Cuplikan film Kung Fu Panda 2 © DreamWorks Animation

Po sekarang ditahbiskan sebagai the dragon warrior. Tugasnya melindungi orang-orang kampung agar kehidupan berjalan dengan damai. Tapi bagaimana dia bisa menjaga perdamaian kalau dia belum bisa berdamai dengan masa lalunya. Inilah episode kedua mencari jati diri yang disajikan dalam Kung Fu Panda. Barang siapa yang mengenal dirinya akan mengenal Tuhannya. Hanya dengan menzikirkan nama Tuhanmu, engkau akan damai.

Namun Po, siapa sebenarnya dirimu?

Po adalah anak terbuang. Dia hanya punya sepenggal kenangan berupa warna dan gambar abstrak yang tak dia pahami. Seringkali ini menjadi mimpi buruknya. Konsentrasinya buyar seketika bila bayangan masa silam itu datang. Dia tahu dia bukan anak seekor Angsa penjual mie yang selama ini merawatnya. Jadi siapakah Po sebenarnya dan mengapa ia bisa sampai diambil anak oleh Mr Ping?

Musa alaihis salam punya pertanyaan yang sama. Bisik-bisik tedengar bahwa dia bukanlah putra kandung Firaun. Tapi bagaimana bisa dia tinggal di istana Firaun. Kenapa ia dibuang keluarganya? Begitu tegakah ibunya membuang dirinya? Perjalanan Musa mencari jati diri sungguh penuh liku dan pilu. Pada momen dia tahu bahwa dia bukanlah putra Firaun tapi seorang budak Yahudi, hidupnya terguncang. Dia lari ke perkampungan menyelamatkan dirinya dari kejaran pasukan. Dia mengetuk pintu rumah Syuaib dan tinggal di sana bekerja bertahun-tahun tanpa dibayar. Dia belajar kembali akan makna hidup dari Syuaib, seorang Nabi yang menjadi mentor dan sekaligus mertuanya. Musa mencari ketenangan dalam pelarian. Dia pun bertanya-tanya pada dirinya: Siapakah engkau, wahai Musa?

Po dan Musa sama-sama terbuang karena sebuah prophecy: hanya merekalah yang akan meruntuhkan arogansi penguasa. Tapi musuh utama mereka bukanlah Lord Shen atau Firaun. Mereka membawa misi perdamaian menaklukkan tirani. Belakangan mereka sadar bahwa musuh utama yang harus mereka taklukkan adalah diri mereka sendiri.

Inilah jihad akbar. Bagaimana mereka hendak mengusung perdamaian dan menebarkan kasih sayang kalau dalam diri mereka masih ada bara api. Hanya dengan memenangkan pertempuran melawan diri sendiri itulah akan mengalir kedamaian dari dalam diri mereka (inner peace) dan menebarkannya ke semesta alam. Sekarang kita mengerti mengapa Allah memilihkan nama “Islam” yang bermakna kepasrahan dan kedamaian, bukan arogansi dan fentungan.

Tapi bisakah Po berdamai dengan masa lalunya? Hanya dengan menyadari anugerah kehidupan yang telah ia terima dan jalani selama ini Po dapat menemukan kedamaian dalam dirinya. Dia sadar akan misi hidupnya. Bayangan buruk masa silam diubahnya menjadi kenangan indah bersama orang tuanya yang entah ada dimana. Sejauh-jauh engkau berjalan mencari kedamaian, sejatinya kedamaian itu tidak pernah menjauh dari dirimu. Anda tidak perlu berlari keluar mencari jawaban. Anda hanya butuh masuk ke dalam diri untuk menemukan jawaban.

Jika hidup tidak juga memberimu jawaban yang engkau cari, jangan khawatir. Mungkin sudah tiba waktunya untuk kita mengganti pertanyaannya.

Aku hamba Allah.
Dan kamu siapa?

Tabik,

Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School

Ps.
Baca renungan episode pertama di sini:

nadirhosen dot net/renungan/akhlak/243-al-hikmah-min-kung-fun-panda-1

Contributor
Reaksi visitor pada artikel ini.
Tampilkan komentar Sembunyikan komentar
Comments to: Al-Hikmah min Kung Fu Panda (2): Berdamai dengan Diri
Write a response

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Attach images - Only PNG, JPG, JPEG and GIF are supported.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Login


Khazanah GNH

Komunitas Santri Gus Nadirsyah Hosen

Global Nalar Hakekat
Kompleksitas persoalan kehidupan di abad modern ini meniscayakan terbentuknya sebuah komunitas, dimana anggota dari berbagai latarbelakang agama dan budaya, bisa saling belajar layaknya para santri, di sebuah rumah virtual bersama: Khazanah GNH

Khazanah GNH
Komunitas santri yang berwawasan global, mengindentifikasi beragam persoalan dan isu-isu aktual, dengan mengembangkan nalar yang sehat, bukan atas dasar keberpihakan politik sesaat, tapi melalui diskusi (kajian dan ngaji) akan hakikat kemanusiaan dan kehidupan. Dengan cara ini peradaban manusia yang tercabik-cabik dirajut kembali dengan keluhuran budi dan qalbu guna menebar rahmat dan kasih sayang pada semesta.”

Sudah terdaftar?