Tokoh Agama dalam Kasus Kriminal: Kardinal Pell dan Rizieq Shihab

Nadirsyah Hosen

“Saya tidak bersalah. Saya akan menghadiri panggilan polisi yang telah menetapkan saya sebagai tersangka. Saya akan bersihkan nama baik saya, karena, sekali lagi, saya akan buktikan bahwa saya tidak bersalah.”

Pernyataan di atas bukan dikeluarkan oleh Habib Rizieq Shihab yang tengah terjerat kasus chat mesum. Pernyataan penting itu dikeluarkan oleh Kardinal George Pell beberapa jam setelah Kepolisian Negara Bagian Victoria, Australia, menyatakan secara resmi bahwa Sang Kardinal tersangka kasus asusila.

George Pell, 76 tahun, adalah pejabat Vatikan yang paling tinggi yang terkena tuduhan kasus seks. Sebelumnya Pell, yang diangkat sebagai Kardinal pada tahun 2003, selama 13 tahun telah menjadi Archbishop di Sydney (2001-2014). Dalam masa kepemimpinannya, dia sering membuat pernyataan kontroversial dalam kasus yang menyita perhatian publik.

Tak jarang sikapnya berbeda dengan kebjakan Pemerintah Australia. Dia menjadi salah satu figur penting Katolik dalam sejarah relasi agama dan negara di Australia. Dia dikenal sangat konservatif.

Baca selengkapnya kasus menarik ini di Geotimes:

https://geotimes.co.id/tokoh-agama-dalam-kasus-kriminal-ka…/

🙏🙏🙏🙏

Tidak Ada Komentar
Berikan komentar Batal
Comments to: Tokoh Agama dalam Kasus Kriminal: Kardinal Pell dan Rizieq Shihab

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Attach images - Only PNG, JPG, JPEG and GIF are supported.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Login


Khazanah GNH

Komunitas Santri Gus Nadirsyah Hosen

Global Nalar Hakekat
Kompleksitas persoalan kehidupan di abad modern ini meniscayakan terbentuknya sebuah komunitas, dimana anggota dari berbagai latarbelakang agama dan budaya, bisa saling belajar layaknya para santri, di sebuah rumah virtual bersama: Khazanah GNH

Khazanah GNH
Komunitas santri yang berwawasan global, mengindentifikasi beragam persoalan dan isu-isu aktual, dengan mengembangkan nalar yang sehat, bukan atas dasar keberpihakan politik sesaat, tapi melalui diskusi (kajian dan ngaji) akan hakikat kemanusiaan dan kehidupan. Dengan cara ini peradaban manusia yang tercabik-cabik dirajut kembali dengan keluhuran budi dan qalbu guna menebar rahmat dan kasih sayang pada semesta.”

Sudah terdaftar?