Naskah Khutbah Idul Fitri

Nadirsyah Hosen

Ramadhan berlalu dan kita masih duduk termangu. Apa saja yang telah kita lakukan sebulan yang lalu? Tidakkah kita idamkan agar Ramadhan tahun ini berbeda dengan Ramadhan sebelumnya? Bukankah kita telah berniat agar Ramadhan tahun ini tumbuh kembali spirit cinta kita kepada ilahi?

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillahil Hamd

Ramadhan adalah persembahan seorang hamba kepada Sang Khaliq. Ketika sang Khaliq, dalam sebuah Hadits Qudsi, telah berseru: “Puasa itu untukKu”, maka setiap hamba bergetar saat memasuki Ramadhan. Getaran jiwa yang terus dijaga dan dipelihara selama bulan suci. Ke manakah getaran itu kini ketika Ramadhan telah berakhir?

Banyak yang berdebat menjelang datang dan berakhirnya Ramadhan: bilakah hilal telah terlihat? Namun jarang mereka memahami bahwa hilal juga bisa bermakna metafor: sudah siapkah jiwa kita yang penuh kegelapan tercerahkan oleh munculnya hilal di awal Ramadhan–cahaya untuk menyucikan diri. Maka, hari demi hari di bulan Ramadhan, cahaya hilal perlahan semakin terang benderang hingga puncak purnama di pertengahan Ramadhan.

Selengkapnya mohon disimak pada link di bawah ini:

https://geotimes.co.id/khutbah-idul-fitri-inikah-ramadhan-terakhir-kita/

Tidak Ada Komentar
Berikan komentar Batal
Comments to: Inikah Ramadhan Terakhir Kita?

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Attach images - Only PNG, JPG, JPEG and GIF are supported.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Login


Khazanah GNH

Komunitas Santri Gus Nadirsyah Hosen

Global Nalar Hakekat
Kompleksitas persoalan kehidupan di abad modern ini meniscayakan terbentuknya sebuah komunitas, dimana anggota dari berbagai latarbelakang agama dan budaya, bisa saling belajar layaknya para santri, di sebuah rumah virtual bersama: Khazanah GNH

Khazanah GNH
Komunitas santri yang berwawasan global, mengindentifikasi beragam persoalan dan isu-isu aktual, dengan mengembangkan nalar yang sehat, bukan atas dasar keberpihakan politik sesaat, tapi melalui diskusi (kajian dan ngaji) akan hakikat kemanusiaan dan kehidupan. Dengan cara ini peradaban manusia yang tercabik-cabik dirajut kembali dengan keluhuran budi dan qalbu guna menebar rahmat dan kasih sayang pada semesta.”

Sudah terdaftar?