang pengusaha kaya dan playboy, yang menutupi identitasnya sebagai Batman. Bruce mengenakan topeng khusus saat beraksi sebagai Batman yang menjaga perdamaian di bumi. Topeng yang dikenakan Bruce menutupi 3/4 wajahnya. Hanya mulut dan dagunya saja yang masih kelihatan.

Lantas bagaimana dengan Peter Parker, anak SMU yang yatim piatu dan hidup bersama tantenya? Peter memiliki rahasia dahsyat. Ia adalah Spiderman, sang pembela kebanaran dan keadilan. Bagaimana ia menyembunyikan identitasnya? Peter mengenakan topeng yang menutupi seluruh wajahnya.

Para orang-orang pilihan dalam komik (dan juga film) di atas menyembunyikan identitasnya dari mulai mengenakan kacamata, topeng yang hanya menyisakan mulut dan dagu, hingga topeng yang menutupi seluruh wajah. Dengan demikian, mereka hidup dalam alam yang berbeda: sebagai manusia biasa dan sebagai orang pilihan.

Bagaimana dengan para kekasih Allah? Langkah pertama yang Allah bukakan kepada mereka yang menjadi kekasihNya adalah berbagai aib dan kelemahan diri mereka sendiri. Ini membuat mereka harus membongkar berbagai topeng diri mereka. Mereka disibukkan dengan memperbaiki amalan diri. Kalau ada orang yang mengaku telah mencapai makam hakekat atau ma’rifat, tapi kelakuannya sibuk ‘membaca’ aib orang lain dan senang ‘membuka’ berbagai keajaiban yang ia alami, berhati-hatilah….ia sejatinya tengah terpesona dengan hal-hal yang tidak substansial yang justru bisa memalingkannya dari perjalanan menuju Allah.

Ibaratnya seperti Gus Ja’far, yang diceritakan dalam cerpen KH A Mustofa Bisri, yang asyik membaca berbagai tanda di kening orang lain sampai ia kena batunya. Orang seperti Gus Ja’far ini celakanya juga bertebaran di media sosial. Bagaimana Allah akan menitipkan rahasiaNya lebih banyak lagi, kalau baru terpercik saja engkau sudah koar-koar dan asyik menikmati percikan itu?

Ariel Perterpan pernah bernyanyi “buka dulu topengmu biar kulihat warnamu”. Namun untuk para salik, lagu itu bisa dimaknai sebagai “bukalah topeng kepalsuan dirimu untuk memperbaiki amalanmu”. Tidak berhenti hanya sampai di situ, setelah habis kau cabik-cabik topeng yang menjadi penghalang dirimu merasakan cahaya ilahi, maka selanjutnya kenakanlah kacamata Superman, Topeng 3/4nya Batman atau Penutup kepala dan wajahnya Spiderman, agar tidak ada orang yang tahu bagaimana kedudukanmu di sisiNya.

Sembunyikanlah berbagai rahasia yang Allah telah berikan padamu, hingga Dia terus mempercayaimu untuk menerima lebih banyak lagi rahasia ilahi. Nabi Muhammad pun “menyembunyikan” dirinya di dalam gua hira. Sampai ke rumahpun Nabi masih masuk “bersembunyi” dalam selimut, hingga turun perintahNya:

1). Hai orang yang berkemul (berselimut), 2). Bangunlah, lalu berilah peringatan! 3). Dan Tuhanmu agungkanlah! 4. Dan pakaianmu bersihkanlah, 5). Dan perbuatan dosa tinggalkanlah, 6). Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. 7). Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah .(QS.Al-Mudatsir-1-7)

Tabik,

 

Nadirsyah Hosen

Contributor
Tidak Ada Komentar
Berikan komentar Batal
Comments to: Buka Dulu Topeng Kepalsuan dan Kemunafikan Dirimu

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Attach images - Only PNG, JPG, JPEG and GIF are supported.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Login


Khazanah GNH

Komunitas Santri Gus Nadirsyah Hosen

Global Nalar Hakekat
Kompleksitas persoalan kehidupan di abad modern ini meniscayakan terbentuknya sebuah komunitas, dimana anggota dari berbagai latarbelakang agama dan budaya, bisa saling belajar layaknya para santri, di sebuah rumah virtual bersama: Khazanah GNH

Khazanah GNH
Komunitas santri yang berwawasan global, mengindentifikasi beragam persoalan dan isu-isu aktual, dengan mengembangkan nalar yang sehat, bukan atas dasar keberpihakan politik sesaat, tapi melalui diskusi (kajian dan ngaji) akan hakikat kemanusiaan dan kehidupan. Dengan cara ini peradaban manusia yang tercabik-cabik dirajut kembali dengan keluhuran budi dan qalbu guna menebar rahmat dan kasih sayang pada semesta.”

Sudah terdaftar?