Gus Nadir

Mengkaji ISLAM Kontekstual bersama

Gus Nadir

Islam Enjoy Logo
Wanita

Burqini yang Bikin Heboh

Tidak henti-hentinya sejumlah pihak di dunia barat dan timur terus menerus menyoroti cara perempuan berpakaian. Ada yang protes melihat perempuan mengenakan burqa (cadar) yang hanya memperlihatkan matanya saja dan di pihak lain ada yang keberatan melihat perempuan mengenakan bikni yang hanya memperlihatkan segala sesuatunya kecuali bra dan celana dalam. Dari kontroversi burqa dan bikini, muncullah burqini yang mengombinasikan keduanya.

Inilah pakaian renang untuk para perempuan (muslim dan non-muslim) yang hendak menikmati pantai dan laut tanpa harus membahayakan tubuhnya karena mengenakan pakaian lengkap dan juga mengakomodir pada perempuan yang karena satu dan lain hal tidak nyaman menampilkan bagian tubuhnya yang terbuka dan dilihat orang. Ini ide yang sangat brilian sebenarnya. Dan penjualan burqini (ada juga yang menulisnya burkini) melesat drastis. Burqini berhasil menyasar target market yang tepat baik untuk perempuan di barat maupun di timur. Burqini didesain pertama kali oleh desainer Australia, Aheda Zanetti., dan sekarang menyebar kemana-mana termasuk ke tanah air. Belakangan muncul model lain yang mirip namanya Velkini.

Selesaikah persoalan? Tidak juga. Sejumlah ulama protes karena burqini masih menonjolkan lekuk tubuh perempuan. Apa boleh buat, memang burqini didesain untuk dipakai ke pantai bukan ke majelis ta’lim. Mungkin harus ada produk baru yaitu burqini syar’i atau burqini halal 🙂

Di pihak lain, burqini dilarang di semumlah kolam renang maupun pantai di Perancis. Perancis memang bergolak belakangan ini dengan isu keislaman. Dua kali serangan teroris membuat sebagian pihak di sana sangat alergi dengan hal-hal yang berbau Islam. Setelah mereka melarang burqa beberapa tahun silam, sekarang mereka mau melarang pula burqini. Maunya kalau di pantai ya pakai bikini saja atau sekalian topless. Alasan mereka jadi mengada-ngada: memakai pakaian lengkap di kolam atau pantai akan membawa bakteri yang merugikan pihak lain. Ah entah bakteri apa yang mereka maksud. Yang jelas burqini tidak hanya dipakai oleh perempuan muslim tapi dari semua kalangan yang merasa lebih nyaman menggunakannya saat berenang.

Baju berenang pun ternyata sejarahnya juga panjang seperti yang saya tunjukkan lewat berbagai foto di sini. Kurang dari 200 tahun yang lalu baru dikenal pakaian khusus untuk berenang. Semula bentuknya juga panjang dan lengkap, lalu muncul aturan untuk tidak boleh terlalu pendek. Bahkan di salah satu foto ada polisi lelaki yang mengukur ketinggian baju renang perempuan di atas lutut. Mungkin saat itu belum ada polisi wanita (polwan) atau saat itu di Amerika perempuan masih dibawa aturan lelaki. Setelah itu bikini mulai diterima menjadi norma baru. Kemudian muncul pula pakaian yg lebih lengkap bagi para perenang professional.

Belakangan beredar pula foto para biarawati yang mengenakan pakaian lengkap di pantai. Apa ini akan dilarang juga? Atau para life guard di pantai yang mengawasi keselamatan dan memakai pakaian lengkap mirip burqini. Beberapa tahun silam saya tampilkan foto burqini kepada para mahasiswa saya di kelas Islamic Law yang saya asuh, jawaban mereka: “kalau saya tidak tahu konteks perdebatan burqini, saya akan menyangka mereka itu para perenang profesional dengan mengenakan pakaian seperti itu.”

Ya, konteks itu yang sekarang dipersoalkan. Burqini bukan dipandang sebagai pakaian biasa. Ada ideologi yang tengah bertarung di belakangnya secara terang-terangan. Kita menghendaki dunia yang lebih aman dan damai. Masih harus kerja keras kita semua untuk menuju ke arah sana.

Tabik,

 

Nadirsyah Hosen

Nadirsyah Hosen

Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School. Juga Pengasuh PonPes Ma'had Aly Raudhatul Muhibbin, Caringin Bogor pimpinan DR KH M Luqman Hakim.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *