1. Ibadah

MengingatNya dengan Ikatan yang Kuat

Ibadah itu soal bagaimana mengingatNya. Mereka yang mencintaiNya akan selalu mengingatNya baik dengan cara menyebut namaNya (dzikir), melakukan berbagai ritual (ibadah) maupun di kala sendirian dalam ruang hening.

Allah pun ingin kita selalu mengingatNya karena hanya dengan jalan itulah akan tentram hati kita (tathmain al-qulub). Allah beri kita kekayaan, dan Allah ingin kita mengingatNya lewat pemberian zakat. Allah beri kita kesibukan, dan Allah perintahkan shalat lima waktu di sela-sela kesibukan agar kita selalu mengingatNya. Allah beri kita kebaikan, dan Allah ingin kita mengingatNya dengan berbuat baik pula pada sesama. Allah beri kita musibah, dan Allah ingin kita mengingatNya dengan mengucap inna lillahi wa inna ilaihi rajiu’un.

Jikalau semua itu tidak berhasil membuat kita selalu ingat padaNya, maka Allah hadirkan Ramadan untuk kita. Mengapa? Karena disaat kita lapar, yang kita ingat adalah makanan. Di saat kita haus, yang kita inginkan dengan amat sangat adalah segelas air dingin. Dan di saat kita jauh dari pasangan, yang kita inginkan adalah bisa menyalurkan syahwat kita. Semua kebutuhan dasar manusia bisa diringkas dalam hal makanan, minuman dan pasangan. Namun Allah ingin kita mengingatNya di saat kita tengah lapar, dahaga dan tak diijinkan menyalurkan hasrat syahwat. Bisakah kita mengingatNya dan benar-benar merindukan dan menginginkanNya? Sepanjang siang hari sebelum maghrib tiba, apakah yang benar-benar terbayang dalam benak kita? Dia dan hanya Dia, atau selain Dia?

Ini yang menyebabkan Ramadan menjadi ibadah spesial. Ramadan membongkar habis kepalsuan kita yang paling dalam, benarkah kita merindukanNya? Saat kita menahan lapar ingatkah kita akan Allah? Atau kita lebih mengingat kebutuhan dasar kita sebagai manusia dan bukannya mengingat keberadaan Sang Pencipta? Mengapa yang lebih mudah terbayang adalah berbagai menu buka puasa?

Allah tidak membutuhkan amal ibadah kita. Allah tidak membutuhkan lapar, dahaga dan syahwat kita. Allah hadirkan Ramadan untuk menguji kita siapa yang benar-benar mengingatNya dalam kondisi apapun. MengingatNya dengan ikatan yang kuat. Itulah sebabnya dikatakan dalam Hadits Qudsi: “Puasa itu untukKu”, yang bisa dipahami sebagai “Puasa (mu) itu untuk (mengingat) Aku!”.

Rabbi,
semoga saat aku mengingatMu
itu pun karena Engkau tengah mengingatku

Tabik,

Nadirsyah Hosen

Contributor
Tidak Ada Komentar
Berikan komentar Batal
Comments to: MengingatNya dengan Ikatan yang Kuat

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Attach images - Only PNG, JPG, JPEG and GIF are supported.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Login


Khazanah GNH

Komunitas Santri Gus Nadirsyah Hosen

Global Nalar Hakekat
Kompleksitas persoalan kehidupan di abad modern ini meniscayakan terbentuknya sebuah komunitas, dimana anggota dari berbagai latarbelakang agama dan budaya, bisa saling belajar layaknya para santri, di sebuah rumah virtual bersama: Khazanah GNH

Khazanah GNH
Komunitas santri yang berwawasan global, mengindentifikasi beragam persoalan dan isu-isu aktual, dengan mengembangkan nalar yang sehat, bukan atas dasar keberpihakan politik sesaat, tapi melalui diskusi (kajian dan ngaji) akan hakikat kemanusiaan dan kehidupan. Dengan cara ini peradaban manusia yang tercabik-cabik dirajut kembali dengan keluhuran budi dan qalbu guna menebar rahmat dan kasih sayang pada semesta.”

Sudah terdaftar?