Selepas shalat jama’ah, saya ditegur oleh seorang rekan, “Mengapa tubuh anda bergoyang lebih dari tiga kali?”. Saya tersenyum dan mengucapkan terima kasih sambil tak lupa mengatakan bahwa goyangan itu diluar kesadaran saya. Seringkali usaha mencoba konsentrasi dalam shalat mengakibatkan tubuh saya bergoyang tanpa saya sadari. Teman saya terlihat puas dengan jawaban saya.

Di lain waktu selepas shalat jama’ah teman saya tersebut menegur jama’ah yang lain. Ia bertanya, “Kenapa ruku’ anda tidak sempurna?” Jama’ah tersebut jadi gelagapan dibuatnya.

Saya jadi mulai berpikir, inikah kerjaan rekan saya tersebut….sibuk mengamati gerakan shalat di kanan-kirinya. Saya khawatir sepanjang shalat ia habiskan untuk mengamati gerakan shalat orang lain dan bersiap untuk menegurnya selepas salam nanti.

Dalam sebuah hadis Qudsi disebutkan bahwa bila hamba Allah diberikan hikmah oleh Allah maka yang pertama kali ditampakkan-Nya adalah kesalahan hamba itu sendiri sehingga hamba itu tak sibuk memikirkan kesalahan orang lain.

Mungkin teman saya itu kelewat semangat sehingga ia sibuk memikirkan kesalahan orang lain daripada memikirkan kesalahan diri sendiri. Maksudnya baik namun sementara orang lain mendapat manfaat dari teguran itu, ia sendiri kehilangan kekhusyu’an ketika shalat. Ibarat lilin yang ingin menerangi kegelapan, lambat laun lilin itu habis terbakar sendiri.

Dalam Surat an-Najm ayat 32 Allah berfirman:

“Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.”

Jika hanya Allah yang tahu tentang kadar ketakwaan kita, maka mengapa kita harus terlalu semangat memikirkan kesalahan orang lain. Dakwah itu penting, tetapi yang harus dihindari disaat berdakwah adalah merasa dirinya paling benar, paling suci dan paling takwa, juga hanya sibuk memikirkan kesalahan orang lain tanpa peduli pada kesalahan dan kekurangannya sendiri. Saya berharap kita semua (termasuk teman saya di atas) tidak termasuk golongan terakhir ini, insya Allah!

Al-Haq min Allah!

 

Armidale, 28 Agustus 1997

Contributor
Tidak Ada Komentar
Berikan komentar Batal
Comments to: Jangan Mengatakan Kamu Suci!

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Attach images - Only PNG, JPG, JPEG and GIF are supported.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Login


Khazanah GNH

Komunitas Santri Gus Nadirsyah Hosen

Global Nalar Hakekat
Kompleksitas persoalan kehidupan di abad modern ini meniscayakan terbentuknya sebuah komunitas, dimana anggota dari berbagai latarbelakang agama dan budaya, bisa saling belajar layaknya para santri, di sebuah rumah virtual bersama: Khazanah GNH

Khazanah GNH
Komunitas santri yang berwawasan global, mengindentifikasi beragam persoalan dan isu-isu aktual, dengan mengembangkan nalar yang sehat, bukan atas dasar keberpihakan politik sesaat, tapi melalui diskusi (kajian dan ngaji) akan hakikat kemanusiaan dan kehidupan. Dengan cara ini peradaban manusia yang tercabik-cabik dirajut kembali dengan keluhuran budi dan qalbu guna menebar rahmat dan kasih sayang pada semesta.”

Sudah terdaftar?