Agustus nanti akan ada sensus di Australia. Dan tiba-tiba isu afiliasi agama menjadi ramai. Salah satu pertanyaan dalam sensus tersebut adalah soal agama. Tidak wajib menjawab pertanyaan ini sebenarnya, dan juga tidak mengapa kalau hendak menjawab dengan memilih kolom ‘not defined’. Tapi kenapa kemudian ini jadi isu besar?

Bagi kelompok Muslim, beredar email dari tokoh Islam yang menganjurkan untuk tidak segan dan tidak takut mengisi kolom agama Islam dalam sensus. Sebagian kalangan Islam ketakutan kalau data tersebut akan dipakai untuk mengidentifikasi keislaman mereka oleh pemerintah. Di tengah isu rasial yang meningkat, mereka khwatir data itu bisa disalahgunakan. Pemerintah membantah hal tersebut dan berusaha meyakinkan kerahasiaan data itu. Lupakan teori konspirasi dalam hal ini.

Sementara itu tokoh Islam menganjurkan mengisi data sensus agar pemerintah tahu berapa sebenarnya jumlah umat Islam. Hasil sensus tahun 2011 umat Islam sekitar 2 persen. Para tokoh Islam percaya bahwa angkanya bisa lebih besar menjadi 4-5 % bila semua Muslim mau mengisi kolom tersebut. Ini penting agar kebijakan pemerintah tentang Islam bisa lebih berpihak karena konon di mata pemerintah angka 2 persen itu terlalu kecil untuk dipertimbangkan dalam berbagai kebijakan.

Namun beredar juga email dari kalangan Kristen fundamentalis yang menyarankan warga Australia untuk mengisi kolom tersebut dengan tidak menulis ‘no religion’. Alasan mereka, kalau semakin banyak yang memilih kolom ‘tidak beragama’ dan pada saat yang sama semua umat Islam memilih kolom sebagai Muslim, maka bisa saja Australia akan dideklarasikan sebagai negara Islam. Data sensus tahun 2011 menunjukkan Katolik diikuti sebanyak 25.3 % penduduk Ausie. Ini angka terbesar penganut agama di Australia. Kekhawatiran sebagian pihak bahwa data sensus akan menunjukkan umat Islam sebagai yang terbesar tentu tidak masuk akal. Tapi ya bagi kalangan fundamentalis manapun (baik Islam dan Kristen) mereka tidak butuh bukti rasional dan logis, yang mereka inginkan adalah menebar kekhawatiran dan menakut-nakuti adanya ancaman dari pihak lain.

Yang menarik, kalangan Ateis juga ikut berkampanye agar semakin banyak yang memilih kolom ‘tidak beragama’. Tahun 2011 ateis keluar sebagai pemenang kedua (22.3%). Alasan kelompok ateis untuk memperbesar angka sensus adalah agar pemerintah menghentikan bentuk subsidi kepada kelompok agama. Saat ini kata mereka, 22 persen orang ateis dipaksa menyupport kegiatan kegamaan 78 persen penduduk Australia. Tidak adil menurut mereka. Jadi, kalau angka ‘no religion’ bisa lebih dari 30% maka mereka akan membuat petisi menuntut subsidi keagamaan dihapus.

Ternyata angka sensus telah menjadi lahan pertarungan sejumlah pihak. Biasanya warga Australia menghindari percakapan dua topik ini: agama dan politik. Mereka lebih suka bicara hal-hal enteng saat bersua seperti soal cuaca. Ini berbeda dengan warga Indonesia yang menjadikan masalah agama, politik dan juga seks sebagai obrolan di warung kopi. Lho apa masalah seks tidak dibicarakan di kalangan warga Australia? Kelihatannya mereka memilih langsung melakukannya ketimbang hanya membicarakannya!

Tabik,

Nadirsyah Hosen

Contributor
Tidak Ada Komentar
Berikan komentar Batal
Comments to: Pertarungan Sensus di Australia: Kolom Agama

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Attach images - Only PNG, JPG, JPEG and GIF are supported.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Login


Khazanah GNH

Komunitas Santri Gus Nadirsyah Hosen

Global Nalar Hakekat
Kompleksitas persoalan kehidupan di abad modern ini meniscayakan terbentuknya sebuah komunitas, dimana anggota dari berbagai latarbelakang agama dan budaya, bisa saling belajar layaknya para santri, di sebuah rumah virtual bersama: Khazanah GNH

Khazanah GNH
Komunitas santri yang berwawasan global, mengindentifikasi beragam persoalan dan isu-isu aktual, dengan mengembangkan nalar yang sehat, bukan atas dasar keberpihakan politik sesaat, tapi melalui diskusi (kajian dan ngaji) akan hakikat kemanusiaan dan kehidupan. Dengan cara ini peradaban manusia yang tercabik-cabik dirajut kembali dengan keluhuran budi dan qalbu guna menebar rahmat dan kasih sayang pada semesta.”

Sudah terdaftar?