Dalam periode sebelumnya kalau khalifah yang terpilih seorang yang alim, saleh, dan baik, maka sejahteralah negara. Namun, kali ini, sistem sudah sedemikian bobrok, kondisi negara sudah karut-marut, maka secerdas apa pun, dan sesaleh serta sebaik apa pun, khalifah sudah terjeblos dalam sistem yang kacau-balau.

Pada periode ini rakyat dilanda kelaparan. Rakyat bertahan hidup dengan memakan apa saja, dari mulai rumput, sisa sampah, sampai anjing dan kucing liar. Harga roti dikabarkan enam kali lebih mahal. Bahkan sejumlah perempuan terpaksa menjadi kanibal memakan daging dan tubuh mayat.

Jadi, jangan lagi dikesankan hidup di masa khilafah zaman old itu semuanya makmur dan senang serta seolah negara tidak punya masalah. Masih ngeyel mau bilang khilafah adalah satu-satunya solusi bagi umat Islam? Mau makan kucing, anjing, dan mayat? Amit-amit, deh.

Simak selengkapnya dalam link di bawah ini:

Khalifah Al-Mustakfi yang Kehilangan Matanya dan Kekuasaannya Dikendalikan Bani Buwaihi

Tabik,

Nadirsyah Hosen
Penulis buku Islam Yes, Khilafah No! (Pesan buku lewat WA ke 081291533141)

Tidak Ada Komentar
Berikan komentar Batal
Comments to: Khalifah al-Mustakfi yang kehilangan Matanya Dan Kekuasaannya Dikendalikan Bani Buwaihi

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Attach images - Only PNG, JPG, JPEG and GIF are supported.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Login


Khazanah GNH

Komunitas Santri Gus Nadirsyah Hosen

Global Nalar Hakekat
Kompleksitas persoalan kehidupan di abad modern ini meniscayakan terbentuknya sebuah komunitas, dimana anggota dari berbagai latarbelakang agama dan budaya, bisa saling belajar layaknya para santri, di sebuah rumah virtual bersama: Khazanah GNH

Khazanah GNH
Komunitas santri yang berwawasan global, mengindentifikasi beragam persoalan dan isu-isu aktual, dengan mengembangkan nalar yang sehat, bukan atas dasar keberpihakan politik sesaat, tapi melalui diskusi (kajian dan ngaji) akan hakikat kemanusiaan dan kehidupan. Dengan cara ini peradaban manusia yang tercabik-cabik dirajut kembali dengan keluhuran budi dan qalbu guna menebar rahmat dan kasih sayang pada semesta.”

Sudah terdaftar?