Beredar dua video yang saling bertolak-belakang. Pertama video dari ceramah Haikal Hassan, yang berdasarkan QS al-Bayyinah ayat 2 menyatakan tidak benar Rasul itu buta huruf.

Bahkan dalam video lainnya menjawab pertanyaan ibu-ibu jama’ah yang hadir, Haikal Hassan juga menjawab hal yang sama dengan merujuk ayat di atas. Beliau meminta jamaah membaca terjemah ayat itu, dan kemudian menyimpulkan bahwa Nabi bisa membaca. Tidak lupa dengan gayanya yang khas, Haikal Hassan malah menantang orang yang bilang Nabi buta huruf untuk dibawa ke tempat ceramahnya itu.

Ini teks QS al-Bayyinah ayat 2:

رَسُولٌ مِنَ اللَّهِ يَتْلُو صُحُفًا مُطَهَّرَةً
“(yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan (Al Quran)”

Haikal Hassan mengatakan ayat ini menggunakan kata “yatluw”, yang berbeda maknanya dengan kata “yaqra-u”. Menurut dia, kalau “yatluw” itu harus ada kertas di depannya. Kalau “yaqra-u” gak ada kertas apa-apa. Maka ayat di atas menurutnya mengindikasikan Nabi bisa membaca (apa yang tertulis dalam lembaran al-Qur’an).

Selanjutnya monggo disimak catatan saya yg mengulas pernyataan @haikal_hassan dan melihat pernyataan @felixsiauw UAS dan HRS, serta membandingkannya dengan 9 kitab tafsir 🙏

Tafsir al-Bayyinah Ayat 2: Benarkah Nabi Tidak Bisa Membaca?

 

Tidak Ada Komentar
Berikan komentar Batal
Comments to: Tafsir al-Bayyinah Ayat 2: Benarkah Nabi Tidak Bisa Membaca?

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Attach images - Only PNG, JPG, JPEG and GIF are supported.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Login


Khazanah GNH

Komunitas Santri Gus Nadirsyah Hosen

Global Nalar Hakekat
Kompleksitas persoalan kehidupan di abad modern ini meniscayakan terbentuknya sebuah komunitas, dimana anggota dari berbagai latarbelakang agama dan budaya, bisa saling belajar layaknya para santri, di sebuah rumah virtual bersama: Khazanah GNH

Khazanah GNH
Komunitas santri yang berwawasan global, mengindentifikasi beragam persoalan dan isu-isu aktual, dengan mengembangkan nalar yang sehat, bukan atas dasar keberpihakan politik sesaat, tapi melalui diskusi (kajian dan ngaji) akan hakikat kemanusiaan dan kehidupan. Dengan cara ini peradaban manusia yang tercabik-cabik dirajut kembali dengan keluhuran budi dan qalbu guna menebar rahmat dan kasih sayang pada semesta.”

Sudah terdaftar?