Peluang itu kadang datang dengan tiba-tiba. Pertanyannya: sejauhmanakah kita sudah menyiapkan diri ketika peluang itu tiba? Mereka yang terus melatih dan memperbaiki diri akan selalu siap, tapi mereka yang baru bersiap di saat peluang datang sudah pasti kalah cepat mengambil peluang itu.

Tak ada peluang tanpa persiapan, maka sebelum anda mengeluh bahwa tak ada peluang yang terbuka, lihatlah diri sendiri: sejauhmana persiapan anda?

Saya sering ditanya soal peluang beasiswa. Dulu saya berbusa-busa menjelaskannya, sekarang saya akan tanya balik: ceritakan dulu sejaumana anda persiapkan diri anda untuk bertarung mendapat beasiswa? Cerita anda itu akan mengindikasikan sedetil dan sejelas apa saya harus menerangkan peluang beasiswa itu. Biasanya banyak yang gelagapan ditanya balik seperti ini.

Berbahagialah mereka yang punya pilihan dalam menyambut peluang. Saya dulu diterima di 8 universitas luar negeri untuk mengambil program PhD. Saya masih simpan semua berkasnya untuk saya tunjukkan pada anak saya. Dari 8 universitas itu 3 menawarkan beasiswa, hampir saja ketiganya saya ambil semua, namun saya putuskan memilih dua program PhD yg berbeda di dua kampus berbeda pada dua negara berbeda yang semuanya saya kerjakan dalam waktu yang bersamaan. Alhamdulillah!

Pilihan dalam hidup tentu penuh resiko. Saya bisa gagal dua-duanya atau sukses keduanya. Mereka yang takut dengan resiko sebaiknya diam saja di rumah sambil main catur. Ragu-ragu? Mundur saja!

Di sini pentingnya kita untuk mampu bertahan dalam perubahan. Jangan dikira hidup saya tidak jungkir balik karena mengerjakan dua program doktor di dua negara yang berbeda. Siapapun yang tengah menjalani program PhD di luar negeri tahu bahwa menyelesaikan satu saja sudah ancur-ancuran. Tapi saya bertahan, dan saya atur hidup saya sedemikian rupa untuk menjalaninya.

Kemampuan untuk bertahan mengikuti perubahan –baik dan buruk– itu yang tidak semua orang punya. Anda boleh saja pintar tapi kalau anda tidak bisa mengikuti alur perubahan hidup maka anda akan terperosok dalam kubangan kepintaran anda sendiri. Percayalah, pintar saja tidak cukup untuk berhasil.

Mereka yang tidak tahan menderita jangan harap bisa merasakan nikmatnya kesuksesan. Mereka yang cuma mengeluh tidak akan tahan berpeluh. Mereka yang kerap meratap akan gamang menatap masa depan.

Iya, semua 4P di atas akan berujung pada 1S yaitu Sukses. Tapi anda jangan keliru: sukses itu sebuah proses bukan hasil akhir. Banyak yang terjebak berdebat apakah gelas itu berisi setengah penuh atau setengah kosong. Orang pesimis akan bilang setengah kosong. Orang optimis akan bilang gelas itu setengah penuh. Tapi orang yang berpikir strategis akan berkata: mau penuh atau kosong, gelas itu bisa terus di-isi, bahkan sudah penuh pun bisa terus diganti dengan gelas lain yang lebih besar. Anda jangan semata fokus pada tinggi-rendahnya air.

Selamat mengisi gelas air kehidupan kita dengan melakukan Persiapan untuk menjemput Peluang, menetapkan Pilihan terbaik, dan siap untuk beradaptasi dengan Perubahan, demi Sukses yang dinanti.

Salam hangat,

Nadirsyah Hosen
Santri peraih 2 gelar PhD dan orang Indonesia pertama dan satu-satunya yang 2 kali diangkat jadi dosen tetap pada Fakultas Hukum di Australia

 

Tidak Ada Komentar
Berikan komentar Batal
Comments to: 4P = Persiapan, Peluang, Pilihan dan Perubahan + 1S = Sukses

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Attach images - Only PNG, JPG, JPEG and GIF are supported.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Login


Khazanah GNH

Komunitas Santri Gus Nadirsyah Hosen

Global Nalar Hakekat
Kompleksitas persoalan kehidupan di abad modern ini meniscayakan terbentuknya sebuah komunitas, dimana anggota dari berbagai latarbelakang agama dan budaya, bisa saling belajar layaknya para santri, di sebuah rumah virtual bersama: Khazanah GNH

Khazanah GNH
Komunitas santri yang berwawasan global, mengindentifikasi beragam persoalan dan isu-isu aktual, dengan mengembangkan nalar yang sehat, bukan atas dasar keberpihakan politik sesaat, tapi melalui diskusi (kajian dan ngaji) akan hakikat kemanusiaan dan kehidupan. Dengan cara ini peradaban manusia yang tercabik-cabik dirajut kembali dengan keluhuran budi dan qalbu guna menebar rahmat dan kasih sayang pada semesta.”

Sudah terdaftar?