Sulaiman bin Abdul Malik berusia sekitar 40 tahun ketika akhirnya berhasil menggantikan kakaknya, al-Walid, sebagai Khalifah ketujuh dari Dinasti Umayyah. Al-Walid dan Sulaiman sebelumnya ditunjuk satu paket oleh ayahanda mereka, Khalifah Abdul Malik bin Marwan.

Dalam tulisan sebelumnya, Kekuasaan itu Meninabobokan [Tentang Khalifah Abdul Malik dan Al-Walid], saya ceritakan bagaimana al-Walid gagal menggeser Sulaiman dari jalur suksesi karena keburu wafat. Lantas, bagaimana sosok dan kepemimpinan Khalifah Sulaiman ini?

Sulaiman dibai’at menjadi Khalifah pada tahun 96 H. Dia tercatat sebagai perawi Hadits Nabi dari jalur ayahnya dan Abdurrahman bin Hunaidah. Sejarah mencatat bahwa dia dikenal sebagai orator ulung dan senang berperang. Dia melarang nyanyian dan musik. Dia telah menghidupkan kembali Sunnah Nabi untuk salat di awal waktu, yang mana sebelumnya, menurut Imam Suyuthi, Bani Umayyah mematikan Sunnah Nabi dengan mengakhirkan waktu salat.

Di samping itu, masih menurut Imam Suyuthi, Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik terkenal sebagai pecinta kuliner; dia bisa melahap satu ekor kambing sendirian, plus enam ekor ayam dan memakan enam puluh buah delima sebagai cemilan “cuci mulut”-nya. Namun demikian, dia seorang khalifah yang percaya diri bahkan sampai ke tingkat narsis.

Selanjutnya ngaji sejarah politik Islam pada kolom Jum’at Geotimes bisa dibaca pada link di bawah ini:

https://geotimes.co.id/khalifah-ketujuh-umayyah-sulaiman-yang-narsis/

Tabik,

Nadirsyah Hosen

Contributor
Tidak Ada Komentar
Berikan komentar Batal
Comments to: Khalifah Ketujuh Umayyah: Sulaiman yang Narsis

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Attach images - Only PNG, JPG, JPEG and GIF are supported.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Login


Khazanah GNH

Komunitas Santri Gus Nadirsyah Hosen

Global Nalar Hakekat
Kompleksitas persoalan kehidupan di abad modern ini meniscayakan terbentuknya sebuah komunitas, dimana anggota dari berbagai latarbelakang agama dan budaya, bisa saling belajar layaknya para santri, di sebuah rumah virtual bersama: Khazanah GNH

Khazanah GNH
Komunitas santri yang berwawasan global, mengindentifikasi beragam persoalan dan isu-isu aktual, dengan mengembangkan nalar yang sehat, bukan atas dasar keberpihakan politik sesaat, tapi melalui diskusi (kajian dan ngaji) akan hakikat kemanusiaan dan kehidupan. Dengan cara ini peradaban manusia yang tercabik-cabik dirajut kembali dengan keluhuran budi dan qalbu guna menebar rahmat dan kasih sayang pada semesta.”

Sudah terdaftar?