Mari kemari kawan, dengarkan dua kisah nyata yang hendak saya ceritakan ini.

**

Kisah pertama terjadi di Jakarta tahun 1996. Seorang ibu yang sudah masak opor ayam di malam lebaran terbangun jam 3 pagi untuk tahajud. Saat mau berwudhu melintasi dapur terkejutlah dia melihat opor yang lupa dia masukkan ke dalam kulkas. Basi! Ya semuanya basi dengan bau yang sudah tidak enak, padahal beberapa jam lagi akan idul fitri dan anak-anak serta keluarganya akan datang selepas shalat ied.

Selepas tahajud, ibu ini berdoa sambil tersedu: “Ya Allah hamba memasak untuk keluarga hamba di akhir Ramadan. Namun akibat kelalaian hamba, makanan menjadi basi. Hamba ikhlas bila ini ketentuanMu. Ampuni hamba, dan sayangilah keluarga hamba yang kelak akan berkumpul menikmati opor ayam. Hamba serahkan padaMu Ya Allah”

Selepas shalat ied pagi itu keluarga besar berkumpul bermaaf-maafan dan hendak menikmati opor ayam buatan sang ibunda. Ibu itu hanya diam ketika anak-anaknya menyerbu dapur mencari opor ayam. Terdengar teriakan bahagia mereka. Ibu itu terkejut dan tidak mengerti: wangi opor ayam begitu semerbak di dapur, semuanya terasa fresh dan menggoda selera. Ya Allah…apa yang terjadi?

**

Kisah kedua, sekitar tahun 2011 di sebuah kota di Australia. Acara halal bi halal masyarakat Indonesia akan dihadiri Bapak Konsul Jenderal (Konjen) RI. Panitia sibuk menyiapkan makanan. Ibu-ibu berkontribusi dengan caranya masing-masing. Namun ada satu Ibu yang merasa paling jago masak dan berlagak seperti bos.

Banyak ibu-ibu yang terluka hatinya karena disuruh semena-mena oleh orang ini. Tidak ada apresiasi sama sekali. Pokoknya dia yang harus tampil di depan; yang lain di belakang. Maka tiba saat Pak Konjen dpersilakan menikmati hidangan, Ibu ini langsung berkata: “Pak Konjen, semua masakan ini saya yang masak lho!” Tidak sedikitpun dia mau mengakui hasil kerja ibu-ibu lainnya.

Apa yang terjadi? Saat Pak Konjen mau mengambil makanan, semua hidangan tercium bau basi. Tidak ada yang bisa dimakan. Semua tidak mengerti apa yang terjadi. Bagaimana bisa makanan yang terhidang tiba-tiba basi semua dengan bau yang menyengat.

**

Mari kemari kawan, ku bisikkan padamu rahasia semuanya: ikhlas!

Siapa yang ikhlas meski hanya memasak untuk keluarga, Allah tunjukkan kuasaNya. Siapa yang tidak ikhlas, Allah akan tunjukkan pula kuasaNya. Ikhlas adalah koentji meraih ridhaNya apapun aktivitas yang kita lakukan. Konon ikhlas itu seperti surat al-Ikhlas yang tidak ada kata ikhlas di dalamnya.

Tabik,

Nadirsyah Hosen

Contributor
Tidak Ada Komentar
Berikan komentar Batal
Comments to: Ikhlas itu Koentji

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Attach images - Only PNG, JPG, JPEG and GIF are supported.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Login


Khazanah GNH

Komunitas Santri Gus Nadirsyah Hosen

Global Nalar Hakekat
Kompleksitas persoalan kehidupan di abad modern ini meniscayakan terbentuknya sebuah komunitas, dimana anggota dari berbagai latarbelakang agama dan budaya, bisa saling belajar layaknya para santri, di sebuah rumah virtual bersama: Khazanah GNH

Khazanah GNH
Komunitas santri yang berwawasan global, mengindentifikasi beragam persoalan dan isu-isu aktual, dengan mengembangkan nalar yang sehat, bukan atas dasar keberpihakan politik sesaat, tapi melalui diskusi (kajian dan ngaji) akan hakikat kemanusiaan dan kehidupan. Dengan cara ini peradaban manusia yang tercabik-cabik dirajut kembali dengan keluhuran budi dan qalbu guna menebar rahmat dan kasih sayang pada semesta.”

Sudah terdaftar?