Kebakaran hutan di Kalimantan, kelaparan di Irian, kemarau panjang di Jawa, pesawat jatuh di Sumatera dan gempa bumi di Sulawesi. Adakah pulau besar yang belum tersebut? Semua pulau besar di Indonesia tertimpa sengsara. Entahlah…mungkin ini belum berakhir. Mungkin ini hanya sebagian kecil dari “tanda” yang Allah berikan kepada kita. Tetapi sebagian besar diantara kita tak menyadari datangnya “tanda” itu.

Asap Kebakaran mungkin tak masuk ke dalam kantor-kantor megah di Jakarta, tangis saudara kita yang kelaparan di Irian mungkin tak terdengar oleh para petinggi kita, bergetarnya bumi pertiwi di Sulawesi boleh jadi tak mampu menggugah kesadaran mereka, bahkan boleh jadi, sebagian pengusaha sudah siap melarikan modalnya ke luar negeri ketika Rupiah semakin terpuruk.

Barangkali kita memang terlalu sombong untuk memahami bahwa Tuhan sedang murka, barangkali kita terlalu egois untuk menyadari bahwa tak seorangpun akan dapat menolak bencana yang Allah kirimkan,boleh jadi kita akan terlambat menyadari betapa bumi Indonesia ini sudah rusak oleh tingkah laku kita. Barangkali juga kita sudah lupa bahwa negeri akherat itu Allah jadikan untuk orang-orang yang tidak sombong dan tidak berbuat kerusakan di muka bumi (QS 28: 83). Tidak khawatir-kah kita kalau negeri akherat bukan milik kita?

Ketika pohon terakhir telah terbakar, ketika rumah terakhir sudah rata dengan bumi, ketika kursi empuk terakhir sudah usai diperebutkan, ketika darah terakhir sudah menetes, ketika keping rupiah terakhir sudah tak berharga lagi, ketika itu manusia baru sadar, bahwa kesombongan mereka tak enak untuk disantap.

Saya tiba-tiba teringat syair Emha Ainun Najib dalam Kado Muhammad:

“…..Tapi kita iseng terhadap sesama manusia, kita tidak serius terhadap nilai-nilai, bahkan terhadap Tuhan kita pun bersikap setengah hati!”

Saya hanya mampu berdo’a sebagaimana Allah menyuruh kita berdo’a:

“Ya Tuhan, jika Engkau sungguh-sungguh hendak memperlihatkan kepadaku azab yang diancamkan kepada mereka, ya Tuhanku, maka janganlah Engkau jadikan aku berada di antara orang-orang yang zalim.” (Qs 23: 93-94)

Armidale, 23 Oktober 1997

Reaksi visitor pada artikel ini.
Tampilkan komentar Sembunyikan komentar
Comments to: Iseng Terhadap Tuhan?
  • 8 April 2018

    Heum Heum

    Reply
Write a response

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Attach images - Only PNG, JPG, JPEG and GIF are supported.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Login


Khazanah GNH

Komunitas Santri Gus Nadirsyah Hosen

Global Nalar Hakekat
Kompleksitas persoalan kehidupan di abad modern ini meniscayakan terbentuknya sebuah komunitas, dimana anggota dari berbagai latarbelakang agama dan budaya, bisa saling belajar layaknya para santri, di sebuah rumah virtual bersama: Khazanah GNH

Khazanah GNH
Komunitas santri yang berwawasan global, mengindentifikasi beragam persoalan dan isu-isu aktual, dengan mengembangkan nalar yang sehat, bukan atas dasar keberpihakan politik sesaat, tapi melalui diskusi (kajian dan ngaji) akan hakikat kemanusiaan dan kehidupan. Dengan cara ini peradaban manusia yang tercabik-cabik dirajut kembali dengan keluhuran budi dan qalbu guna menebar rahmat dan kasih sayang pada semesta.”

Sudah terdaftar?