Ada pihak yang berperan untuk menenangkan umat. Ada yang ambil peran lain yaitu untuk memenangkan umat. Saya selalu ambil peran yang terakhir ini, yaitu bagaimana umat ini cerdas dan menang secara kualitas. Tidak sekedar bangga dengan jumlah. Term buih yang saya maksud ditujukan kepada kerumunan (cek lagi twit saya), bukan pada individu. Respon sebagian pihak itu seolah saya merendahkan kualitas individu yang berada di sana. Keliru!

Yang saya soroti adalah strategi pergerakan umat. Berkerumun itu membuat gerakan umat mudah terbaca, mudah diombang-ambingkan dan mudah dimanfaatkan. Ngurusi 1 orang saja kita harus mengeluarkan resources umat yang terbatas ini sampai ratusan miliar rupiah untuk 3 kali aksi, termasuk biaya pengamanan TNI/Polri.

Kita masih berupa kerumunan, belum strategis, taktis dan visioner. Yang disebut pemimpin umat sekarang adalah mereka yang lantang berteriak dan mengumpulkan kerumunan. Gak usah pakai dalil dan riset. Cukup bisa teriak mengumpulkan kerumunan maka dia dianggap pemimpin. Pada titik ini saya ingatkan lewat twit saya agar jangan berbangga dengan jumlah yang sudah diingatkan Nabi dengan istilah ‘bagai buih’. Kita harus mulai geser cara pandang dari kuantitas ke kualitas.

Mengenai hadis soal buih, sudah saya tulis penjelasannya dan dimuat di website ini. (https://nadirhosen.net/tsaqofah/tarikh/192-bagaikan-buih-semata)

Itu yang sebenarnya saya maksud. Saya bicara strategi pergerakan meningkatkan kualitas umat menegakkan kembali peradaban Islam yang porak-poranda.

Tapi bukankah yang hadir di monas juga banyak orang-orang yang berkualitas? Betul. Tapi sekali lagi yang saya soroti bukan individu tapi kerumunan-nya. Jadi saya tidak merendahkan para tokoh dan ulama yang hadir. Fokus saya pada strategi dan kualitas umat secara umum. Al-‘ibrah bi umumil lafz la bi khususis sabab. Ini bukan seperti yang disangka sebagian pihak: al-‘am urida bihi al-khas (kalimat kerumunan itu umum dan bermakna umum, bukan khusus ke individu).

Banyak netizen mencaci maki saya. Gak apaapa, saya terima. Perlu ada orang yang “tega” mengingatkan umat. Saya sediakan diri saya menjadi samudera yang menampung keluh kesah, sumpah serapah dan caci maki para buih. Mungkin ini caraNya Allah mengingatkan kita semua agar kita lebih taktis, stategis dan efektif membangun kembali peradaban Islam agar buih bisa berubah menjadi gelombang dahsyat 🙏 Amin Ya Rabbal ‘Alamin

Salam ta’zim dan mohon maaf,

 

Hamba Allah yang dha’if dan faqir
Nadirsyah Hosen


tweet1tweet2tweet3tweet4

Contributor
Reaksi visitor pada artikel ini.
Tampilkan komentar Sembunyikan komentar
Comments to: Klarifikasi Nadirsyah Hosen Soal Buih
  • 4 Desember 2016

    secara subtansi ga ada masalah mas,tp kadang faktor diluar itu yang jadi tambah mbulet..hal yang seharusya sederhana dan gampang dicerna akal menjadi bias.banyak hal yang menyebabkan terjadinya kesalahan pemahaman..kadang ada kepentingan lain yang mendorong sesama kita untuk saling curiga.
    fakta bahwa budaya membaca yang kurang ,kadang kita mau membaca tapi tidak utuh atau hanya sepotong ini yang menambah masalah semakin tidak fokus dan melebar kemana mana.sehingga susah menangkap pesan yang akan kita sampaikan.masih banyak kejadian saat kita baru baca judul dan tanpa membaca secara keseluruhan tulisan dan kita sudah berani menyimpulkan,lebih ajaibnya kesimpulan yang di ambil dari sebuah judul sudah berani kita sebar dengan framing sesuai dengan kehendak kita.
    satu lagi gus,kadang terbatasnya quota internet juga menjadi masalah saat kita malas membaca tulisan secara lengkap.seringnya sebuah cuitan dari twitter yang hanya menampung 140 an karakter dijadikan acuan dalam menilai dan mengambil sebuah kesimpulan…dan tentunya yang paling penting adalah memang kembali kepada sumber daya manusianya dalam menyikapi keadaan seperti ini.
    salam.

    Reply
  • 4 Desember 2016

    Kiranya akan selalu beginilah bila kita tdk bisa memakai baju di badan sendiri. Ada yg ilmunya baru 1/4 tapi sdh berani mendebat orang yg punya 3/4 ilmu, sdh hampir khatam/tamat. Ini demokrasi, tandasnya. Betul. Tapi alangkah bijaknya bila kita tahu diri.
    Sy teringat cerita tentang gajah. Si 1/4 mengatakan bahwa gajah itu bulat panjang dan kecil dengan 2 kaki. Padahal ia hanya berada dibelakang. Si 3/4 mengatakan tidak. Ia bulat besar dgn 4 kaki. Itu karena ia telah mengelilingi 3/4 badan gajah. Tp si 1/4 tetap ngotot tdk terima karena ia merasa sdh melihat gajah tanpa berusaha untuk menggeser sedikit posisinya. Padahal bila ia berusaha mencari tahu sedikit saja lagi, pastilah ia akan mengerti tentang gajah sesungguhnya, yang akan membuatnya semakin bijaksana. Tks.

    Reply
  • 4 Desember 2016

    Bagaimanapun anda salah, sudah sewajarnya anda mohon maaf dan menarik pernyataan kalau mereka yang berkumpul di Monash itu adalah buih. Terima kasih atas klarifikasinya.

    Reply
  • 4 Desember 2016

    Assalamu’alaikum Wr Wb

    Ketika kemarin membaca tweet profesor tentang buih saya adalaj trmasuk yh kecewa . terus terang saya berharap banyak kepada profesor untuk bisa membingbing umat tampa harus mengesampingkan. Saya juga berharap profesor mampu merangkul umat tampa harus memisahkan
    Dan saya juga berharap profesor mampu memberi pengertian tampa harus merendahkan.

    Dan mohon kiranya profesor mau memaapkan saya yg telah merasa kecewa di sebabkan kebodohanku dalam memahami maksud yg tertulis dalam tweet tweet profesor kemarin kemarin,

    Assalamua’alaikum warahmatullah wabarakatuh.

    Reply
  • 4 Desember 2016

    Lain kali mmg hrs hati2 ngetwit yg ter”kesan” merendahkan saudara2 seiman anda. Meski anda tdk setuju dng cara mrk berjuang. Mngkn ada baiknya tdk sinis thd saudara2 seiman yg sdng berjuang. Ketidaksetujuan anda dng cara2 saudara seiman anda berjuang, bkn kah ini sebuah perbedaan yg indah?. Dan bijaknya tak perlu menggurui mrk dng dalil yg mngkin mrk tdk yakini. Bijak sajalah menggunakan medsos. Dan ga perlulah gini hari msh ingin eksis.

    Reply
  • 4 Desember 2016

    Assalamualaikum,
    Secara kependudukan, umat Islam di Indonesia terhitung banyak. Kita bisa dengarkan suara adzan bersahut-sahutan dari segala arah. Dengan jumlah sedemikian banyak kita merasa belum ada kontribusi menonjol yang muncul dari keislaman umatnya. Kita masih merasakan jamban umum di hotel dan mall lebih terjaga kebersihannya dibanding tempat wudhu mushollanya. Hoax bertemakan foto pola huruf arab di tekstur random awan, hutan, sarang semut atau azan dari masjid yang sudah dinyatakan tutup menempati ranking atas dalam peredaran medsos.

    Islam mengajarkan kebersihan dan terus mendorong kita untuk berpikir. Demo 411, 212 dan yang sebelumnya menyadarkan umat Islam banyak hal. Satu dua muslim buang sampah atau injak taman sembarangan dapat terekspose untuk menodai umat Islam secara keseluruhan. Tiba-tiba banyak orang mendapat “hidayah” tentang banyaknya berita bohong yang beredar. Tiba-tiba saja banyak orang menjadi terbiasa bertabayun, cek dulu kebenaran berita sebelum forward begitu saja.

    Saya melihat dalam buih-buih yang terkonsentrasi itu memberi pelajaran massal pada umat yang begitu banyak. Suatu pelajaran yang tidak bisa kita dapatkan dari buih yang tercerai berai selama bertahun-tahun sebelumnya. Pada buih-buih yang terkonsentasi ini mulai terjadi defoaming, gelembung-gelembung kecil terpecah untuk menyatu dalam aliran yang insya Allah makin terarah. Wallahu Alam bisawab,
    Wassalamualaikum,
    Bambang Prastowo

    Reply
  • 4 Desember 2016

    Adalah sebuah tanda dimana manusia senang sekali disanjung dan dikatakan sebagai pemimpin, saat dimana manusia ingin sekali diperhatikan, saat dimana manusia ingin semua menunjukkan eksistensi. Tidak sedikit umat diperbudak oleh syahwat kebencian dan kedangkalan pemahaman. tidak sedikit umat dibutakan oleh Fanatisme sempit. Keadaan demikian Bukanlah sebuah kemajuan dari Peradaban. Peradaban saat ini adalah Bagaimana strategi ilmu diplomasi, ilmu politik diaktualkan untuk menguasai sebuah peradaban.

    Reply
  • 4 Desember 2016

    sebenarnya maksud gus Nadir bagus, cuman mungkin perlu timing, apalagi menghadapi sumbu pendek.. wis ya gus, santai aja.

    salam, Qulhu ae lek! kesuwen.. 😀

    Reply
  • 5 Desember 2016

    Hahaha … mpun Gus, mboten usah direken,. kersane lak sampun,. pokok njenengan tetep dengan niatan yang baik.,
    ndak cuma mereka yang mencaci koq yang baca wejangan njenengan…
    Seperti kata mas piyambakan, kulhu ae lik… 🙂

    Reply
  • 5 Desember 2016

    212.
    Yang hadir di Monas, dalam hitungan perseorangan adalah pribadi mulia dan beradab, bukan karena kayanya atau kedudukan duniawinya, merekalah pengusaha, dokter, dosen, bupati, profesional, tukang ojek, pedagang kaki lima, tuna netra, ibu rumah tangga, santri, fakir-miskin, dll yang tiba-tiba melebur dalam satu identitas: muslim. Merekalah berlian, bukan gelembung.

    Yang hadir di Monas, dalam hitungan kerumunan adalah kumpulan yang rapi, masif, dan beradab. Mereka mencintai negeri, terlihat dalam Indonesia Raya yang kolosal. Mereka mencintai agama, dalam takbir yang tak putus-putus. Mereka bukan kumpulan gelembung yang menjadi buih; manalah mungkin sekantung berlian dikatakan buih? Merekalah tulang sumsum kemuliaan.

    Hadis Nabi tidak salah. Yang Kanjeng Muhammad maksud dengan buih adalah justru kita-kita ini yang masih di luar. Banyak jumlahnya, terserak di sana-sini. Tanpa ikatan, kopong tanpa isi, terbang terikut angin, mudah pecah.

    Monas dan Monash semoga hanya beda 1 huruf h.
    Bukan yang merasa si buah menista yang disangka si buih.

    Reply
  • 5 Desember 2016

    Saya suka pemikiran anda. Saya muak dengan kerumunan. Baru sampai disini islam kita. Kalau dunia ada ditangan kita barulah saya akan terharu dan meneteskan air mata..karena itu artinya manual book kita berupa quran sudah berjalan seperti yg kita harapkan seperti halnya jaman kejayaan islam kita dulu..kalo sekarang tidak jaya jaya dan bisa dibilang islam jadi golongan terbelakang kita dak perlu sewot sama orang luar islam yg mampu menguasai dunia.

    Reply
  • […] 12. Klarifikasi saya soal cuitan buih aksi 212: https://nadirhosen.net/kehidupan/ummat/klarifikasi-nadirsyah-hosen-soal-buih […]

    Reply
Write a response

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Attach images - Only PNG, JPG, JPEG and GIF are supported.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Login


Khazanah GNH

Komunitas Santri Gus Nadirsyah Hosen

Global Nalar Hakekat
Kompleksitas persoalan kehidupan di abad modern ini meniscayakan terbentuknya sebuah komunitas, dimana anggota dari berbagai latarbelakang agama dan budaya, bisa saling belajar layaknya para santri, di sebuah rumah virtual bersama: Khazanah GNH

Khazanah GNH
Komunitas santri yang berwawasan global, mengindentifikasi beragam persoalan dan isu-isu aktual, dengan mengembangkan nalar yang sehat, bukan atas dasar keberpihakan politik sesaat, tapi melalui diskusi (kajian dan ngaji) akan hakikat kemanusiaan dan kehidupan. Dengan cara ini peradaban manusia yang tercabik-cabik dirajut kembali dengan keluhuran budi dan qalbu guna menebar rahmat dan kasih sayang pada semesta.”

Sudah terdaftar?