Gus Nadir

Mengkaji ISLAM Kontekstual bersama

Gus Nadir

Islam Enjoy Logo
Santai

Dialog Seru Soal Thawaf dengan Lukman Hakim Saifudin

Saya mengirimi tulisan pendek saya (lihat link) ke mantan Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin. Beliau meninggalkan legasi moderasi beragama di Kemenag, dan kebetulan tulisan saya memberi contoh soal sikap moderasi tsb.

Dengan seijin beliau, saya kemas ulang dialog seru tapi santai ini:

Mas Lukman: Alhamdulillah.. Ini bagian penting dari promosi Moderasi Beragama yg baik sekali 👍🌷👌

Sekedar pinisirin, apakah syariat tawaf itu eksplisit dinyatakan *berjalan* memutari ka’bah, atau hanya memutari saja?

Nadir: Dalam kitab fiqh seingat saya:

أن يطوف ماشيا مع القدرة على المشي

Ini disepakati oleh jumhur ulama. Sedangkan mazhab syafi’i membolehkan naik hewan saat thawaf. Kalau uzur, ya boleh digendong atau pakai kursi roda.

Mas Lukman: Prakteknya, di lantai III Masjidil Haram, banyak yg tanpa uzur bertawaf dg skuter berbayar yg disediakan resmi oleh Pemerintah Saudi..

Apakah kini ‘kita’ kalah liberal dg ulama Saudi? 🤪🙈🤣

Nadir: Setahu saya syekh Utsaimin juga mewajibkan jalan saat thawaf. Atau jangan2 ta’mir masjidil haram itu ikut mazhab syafi’i yg bilang boleh berjalan dan boleh naik kendaraan?

*gak mau bilang liberal, entar kena tuduh liberal juga hahhahaha

Mas Lukman: Seingat saya, dalam film Ar-Risalah (The Message) Musthafa Akkad, yg konon berdasar riset tahunan, ada yg bertawaf dg menunggang onta di era Rasul..

*Btw, sejak kapan film jadi rujukan dalam proses istimbath.. 😅

Nadir: Memang ada haditsnya Rasul saat berthawaf naik onta. Itu sebabnya mazhab syafi’i membolehkan. Tapi 3 mazhab lain mengatakan saat itu ada hajat yaitu Rasul hendak melihat, mengatur dan memimpin jamaah. Kalau jalan gak kelihatan.

Tapi naik kendaraan dg lantai muter sendiri sama gak yah? Hehehhe

Btw, njenengan masih pakai emoticon yah? Belum pakai sticker wa? Duh, ndeso!

**
Mas Lukman langsung membalas dengan mengirim sticker gambar dirinya sambil tertawa. Mulai keluar koleksi sticker beliau setelah saya bilang ndeso 😄

Mas Lukman: Naik kendaraan, kursi roda, ditandu, lantai yg muter bergerak, semuanya sama saja. Intinya orangnya diam, yg bergerak adalah pijakan/dudukannya..

Nadir: Mgk kalau bahsul masail ada ulama yg bakal komen gini: Kalau naik kursi roda, yg berjalan kaki pendorong kursi. Kalau naik onta, yang berjalan kakinya onta. Kalau digendong, yg berjalan kakinya yg gendong.

Tapi kalau lantainya muter pakai mesin, kaki siapa yg jalaaannn tak iyeee 😊

Mas Lukman: hahahhaha
Eh, tapi sampeyan sudah pernah dengar orang Madura tawaf mundur?

Nadir: Belum. Gimana?

Mas Lukman: Suatu saat, seorang jemaah haji Madura terpisah dari rombongannya bertawaf sambil mundur.
Lalu ditegur petugas haji: ” Mas, sampeyan kok tawafnya jalan mundur, kenapa?”

Si Madura jawab: “Saya baru ingat, setelah saya tung-hitung, ternyata tawaf saya 8 putaran. Jadi terpaksa saya sekarang harus mundur untuk menghapus kelebihan 1 putaran. Semoga Gusti Allah maklum..”.

Madura kok dilawaaann..

💪💪💪💪💪
😄😄😄😄😄

Begitulah dialog saya dg Mas Lukman dari soal fiqh, film sampai dengan guyonan madura. Semoga bisa menemani di sela-sela kesibukan kawan2 semua.

Tabik,

Nadirsyah Hosen

Nadirsyah Hosen

Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School. Juga Pengasuh PonPes Ma'had Aly Raudhatul Muhibbin, Caringin Bogor pimpinan DR KH M Luqman Hakim.