Gus Nadir

Mengkaji ISLAM Kontekstual bersama

Gus Nadir

Islam Enjoy Logo
Syariah

Melacak Sumber Kutipan Imam Syafi’i Soal Panah Fitnah

Belakangan ini beredar luas kutipan yang dikatakan berasal dari Imam Syafi’i tentang ulama mana yang harus kita ikuti. Dari kutipan baik berbentuk tulisan maupun meme (gambar) itu konon Imam Syafi’i menyarankan kepada muridnya untuk mengikuti ulama yang terkena fitnah atau dibenci oleh orang kafir.

Saya penasaran. Di kitab mana Imam Syafi’i mengatakan demikian? Saya telusuri sejumlah kitab karya Imam Syafi’i yang saya miliki, dari mulai ar-Risalah, al-Umm, Diwan dan Musnad, tapi saya tidak menjumpainya. Begitu juga sejumlah kitab babon yang ditulis oleh para murid Imam Syafi’i juga saya coba telusuri, namun saya tidak mendapatkan sanad kutipan tersebut.

Dalam bahasa Arab kutipan yang beredar itu begini teksnya:

‎سئل اﻹمام الشافعي رحمه الله : كيف نرى الحق من بين كل هذه الفتن ؟ ‎فقال :اتبع سهام العدو ترشدك إلى الحق

Imam Syafi’i ditanya: “Bagaimana kita mengetahui pengikut kebenaran di jaman yang penuh fitnah?

Beliau menjawab: “Perhatikanlah panah-panah musuh (ditujukan kepada siapa), maka itu akan menunjukimu kepada siapa ‘Pengikut Kebenaran’ itu”.

Redaksi di atas telah dimodifikasi dalam berbagai versi yang viral sesuai kepentingan masing-masing. Misalnya yang saya temukan:

Versi pertama;

Imam Syafi’i berkata: “Carilah pemimpin yang banyak panah-panah FITNAH menuju kepadanya, IKUTILAH mereka yang banyak di FITNAH, Karena sesungguhnya mereka sedang berjuang di JALAN yang BENAR.”

Versi kedua:

Imam Syafi’i pernah berkata: Nanti di akhir zaman akan banyak Ulama yang membingungkan Umat, sehingga Umat bingung memilih mana Ulama Warosatul Anbiya dan mana Ulama Suu’ yang menyesatkan Umat.

Lantas murid Imam Syafi’i bertanya: “Ulama seperti apa yang kami harus ikuti di akhir zaman wahai guru?

Beliau menjawab: “Ikutilah ulama yang dibenci kaum kafir, kaum munafiq, dan kaum fasik. Dan jauhilah ulama yang disenangi kaum kafir, kaum munafiq, dan kaum fasik, karena ia ia akan menyesatkanmu, menjauhimu dari Keridhoan Allah“.

Saya menemukan pula di internet bahwa kutipan senada yang dinisbatkan kepada Imam Syafi’i itu juga sering disandarkan kepada Imam Ali bin Abi Thalib dan juga kepada Ibn Taimiyah. Jadi sebenarnya itu kutipan dari siapa? Wa Allahu a’lam.

Tapi yang jelas sejauh ini saya tidak menemukan rujukan dari kitab klasik manapun dan juga tidak mendapati sanad kutipan yang diklaim berasal dari pernyataan Imam Syafi’i. Terakhir, setelah usaha saya menelusuri lembaran kitab gagal, saya bertanya langsung kepada Syekh Ibrahim al-Shafie seorang ulama keturunan langsung dari Imam Syafi’i. Lewat WA beliau mengonfirmasi bahwa beliau pun tidak menemukan kutipan tersebut dalam kitab manapun baik dari Imam Syafi’i maupun dari murid-murid sang Imam.

Jadi, saya berani mengatakan bahwa kutipan di atas itu PALSU, sampai ada yang bisa menyebutkan sumber dan sanad kutipan tersebut dan kita verifikasi bersama kevalidannya.

Nah, kutipan di atas telah diviralkan sejumlah pihak sesuai kepentingannya. Para pendukung HRS misalnya mengatakan banyak fitnah terhadap HRS dari para musuh Islam dan itu membuktikan HRS sebagai ulama yang benar, berbeda dengan para ulama NU seperti Gus Dur dan Kiai Said Aqil Siradj yang justru disenangi oleh kaum kafir. Pendukung Gus Dur dan Kiai SAS juga melawan dengan menggunakan kutipan yang sama bahwa justru banyak sekali fitnah yang ditujukan kepada kedua kiai NU ini, dan itu menunjukkan mereka juga benar.

Yang mengejutkan ISIS pun ternyata memakai kutipan di atas dan mengatakan dulu panah musuh, sekarang pesawat tempur dan rudal musuh Islam ditujukan kepada mereka, maka merekalah kelompok yang benar dan harus diikuti umat Islam.

Saya ingin mengatakan bahwa kutipan di atas yang belum terverifikasi itu sudah menjadi BOLA LIAR dan dipakai untuk membela kepentingan masing-masing. Tapi jangan-jangan kita semua yang memakai kutipan di atas jadi turut berdusta atas nama Imam Syafi’i.

Dan kalau kita mau kaji lebih jauh, masak sih standar ‘kebenaran’ itu diukur dari berapa banyak fitnah yang ditujukan kepada ulama? Jangankan para ulama, lha wong saya saja yang bukan siapa-siapa sering kena fitnah dibilang liberal, Syi’ah, sesat, bahkan setiap saat akun saya di medsos diserang para haters. Apa otomatis itu menjadikan pendapat saya benar? Ya belum tentu. Ukuran kebenaran bukan semata-mata soal kebencian dan fitnah dari orang lain, tapi yang terutama adalah soal otoritas keilmuan dan kekuatan argumentasi berdasarkan Nash dan kitab-kitab rujukan.

Kembali ke masalah di atas. Saya tegaskan sekali lagi, bahwa klaim kutipan dari Imam Syafi’i di atas belum terverifikasi, dan harus kita anggap sebagai PALSU dan jangan lagi disebarkan selama belum ada sumber dan sanadnya. Kalau ada yang menyebarkannya, tanya saja: “di kitab apa Imam Syafi’i berkata demikian?” Jangan sampai kita dianggap berdusta atas nama Imam Syafi’i.

Mari kita kirimkan al-Fatihah untuk Imam Syafi’i 🙏

Tabik,

Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School

Ps.

Keterangan foto: bersama Syekh Ibrahim al-Shafie, keturunan Imam Syafi’i.

 

Nadirsyah Hosen

Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School. Juga Pengasuh PonPes Ma'had Aly Raudhatul Muhibbin, Caringin Bogor pimpinan DR KH M Luqman Hakim.

This Article Has 18 Comments
  1. adib Reply

    Asslamualaikum ww. syukran Gus, semoga semakin banyak orang yang sadar bahwa ternyata banyak sekali postingan2 yang seakan bernada dakwah dan anjuran menegakkan agama di medsos tapi jangan sampai membutakan mata untuk melihatnya dari sudut yang benar-benar obyektif dan kritis berdasarkan ilmu agama. Semoga Gus Nadir selalu diberikan kesehatan dan kekuatan dalam memperjuangkan agama Allah swt. Nahdliyin Depok.

  2. Abdul Hakim Reply

    Akhirnya, ada orang kompeten menuliskan tentang hal ini. Terima kasih, Gus Nadir

  3. Uswah Reply

    Terimakasih penjelasannya Gus. Saya selalu merasa tercerahkan ketika membaca tulisan* Njenengan

  4. Fahrudin Ali Achmad Reply

    Nderek tabaruk Gus Nadir
    Berkahipun Gus Istri Kulo tasih hamil mugi pinaringan sehat soho dipun paringi putra ingkang sholeh sholekhah, manfaat barokhah aminnnn

  5. Nurudin Siraj Reply

    Mantap tulisan nya

  6. bekti Reply

    objektif, dan berbasis pada ilmu, mantab terima kasih gus

  7. M yusuf Reply

    Sangat ilmiah gus, mantap

  8. Miftahul anam Reply

    Terima kasih Prof.. Mohon izin share

  9. Hilmy Reply

    Maturnuwun gus, saestu jos tenan haha

  10. Ismail bin ahmad rahman Reply

    Kebetulan sy mencari referensi kebenaran dan mampir disini. Hal senada jg dlam pkiran semoga Allah SWT memudahkan kt dan memberikan hidayah srta kt semua trhindar dari segala fitnah.. amin

  11. bambang udayana Reply

    Tercerahkan dan sangat membantu..

  12. Didit Syaifuddin Reply

    Matur nuwun Gus atas tulisannya, menambah ilmu dan melatih untuk selalu mencari tahu kebenaran suatu hadist dan hal2 yg berkaitan dg agama islam.

  13. Nefan Kristiono Reply

    Terima kasih atas penjelasannya Gus Nadirs. Teruslah memberi pencerahan soal keislaman sehingga saya yang awam ilmu agama karena sangat tidak mampu memahami teks-teks asli dan orisinal sendirian, bisa dengan mudah memahaminya. Setidak-tidaknya saya tidak akan terlalu jauh tersesat di dunia ini. Sekali lagi terima kasih, Gus.

  14. Yudhi Reply

    Terima Kasih pk. Ustadz utk klarifikasinya sehingga kita bisa mendapatkan info yg sebenarnya.
    Tapi sayangnya info bpk tdk bisa dishare melalui WA atau sejenisnya.

  15. Ahmad Haidaroh Reply

    Alhamdulilah nambah catetan gus

  16. Apendiks_ Reply

    Gus Nadir, gus rambutnya waktu foto belum gondrong atau dilipet di balik peci gus *peace he hee

  17. Mukti Wibowo Reply

    Matur suwun Gus nadir atas pencerahannya karena kami adalah orang awam. Semoga Gus selalu sehat.
    Jika dilihat dari sumbernya,kutipan yg beredar itu PALSU, tapi usnudzon saya kutipan itu mungkin hasil tafsir atau bahasa penyampaian yg agar gampang dimengerti atau dicerna oleh kalangan tertentu.
    Atau Gus boleh kasih tafsir kepada kami tentang kutipan yg asli berbahasa Arab agar mudah kami cerna agar tidak semakin bingung
    Matur suwun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *