Gus Nadir

Mengkaji ISLAM Kontekstual bersama

Gus Nadir

Islam Enjoy Logo
Artikel ISNET

Samiri

Dear all,

al-Qur’an banyak menyimpan jutaan pesona. Salah satu pesona yang dimunculkannya adalah sejumlah kisah keajaiban dari makhluk yang dikasihi Allah. Namun al-Qur’an juga merekam kisah keajaiban lain yang berujung pada kesesatan.

Kisah Samiri direkam dalam al-Qur’an surat Thaha: 85-98. Begitu dahsyatnya keajaiban yang dimiliki Samiri sehingga ummat Nabi Musa banyak yang berpaling dari tauhid dan menyembah patung anak lembu yang bisa bersuara. Saat kejadian itu berlangsung, Nabi Musa sedang menerima 10 perintah Allah dan Nabi Harun sedang bersama-sama ummat Nabi Musa. Ummat Nabi Musa sendiri baru saja lolos dari kejaran Fir’aun. Mereka sendiri sudah menyaksikan bagaimana laut terbelah oleh tongkat Musa. Namun patung anak lembu berhasil mengecoh mereka ketika patung itu berkata, “Inilah Tuhanmu dan Tuhan Musa, tetapi Musa telah lupa.

Ketika Musa as menyaksikan keajaiban patung emas yang dibuat Samiri, berkata Musa, “Apakah yang mendorongmu (berbuat demikian) Hai Samiri?” Samiri menjawab, “Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya, maka aku ambil segenggam dari jejak Rasul lalu aku melemparkannya dan demikianlah nafsuku membujukku.” (QS. Thaha 95-96)

Konon para ahli tafsir berbeda pandangan tentang apa yang dimaksud dengan “jejak Rasul”. Sebagian mengatakan bahwa ketika Bani Israil menyeberangi Laut Merah, Samiri melihat malaikat Jibril berjalan di hadapannya menunggang kuda. Rasul di situ adalah Jibril. Ia mengambil tanah yang diinjak oleh malaikat. Tanah itu dimasukan ke dalam adonan patung emas yang dibikinnya. Dengan “berkat”” tanah itu, patung itu mempunyai kekuatan gaib. Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Rasul di situ adalah Nabi Musa as.

Terlepas dari apa yang dimaksud dengan jejak dan siapa yang dimaksud dengan rasul di situ, Al-Qur’an sebenarnya memberikan berbagai pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah seorang fasik dan sesat yang mampu memiliki kekuatan supranatural dengan mengambil ‘jejak Rasul’.

Adakah kawan-kawan yang hendak berbagi pemahaman dan pelajaran tentang kisah di atas? Adakah kawan-kawan yang bersedia menuliskan di sini hasil bacaannya terhadap kisah di atas? Monggo (Jawa)…..Mangga (Sunda)……Pisang-Jeruk-Duren (Ciputat)…

salam hangat,
=nadir=

Nadirsyah Hosen

Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School. Juga Pengasuh PonPes Ma'had Aly Raudhatul Muhibbin, Caringin Bogor pimpinan DR KH M Luqman Hakim.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.