Pada masa Khalifah ke-20 Abbasiyah ar-Radhi Billah ada 2 dinasti lain yg mengklaim posisi Khalifah yaitu Fatimiyah di Afrika Utara dan Umayyah di Cordoba.

Artinya, saat itu umat Islam memiliki tiga khalifah yang berbeda: Baghdad, Spanyol, dan Afrika Utara.

Jadi, kalau sekarang umat Islam terpecah dalam berbagai negara-bangsa, ya gak masalah, kan? Lha, wong pada masa khilafah dulu saja ada beberapa pemimpin yang menguasai wilayah yang berbeda? Paham ora, son?

Bahkan sekitar empat tahun di masa Khalifah ar-Radhi jamaah tidak bisa berangkat haji karena Mekkah tidak lagi dikuasai sepenuhnya oleh Khalifah Abbasiyah di Baghdad. Hajar Aswad pun masih belum kembali ke tempatnya semula di Ka’bah karena dicuri pemberontak seperti pernah saya ceritakan dalam tulisan lalu.

Jadi, kalau sekarang ada yang berargumen bahwa kita membutuhkan khilafah untuk menolong umat Islam di Palestina, Suriah, dan Yaman, mereka lupa bahwa di masa khalifah jaman old sempat terjadi kehilangan Hajar Aswad dan jamaah tidak bisa naik haji karena jalur yang tidak aman. Barulah pemberontak Qaramithah membolehkan jamaah naik haji setelah meminta jamaah membayar uang cukai masing-masing sebanyak lima dinar. Inilai pungutan pertama bagi jamaah haji.

Inilah Khalifah terakhir Abbasiyah yg punya kuasa, selepasnya Khalifah hanya simbol belaka.

Simak yuk selengkapnya di:

Khalifah Ar-Radhi Billah: Awal Kehancuran Dinasti Abbasiyah

Tabik,

Nadirsyah Hosen

Ps.

Insya Allah minggu depan buku “Islam Yes, Khilafah No!” akan terbit di Jogja.

Bulan Juni 2018, buku Law & Religion akan terbit di Italia.

Bulan September 2018, buku Islamic Law akan terbit di Inggris.

Barokah doa dari para Kiai dan Masyayikh 🙏😍

Tidak Ada Komentar
Berikan komentar Batal
Comments to: Khalifah Ar-Radhi Billah: Awal Kehancuran Dinasti Abbasiyah

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Attach images - Only PNG, JPG, JPEG and GIF are supported.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Login


Khazanah GNH

Komunitas Santri Gus Nadirsyah Hosen

Global Nalar Hakekat
Kompleksitas persoalan kehidupan di abad modern ini meniscayakan terbentuknya sebuah komunitas, dimana anggota dari berbagai latarbelakang agama dan budaya, bisa saling belajar layaknya para santri, di sebuah rumah virtual bersama: Khazanah GNH

Khazanah GNH
Komunitas santri yang berwawasan global, mengindentifikasi beragam persoalan dan isu-isu aktual, dengan mengembangkan nalar yang sehat, bukan atas dasar keberpihakan politik sesaat, tapi melalui diskusi (kajian dan ngaji) akan hakikat kemanusiaan dan kehidupan. Dengan cara ini peradaban manusia yang tercabik-cabik dirajut kembali dengan keluhuran budi dan qalbu guna menebar rahmat dan kasih sayang pada semesta.”

Sudah terdaftar?