Gus Nadir

Mengkaji ISLAM Kontekstual bersama

Gus Nadir

Islam Enjoy Logo
Santai

Diskusi

Dalam diskusi itu gak perlu ada rasa menang-kalah. Namanya juga tukar pikiran. Kadang setuju atau di lain kesempatan kita bisa bebas berbeda pandangan. Menyalahkan pendapat orang lain itu hal biasa dalam diskusi. Sebagaimana setuju pada orang lain juga hal biasa. Jangan pula dianggap kalau tidak setuju dengan pendapat kita maka itu menyerang kehormatan kita. Yang kita lakukan dalam diskusi adalah tukar pikiran, bukan tukar kehormatan apalagi tukar uang smile emoticon

Biasanya banyak yang terpancing menyerang pribadi. “Ini pendapat Profesor edan”; atau “Taubat Prof!”; atau misalnya yang ini “Pengen terkenal Ya?”. Komentar semacam itu tidak perlu diladeni karena sudah mencerminkan kualitas komentator yang tidak mampu membahas argumen dan bisanya hanya menyerang personal. Menyerang personal tidak lantas membuat anda jadi benar lho 🙂

Ada lagi yang setiap komen pasti menyalahkan, dan berkali-kali seperti itu. Mungkin dia punya persoalan pribadi atau memang semangat sekali mau mencari-cari kesalahan atau menyerang pendapat orang lain. Yang dituju adalah kepuasan diri sudah menyalahkan orang lain. Orang spt ini memang tujuannya bukan bertukar pikiran. Gak usah diladeni.

Ada lagi yang membantah karena merasa tulisan tsb menyinggung dirinya. Selama tidak menyebut nama secara terang-terangan maka tulisan itu bersifat umum. Jadi anda tidak perlu ge er dengan cara tersinggung. Kalaupun mau membantah, sekali lagi, fokus saja dengan argumentasi utk bertukar pikiran dengan baik.

Ada lagi yang merasa dia menang kalau dia yang kasih komentar terakhir dan yang lain kemudian mendiamkan tdk membalas komentarnya. Padahal boleh jadi yg lain sdh merasa cukup mengeluarkan argumennya dan menyerahkan kepada para pembaca untuk menilai sendiri. Gak perlu berlarut-larut…kayak kita gak ada kerjaan lain aja sihh smile emoticon Pembaca juga cerdas kok bisa menilai mana yang argumentatif dan mana yang emosional.

Salah satu ciri orang yang emosi berkomentar itu adalah pilihan kata dan kalimatnya berantakan dan tidak nyambung. Ciri lain adalah terburu-buru berkomentar sehingga tidak mengecek data atau bahkan sekedar mengecek siapa sih yang menulis status tsb. Paling tidak, mikir dua kali lah kalau mau mengobral kata-kata kasar, siapa tahu ternyata kita atau keluarga kita dulunya temenan akrab 🙂

Media semacam facebook ini memang membuat semua orang bisa berkomentar. Dan saya banyak belajar dari komentar kawan-kawan. Kalau kita niatkan ini sebagai sarana pembelajaran maka kita bisa bertukar pikiran dengan santai, guyon dan bebas tanpa merasa kehormatan kita diserang atau merasa emosi, tersinggung atau bahkan terpancing mengkafir-kafirkan orang lain, memberi label aliran macem-macem, atau malah berujung kekerasan.

Ini cuma facebook, brothers n sisters….nulis status dan komennya pun disela-sela tumpukan kerjaan. Gratis pula…gak ada honornya. Kok pakai tegang sih. Jadi rileks aja lah….

Selamat berakhir pekan.
Gong Xi Fa Cai
Salam sejahtera dengan penuh kehangatan,

 

Nadirsyah Hosen

Nadirsyah Hosen

Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School. Juga Pengasuh PonPes Ma'had Aly Raudhatul Muhibbin, Caringin Bogor pimpinan DR KH M Luqman Hakim.