Dua belas jam atau lebih, tergantung anda berada di belahan dunia yang mana, kita menahan lapar dan haus dalam bulan suci Ramadan.

Menjelang sore angan-angan kita akan makanan dan minuman semakin menjadi-jadi. Panca indera kita menjadi sensitif: bau asap knalpot tercium seperti bau orang membakar sate; kecoa lewat terlihat seperti kurma dan suara azan ashar dianggap mirip azan maghrib.

Tapi ketika tiba waktunya berbuka puasa, hanya dengan segelas air dan kolak pisang saja hilang sudah segala lapar dan dahaga; semua angan-angan sebelumnya buyar begitu saja. Bahkan mereka yang dengan lahap langsung mengonsumsi makanan ternyata juga merasa kenyang hanya dengan dua-tiga suap saja. Niat menggebu menghabiskan 3 piring ternyata tidak terpenuhi. Cuma segitu aja kemampuan kita memuaskan diri 🙂

Inilah kenikmatan sesaat yang Allah ajarkan kepada kita lewat ibadah puasa. Apa yang tidak kita miliki terkesan begitu indah seandainya kita punya harta, jabatan atau apapun yg kita inginkan. Faktanya, begitu kita memiliki apa yang kita sangat inginkan, ya biasa saja toh 🙂 Makanya banyak yang lupa diri dan malah menginginkan hal berikutnya untuk memuaskan keinginannya.

Puasa mengajarkan kita bahwa kenikmatan yang kita kejar itu hanya sesaat rasanya. Puasa mengajarkan kita bahwa kepuasan itu bukan pada tercapainya keinginan tapi pada mensyukuri apa yang Allah berikan.

Percayalah, buka puasa dengan ceplok telur pun terasa nikmat kalau kita mampu mensyukurinya.

Tabik,

Nadirsyah Hosen

Contributor
Reaksi visitor pada artikel ini.
Tampilkan komentar Sembunyikan komentar
Comments to: Kenikmatan Sesaat
  • 16 Juli 2017

    Prof..kalau sabar dalam beribadah lebih berat daripada sabar dlm menghadapi musibah,kira2 sabar menunggu jodoh itu ada di tingkatan mana?

    Reply
Write a response

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Attach images - Only PNG, JPG, JPEG and GIF are supported.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Login


Khazanah GNH

Komunitas Santri Gus Nadirsyah Hosen

Global Nalar Hakekat
Kompleksitas persoalan kehidupan di abad modern ini meniscayakan terbentuknya sebuah komunitas, dimana anggota dari berbagai latarbelakang agama dan budaya, bisa saling belajar layaknya para santri, di sebuah rumah virtual bersama: Khazanah GNH

Khazanah GNH
Komunitas santri yang berwawasan global, mengindentifikasi beragam persoalan dan isu-isu aktual, dengan mengembangkan nalar yang sehat, bukan atas dasar keberpihakan politik sesaat, tapi melalui diskusi (kajian dan ngaji) akan hakikat kemanusiaan dan kehidupan. Dengan cara ini peradaban manusia yang tercabik-cabik dirajut kembali dengan keluhuran budi dan qalbu guna menebar rahmat dan kasih sayang pada semesta.”

Sudah terdaftar?