Ribut dan ribet. Begitu kesannya soal data berapa orang yang terkena corona, yang meninggal dan yang sembuh, di Indonesia. Saling adu bantah data. Data institusi A diragukan oleh Institusi B. Data pemerintah daerah A diragukan oleh netizen. Begitu seterusnya.

Tapi kalau mau jujur urusan data di Indonesia memang selalu ribet. Misalnya akan keliru kalau kita menghitung angka pendapatan penduduk hanya dari slip gaji. Bukankah kita tahu terkadang uang sabetan di luar gaji jauh lebih besar?

Soal Daftar Pemilih Tetap (DPT) setiap pemilu selalu dipersoalkan. Menghitung luas desa di Indonesia juga selalu ribet. Padahal ini berkaitan dengan hal yang sangat penting.

Ribetnya akurasi data ini kadang bikin jengkel peneliti luar negeri. Contoh saja berapa sih jumlah anggota Nahdlatul Ulama? 15 juta? 60 juta atau 90 juta? Apa yang sudah meninggal —dan selalu didoakan dan diziarahi— juga harus dihitung? Gus Dur punya jawaban cerdas: “pokoknya tanya saja berapa jumlah anggota Muhammadiyah. Nah, anggota NU itu tiga kali lipatnya!”

Ribet urusan angka ini agak aneh juga sih. Bukannya kita senang sekali dengan angka? Gak percaya? Simak obrolan basa-basi kita kalau ketemu orang lain —entah sahabat lama atau orang yang baru kenal: “anaknya sudah berapa?” Atau “sudah berapa tahun tinggal di area sini” Bahkan ada yang kepo bertanya: “gajinya berapa?” Semoga gak ada yang tanya: “ini istri nomor berapa?” Pendek kata, pertanyaanya gak jauh dari angka!

Terus gimana kita menyikapi keruwetan soal angka ini? Kalau urusannya dengan kebijakan pemerintah maka urusannya runyam: masak pemerintah melahirkan kebijakan berdasarkan data yang keliru? Tapi kalau urusannya soal keliru data di tingkat internasional, kita bisa ngikuti gaya orang Madura:

Menguping pembicaraan turis Amerika dan China. Yang satu membanggakan bahwa negaranya sudah bisa mendarat di Matahari. Sementara yang satunya lagi bangga bahwa sudah bisa ke planet Mars. Maka orang Madura ini gak tahan nyamber:

“Sampean gitu aja bangga. Di kampung saya ada dukun yang sudah bisa membantu melahirkan anak dari puser ibunya tanpa operasi!”

Kedua turis kaget, dan bertanya: “kok bisa?”

“Yah kalaupun meleset paling juga cuma sejengkal” jawab orang Madura dengan nyengir.

Yah, data kita soal corona dan lain-lainnya itu mungkin bisa meleset. Tapi kalaupun meleset, ya cuma sejengkal kok!

Tabik,

GNH

Login


Khazanah GNH

Komunitas Santri Gus Nadirsyah Hosen

Global Nalar Hakekat
Kompleksitas persoalan kehidupan di abad modern ini meniscayakan terbentuknya sebuah komunitas, dimana anggota dari berbagai latarbelakang agama dan budaya, bisa saling belajar layaknya para santri, di sebuah rumah virtual bersama: Khazanah GNH

Khazanah GNH
Komunitas santri yang berwawasan global, mengindentifikasi beragam persoalan dan isu-isu aktual, dengan mengembangkan nalar yang sehat, bukan atas dasar keberpihakan politik sesaat, tapi melalui diskusi (kajian dan ngaji) akan hakikat kemanusiaan dan kehidupan. Dengan cara ini peradaban manusia yang tercabik-cabik dirajut kembali dengan keluhuran budi dan qalbu guna menebar rahmat dan kasih sayang pada semesta.”

Sudah terdaftar?