Pre order: 26 Maret – 6 April 2020
edisi spesial bertanda tangan penulis + Free kartu lebaran
Persediaan terbatas. Harga 99 ribu

https://mizanstore.com/ngaji_fikih_-_pre_68595?fbclid=IwAR3BnqJ_jzFiD_44q85y0l9w1RHlkhCFOno7F46fSP57Dia_zb5hwvEzi7c

Jangan Anda bayangkan bahwa buku ini akan mengajarkan ilmu fikih yang kaku dan berat. Dalam buku ini, Nadirsyah Hosen atau akrab disapa Gus Nadir, menuturkan indahnya keilmuan fikih yang dipelajari langsung dari Sang Abah, Prof. K.H. Ibrahim Hosen, L.M.L., Ketua Bidang Fatwa di Majelis Ulama Indonesia pada 1980-2000. Buku ini layaknya sebuah persembahan ilmu dari Abah dan anak, dalam mewarnai khazanah kajian fikih di Indonesia.

Lewat buku ini Gus Nadir “menghidupkan” kembali pandangan dan gagasan Abahnya, Prof KH Ibrahim Hosen. Bahkan nama Sang Abah ditulis khusus sebagai penulis pertama. Ketika ditanya kenapa nama Sang Abah ditulis lengkap dengan gelarnya, sementara penulis aslinya hanya ditulis sebagai penulis kedua dan cukup nama saja tanpa gelar apapun, Gus Nadir menjawab:

“Karena saat lilin berhadapan dengan mentari, cahaya lilin tertunduk malu diterpa cahaya mentari”

Mulai dari hukum Muslim masuk gereja, penggunaan vaksin, perbedaan mazhab, hingga jawaban soal ayat jilbab, semua dituturkan oleh Gus Nadir secara santai. Bertujuan agar kita tak terjebak dalam liang sesatnya berpikir instan, bahkan dengan mudah menghakimi seseorang berbekal sepenggal ayat maupun hadis saja.

Segera pesan 🙏

Login


Khazanah GNH

Komunitas Santri Gus Nadirsyah Hosen

Global Nalar Hakekat
Kompleksitas persoalan kehidupan di abad modern ini meniscayakan terbentuknya sebuah komunitas, dimana anggota dari berbagai latarbelakang agama dan budaya, bisa saling belajar layaknya para santri, di sebuah rumah virtual bersama: Khazanah GNH

Khazanah GNH
Komunitas santri yang berwawasan global, mengindentifikasi beragam persoalan dan isu-isu aktual, dengan mengembangkan nalar yang sehat, bukan atas dasar keberpihakan politik sesaat, tapi melalui diskusi (kajian dan ngaji) akan hakikat kemanusiaan dan kehidupan. Dengan cara ini peradaban manusia yang tercabik-cabik dirajut kembali dengan keluhuran budi dan qalbu guna menebar rahmat dan kasih sayang pada semesta.”

Sudah terdaftar?