“Rasulullah saat Idul Fitri gak pernah mudik ke kampung halamannya di Mekkah. Kok sampean malah rame-rame mudik sih?”

“Rasulullah itu progresif bergerak ke depan. Makanya Rasulullah itu hijrah. Bukannya malah mudik pulang kampung.”

“Gak ada dalilnya buat mudik tauuuu.
Jadi sampean macet berjam-jam itu hanya nambah-nambah dosa saja. Ingat setiap bid’ah itu sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.”

“Mudik itu bagian dari Islam Nusantara. Apa lagi itu? Rasul gak kenal sama mudik atau Islam Nusantara tauuuu”

Nah, sampean tahu sekarang gimana rasanya gak bisa mudik kan? Emang enakkkk? Bisanya cuma nyinyir kayak gini kan? Hahahhaha

Bros n Sis, selamat mudik yahhh….jangan dengerin orang yg bilang mudik itu bid’ah. Dia mau hijrah, ya monggo. Sampean mau mudik, ya monggo. #AkuKuat kok utk gak mudik *sambil peres-peres dan jemur hape*

Semoga semuanya selamat sampai di kampung halaman, dan salam hangat saya untuk keluarga anda yah 🙏😊

Tabik,

Nadirsyah Hosen

Reaksi visitor pada artikel ini.
Tampilkan komentar Sembunyikan komentar
Comments to: Bid’ahkah Mudik?
  • 11 Juni 2018

    Assalamuálaikum warohmatullaahi wabarokaatuh

    Selamat mudik, Gus., Ati ati di jalan,. Semoga selalu dilindungi Allah SWT..

    Fahmi

    Reply
  • 19 Juni 2018

    Macam2 aja Anda ini.

    Reply
  • 12 Juli 2018

    hahahahaha…Gus Nadir ahli bercanda…sehat sll gus

    Reply
Write a response

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Attach images - Only PNG, JPG, JPEG and GIF are supported.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Login


Khazanah GNH

Komunitas Santri Gus Nadirsyah Hosen

Global Nalar Hakekat
Kompleksitas persoalan kehidupan di abad modern ini meniscayakan terbentuknya sebuah komunitas, dimana anggota dari berbagai latarbelakang agama dan budaya, bisa saling belajar layaknya para santri, di sebuah rumah virtual bersama: Khazanah GNH

Khazanah GNH
Komunitas santri yang berwawasan global, mengindentifikasi beragam persoalan dan isu-isu aktual, dengan mengembangkan nalar yang sehat, bukan atas dasar keberpihakan politik sesaat, tapi melalui diskusi (kajian dan ngaji) akan hakikat kemanusiaan dan kehidupan. Dengan cara ini peradaban manusia yang tercabik-cabik dirajut kembali dengan keluhuran budi dan qalbu guna menebar rahmat dan kasih sayang pada semesta.”

Sudah terdaftar?