Pernah nonton film2 produksi Marvel kan? Biasanya setelah film usai ada cuplikan film berikutnya, sehingga bagi penonton setia Marvel akan menunggu sampai akhir sementara penonton lain sudah pergi meninggalkan bioskop.

Tadi sore saya mimpi dimana dalam mimpi saya itu saya sehabis presentasi berakhir, sejumlah peserta sudah keluar ruangan. Hanya tersisa beberapa orang saja. Suara berisik dari peserta yang keluar ruangan terdengar jelas. Eh tiba-tiba Kang Maman Suherman di mimpi saya itu bertanya: bagaimana caranya kita yang kotor ini berinteraksi dengan al-Quran yang suci?

Saya menjawab pertanyaan itu, persis seperti adegan film Marvel: setelah acara berakhir dan penonton sebagian sudah bubar. Saat saya menjawab pertanyaan itu hanya tersisa beberapa orang. Bahkan suara saya harus bersaing dg suara berisik mereka yang asyik ngobrol meninggalkan ruangan.

Terus apa jawaban saya terhadap pertanyaan Kang Maman di atas?

Setelah terbangun, saya pikir-pikir: wah jawaban saya di mimpi tadi luar biasa bagusnya. Kaget juga saya. Kok saya bisa menjawab seperti itu. Penuh nuansa spiritual.

Lantas apa jawaban lengkapnya? Seperti layaknya film produksi Marvel, adegan terakhir itu hanyalah kepingan dari film berikutnya. Semacam puzzle sekaligus teaser.

Jawaban lengkap saya itu akan saya jawab kelak di buku yang sedang saya dan Kang Maman garap. Anggap aja ini teaser untuk buku berdua kami. Jadi, tungguin aja jawabannya saat buku kami sudah terbit. Kalau lama terbitnya, salahkan Kang Maman yang belum juga beres menulis naskah bagian beliau.

Ngeselin gak sih nungguin jawabannya….😊 Kang Maman siiihhhh

Login


Khazanah GNH

Komunitas Santri Gus Nadirsyah Hosen

Global Nalar Hakekat
Kompleksitas persoalan kehidupan di abad modern ini meniscayakan terbentuknya sebuah komunitas, dimana anggota dari berbagai latarbelakang agama dan budaya, bisa saling belajar layaknya para santri, di sebuah rumah virtual bersama: Khazanah GNH

Khazanah GNH
Komunitas santri yang berwawasan global, mengindentifikasi beragam persoalan dan isu-isu aktual, dengan mengembangkan nalar yang sehat, bukan atas dasar keberpihakan politik sesaat, tapi melalui diskusi (kajian dan ngaji) akan hakikat kemanusiaan dan kehidupan. Dengan cara ini peradaban manusia yang tercabik-cabik dirajut kembali dengan keluhuran budi dan qalbu guna menebar rahmat dan kasih sayang pada semesta.”

Sudah terdaftar?