Lanjutan ngaji sejarah politik Islam.
Pada periode Khalifah Al-Mu’tamid ini, bukan saja saudaranya yg bernama al-Muwaffaq menjadi the real khalifah, tapi jg sejumlah provinsi mulai memisahkan diri dari Dinasti Abbasiyah yg terpecah-belah.

Mereka memanfaatkan konsentrasi pemerintah pusat menghadapi pemberontak Zanj. Mesir dikuasai oleh Ahmad bin Thulun, Jenderal yang diangkat menjadi Gubernur dan malah membangun dinasti sendiri, yaitu Tuluniyah. Kekuasaanya meluas sampai ke Syiria. Ya’qub bin Laits menguasai wilayah Khurasan, Fars, dan wilayah Timur. Ya’qub membangun Dinasti Shafariyah. Tabaristan dikuasai kelompok Zaydiyah.

Pada periode ini, kita mencatat bahwa Al-Mu’tamid yang menjadi khalifah, namun al-Muwaffaq yang menjalankan kekuasaan. Bahkan sang Khalifah seolah diasingkan dari istananya sendiri. Al-Mu’tadhid yang bahu membahu berperang bersama ayahnya, al-Muwaffaq, melawan pemberontakan kaum Zanj, malah dimasukkan ke penjara oleh ayahnya. Selepas al-Muwaffaq wafat, bebaslah al-Mu’tadhid dan dia meguasai negara sampai Putra Mahkota al-Mufawwad pun dicopot oleh Khalifah al-Mu’tamid. Inilah peta percaturan politik pada masa itu.

Simak yuk kisah selengkapnya di https://geotimes.co.id/kolom/politik/al-mutamid-terpecah-belahnya-khilafah-abbasiyah/

Tabik,

Nadirsyah Hosen

Tidak Ada Komentar
Berikan komentar Batal
Comments to: Al-Mu’tamid: Terpecah-Belahnya Khilafah Abbasiyah

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Attach images - Only PNG, JPG, JPEG and GIF are supported.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Login


Khazanah GNH

Komunitas Santri Gus Nadirsyah Hosen

Global Nalar Hakekat
Kompleksitas persoalan kehidupan di abad modern ini meniscayakan terbentuknya sebuah komunitas, dimana anggota dari berbagai latarbelakang agama dan budaya, bisa saling belajar layaknya para santri, di sebuah rumah virtual bersama: Khazanah GNH

Khazanah GNH
Komunitas santri yang berwawasan global, mengindentifikasi beragam persoalan dan isu-isu aktual, dengan mengembangkan nalar yang sehat, bukan atas dasar keberpihakan politik sesaat, tapi melalui diskusi (kajian dan ngaji) akan hakikat kemanusiaan dan kehidupan. Dengan cara ini peradaban manusia yang tercabik-cabik dirajut kembali dengan keluhuran budi dan qalbu guna menebar rahmat dan kasih sayang pada semesta.”

Sudah terdaftar?