Pekak‘ itu tuli. Ini soal telinga. Tapi ‘peka‘ itu mudah merasa. Ini soal hati. Orang yang pekak tidak mendengar suara apapun, tapi ia masih bisa mendengar suara hatinya. Orang yang tidak peka, telinganya masih bisa mendengar namun nuraninya sudah tertutup.

Iwan Fals pernah bersenandung: “Nyanyian jiwa haruslah dijaga. Mata hati haruslah diasah.” Mereka yang jiwanya selalu bernyanyi, jiwanya tetap hidup dan akan mudah merasakan apa yang dialami dan dirasakan oranglain. Mereka yang selalu mengasah mata hatinya akan bisa melihat apa yang tersembunyi atau disembunyikan.

Ini alinea ketiga. Kata guruku, Mbah Candra Malik, menulis tiga alinea saja, selebihnya akan membosankan. Maka aku pun peka mendengar maksud hatinya. Bukankah ada orang yang telah Allah tutup hati, pendengaran dan penglihatannya, sehingga sama saja mau ditulis panjang lebar pun dia akan tetap gagal paham. Kadang kita harus ‘peka’ pada mereka yang memilih untuk ‘pekak’.

Tabik,

Nadirsyah Hosen
*merasakanMu adalah caraku mendengarMu*

Contributor
Reaksi visitor pada artikel ini.
Tampilkan komentar Sembunyikan komentar
Comments to: Kepekaan
  • 12 November 2018

    Alhamdulillah..mksh pencerahannya

    Reply
Write a response

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Attach images - Only PNG, JPG, JPEG and GIF are supported.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Login


Khazanah GNH

Komunitas Santri Gus Nadirsyah Hosen

Global Nalar Hakekat
Kompleksitas persoalan kehidupan di abad modern ini meniscayakan terbentuknya sebuah komunitas, dimana anggota dari berbagai latarbelakang agama dan budaya, bisa saling belajar layaknya para santri, di sebuah rumah virtual bersama: Khazanah GNH

Khazanah GNH
Komunitas santri yang berwawasan global, mengindentifikasi beragam persoalan dan isu-isu aktual, dengan mengembangkan nalar yang sehat, bukan atas dasar keberpihakan politik sesaat, tapi melalui diskusi (kajian dan ngaji) akan hakikat kemanusiaan dan kehidupan. Dengan cara ini peradaban manusia yang tercabik-cabik dirajut kembali dengan keluhuran budi dan qalbu guna menebar rahmat dan kasih sayang pada semesta.”

Sudah terdaftar?