Sejumlah Muslim Scholars mengajar di kampus-kampus ternama di dunia barat. Mereka menulis buku dan artikel dalam bahasa Inggris menjelaskan berbagai aspek keislaman sesuai standar akademis yang diterima di dunia IPTEK barat yang memang sangat ketat kompetisinya. Masih banyak yang memandang sinis dan curiga dengan kiprah mereka, tapi bagaimana masyarakat barat yang rasional dan modern itu bisa mengenal Islam kalau para pakar Islam tidak berkiprah di sana? Ini adalah tantangan dakwah tersendiri.

Saya ingin menyebut sejumlah nama pakar Muslim yang mengajar kajian Islam di dunia Barat, termasuk 5 nama orang Indonesia (jangan khawatir, saya gak akan menyebut nama saya sendiri kok hehehe). Daftar ini bisa kita tambahi dengan orang Islam yang juga jadi professor di barat dalam kajian umum. Mereka juga layak dianggap sebagai Muslim scholars (silahkan nanti ditambahi sendiri daftarnya).

1. Kecia Ali, Boston University, yang menulis buku Sexual Ethics and Islam: Feminist Reflections on Qur’an, Hadith, and Jurisprudence (2006, expanded ed. 2016), Marriage and Slavery in Early Islam (2010), Imam Shafi‘i: Scholar and Saint (2011), dan The Lives of Muhammad (2014).

2. Jonathan A.C. Brown, Georgetown University, masuk Islam pada tahun 1997, pakar kajian hadis, yang menulis buku Misquoting Muhammad: The Challenge and Choices of Interpreting the Prophet’s Legacy, Oneworld Publications, 2014; The Canonization of al-Bukhārī and Muslim: The Formation and Function of the Sunnī Ḥadīth Canon, Brill Publishers, 2007.

3. Mohammed Fadel, Research Chair for the Law and Economics of Islamic Law, University of Toronto. Pakar ekonomi syariah.

4. Asifa Quraishi-Landes, University of Wisconsin, pakar kajian konstitusi Islam dan Amerika. Lulusan Harvard Law School ini menulis ttg “The Sharia Problem with Sharia Legislation,” and “What if Sharia Weren’t the Enemy: Re-Thinking International Women’s Rights Activism and Islamic Law.”

5. Intisar A. Rabb, Direktur Islamic Legal Studies Program, Harvard University. Pakar hukum Islam dan sejarah hukum. Karena kepakarannya, dia diangkat menjadi pofessor pada tiga jurusan berbeda di Harvard.

Nah, 5 orang Indonesia yang mengajar Islam di Barat sbb:

1. Shalahudin Kafrawi (Hobart and William Smith Colleges)
2. Etin Anwar (Hobart and William Smith Colleges)
3. Muhamad Ali (University of California, Riverside)
4. Mun’im A Sirry (Notre Dame University)
5. Eva F Nisa (Victoria University of Wellington)

Untuk pakar kajian umum, ini saya sebutkan dua contoh saja:
1. Hadi Susanto, Pakar Matematika, University of Essex
2. Mulyoto Pangestu, Pakar bayi tabung, Monash University

Sekali lagi masih banyak nama-nama lain yang belum disebut. Ini menunjukkan banyak orang Islam yang membawa legacy “Iqra” –perintah pertama Allah yang diberikan kepada Nabi Muhammad dan umat Islam, baik di barat maupun di timur.

Jadi, tidak perlu minder dengan dunia barat, banyak kok umat Islam yang hebat dan berkiprah di sana. Juga tidak perlu curiga dengan para cendekiawan Muslim hanya karena mereka mengajar di barat. Minder dan curiga itu penyakit orang-orang kalah. Kita harus punya mental pemenang; bukan pecundang.

Kita tunggu generasi berikutnya para santri yang akan berkiprah mengajar di dunia barat. Saya yakin generasi berikutnya akan lebih dahsyattt!

Tabik,

 

Nadirsyah Hosen

Contributor
Tidak Ada Komentar
Berikan komentar Batal
Comments to: Cendekiawan Muslim di Barat

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Attach images - Only PNG, JPG, JPEG and GIF are supported.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Login


Khazanah GNH

Komunitas Santri Gus Nadirsyah Hosen

Global Nalar Hakekat
Kompleksitas persoalan kehidupan di abad modern ini meniscayakan terbentuknya sebuah komunitas, dimana anggota dari berbagai latarbelakang agama dan budaya, bisa saling belajar layaknya para santri, di sebuah rumah virtual bersama: Khazanah GNH

Khazanah GNH
Komunitas santri yang berwawasan global, mengindentifikasi beragam persoalan dan isu-isu aktual, dengan mengembangkan nalar yang sehat, bukan atas dasar keberpihakan politik sesaat, tapi melalui diskusi (kajian dan ngaji) akan hakikat kemanusiaan dan kehidupan. Dengan cara ini peradaban manusia yang tercabik-cabik dirajut kembali dengan keluhuran budi dan qalbu guna menebar rahmat dan kasih sayang pada semesta.”

Sudah terdaftar?