Jibril datang dan meminta Muhammad membaca. Muhammad menjawab: “Apa yang akan saya baca?” Seterusnya malaikat itu berkata:

“Bacalah! Dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan. Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah. Dan Tuhanmu Maha Pemurah. Yang mengajarkan dengan Pena. Mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya …” (Qur’an 96:1-5)

Membaca sebuah teks sebenarnya (paling tidak) melibatkan tiga hal: pengarang, teks dan pembaca. Ketiganya tidak bisa dipisahkan. Ada pengarang yang cerdas, namun teksnya dibaca oleh pembaca yang tidak cerdas; ada pula pengarang yang tidak cerdas, namun teksnya dibaca oleh pembaca yang cerdas. Semakin cerdas kita membaca sebuah teks, semakin cerdas pula teks itu memberikan respons. Kalimat terakhir ini juga berlaku saat membaca al-Qur’an. Surat yasin yang dibaca oleh bang Ali, tetangga saya di kampung utan, setiap malam Jum’at akan berbeda maknanya dengan surah yasin yang dibaca oleh Pak Syarif Junaedi, ilmuwan kebanggaan ummat Islam (amin).

Pengarang dan pembaca juga dipengaruhi berbagai faktor yang dapat menentukan kualitas teks yang ditulis maupun kualitas bacaan. Teks yang ditulis atau dibaca juga tidak netral. Teks itu hanyalah sebuah medium ide atau gagasan. Gagasan atau ide direduksi menjadi kata-kata, kemudian kata-kata dirangkai dengan mempertimbangkan unsur etika, estetika, bahkan unsur “nglindur”. Kompromi terjadi di sana-sini. Dengan kata lain, teks tidaklah dapat merangkum semua makna yang ingin disampaikan oleh pengarang. Pengarang, teks dan pembaca masing-masing memiliki keterbatasan.

Saya punya pengalaman menarik soal keterbatasan ini. Saat saya masih duduk di Madrasah Aliyah, hobbi saya membaca buku-buku “kelas berat” yang dibaca oleh anak IAIN seperti bukunya Fazlur Rahman. Harus jujur saya akui tidak semuanya saya paham. Tapi saya teruskan saja membaca. Ketika beberapa tahun kemudian saya duduk di bangku IAIN, saya mengikuti diskusi soal Fazlur Rahman dan memaksa saya membaca ulang buku-buku tsb. Kali ini saya mendapat pemahaman yang lain terhadap teks tsb.

Contoh lain baru terjadi kemarin. Saat saya membaca sebuah buku ttg sejarah pemikiran politik dalam Islam (karya Anthony Black), saya membaca mengenai risalah-nya Ibn Muqaffa. Saya terkejut dengan ide-ide Ibn Muqaffa yang dikutip itu. Saya heran, kok selama ini saya tidak menaruh perhatian pada tokoh ini. Lalu saya bongkar lagi arsip lama, ternyata pemikiran Ibn Muqaffa pernah saya baca sekitar 10 tahun lalu dan saat itu tidak saya anggap penting. Sekarang, di saat saya sudah belajar banyak hal, saya baru sadar arti pentingnya Ibn Muqaffa.

Hari ini saya membaca masalah law and morality. Saya terkejut ketika aliran natural law dan positivist yang saya baca itu ternyata sebagian bisa menjelaskan perdebatan-perdebatan yang terjadi belakangan ini soal Ulil dan Islam Liberal. Dulu saat saya belajar filsafat hukum pertama kali, saya tidak pernah mengaitkan hal-hal tsb dengan konteks penafsiran Islam. Saya terinspirasi ketika membaca ulang buku-buku legal theory. Kata orang, “lancar kaji karena diulang” 🙂

Pengayaan makna itu juga saya dapati ketika membaca al-Qur’an. Dalam sebuah pengajian di kota Armidale (NSW) sekitar tahun 1999, seorang brother dari Pakistan melantunkan ayat-ayat suci al-Qur’an. Saat mendengar itu ingatan saya melayang saat guru saya di Madrasah dulu membaca dan menafsirkan ayat itu. Ketika brother dari Pakistan membaca ayat yang sama, tiba-tiba saya menyadari bahwa telah terjadi perubahan dalam diri saya. Saat telinga saya mendengar ayat itu, saya secara otomatis mulai mengaitkannya dengan sejumlah pengalaman, sejumlah bacaan, sejumlah diskusi yang saya sudah jalani dalam rentang waktu antara keberadaan saya di Madrasah dengan posisi saya di Armidale. Ayatnya memang masih sama, namun pemahaman saya terhadap ayat (teks) sudah bertambah kaya. Dalam konteks ini, saya kira sungguh amat merugi orang yang berulang-ulang membaca sebuah teks (termasuk al-Qur’an) dalam berbagai kesempatan yang berbeda namun pemahamannya masih itu-itu saja.

Membaca adalah sebuah proses yang sangat penting dalam kehidupan kita. Ayat pertama yang turun berisi perintah untuk membaca. Sekarang berbagai bacaan ada di depan kita, andaikata kita bertanya seperti Muhammad SAW bertanya, “Apa yang akan saya baca?” Wahyu yang turun pertama kali itu tidak menjelaskan apa “obyek” bacaan kita. Yang diajarkan kepada kita adalah:

Apapun yang anda baca (termasuk membaca yang tidak terbaca) lakukanlah dengan menyebut nama Tuhanmu! Lewat bacaan itu Dia akan mengajarkan kepada kita apa yang sebelumnya tidak kita ketahui…

wa fawqa kulli dzi ‘ilmin ‘alim!
salam,
=nadir=

*) Pernah diposting di milis lain dan kemudian direvisi sebelum dikirim ke [email protected]

Login


Khazanah GNH

Komunitas Santri Gus Nadirsyah Hosen

Global Nalar Hakekat
Kompleksitas persoalan kehidupan di abad modern ini meniscayakan terbentuknya sebuah komunitas, dimana anggota dari berbagai latarbelakang agama dan budaya, bisa saling belajar layaknya para santri, di sebuah rumah virtual bersama: Khazanah GNH

Khazanah GNH
Komunitas santri yang berwawasan global, mengindentifikasi beragam persoalan dan isu-isu aktual, dengan mengembangkan nalar yang sehat, bukan atas dasar keberpihakan politik sesaat, tapi melalui diskusi (kajian dan ngaji) akan hakikat kemanusiaan dan kehidupan. Dengan cara ini peradaban manusia yang tercabik-cabik dirajut kembali dengan keluhuran budi dan qalbu guna menebar rahmat dan kasih sayang pada semesta.”

Sudah terdaftar?