Gus Nadir

Mengkaji ISLAM Kontekstual bersama

Gus Nadir

Islam Enjoy Logo
Syariah

Mihrab Nabi: Sejarah dan Isu Bid’ah

mehrab-of-masjid-e-nabwi

Mihrab di area raudhah Masjid Nabawi, Madinah (Sumber: islamiclandmarks.com)

Mihrab yang ada di sebagian besar Masjid itu sebenarnya memiliki sejarah panjang. Al-Qur’an mengindikasikan bahwa mihrab sudah ada di masa Nabi Daud, Nabi Zakariya dan Siti Maryam. Namun mihrab pada masa itu bentuknya seperti bilik atau ruangan (lihat Tafsir Ibn Katsir), bukan seperti yang kita kenal sekarang ini berupa ceruk yang menjorok ke depan tempat Imam berdiri memimpin shalat.

Mihrab dalam pengertian yang pertama (bilik atau ruangan tertutup di dalam masjid) dianggap khas tradisi sebelum Islam. Namun mihrab dalam pengertian kedua, ceruk tempat imam memimpin shalat, adalah mihrab khas dalam tradisi Islam. Namun ternyata bentuk mihrab ini pun tidak ada di masjid Nabawi pada jaman Nabi Muhammad SAW. Maka pertanyaannya bid’ah kah membangun mihrab di Masjid untuk imam berdiri memimpin shalat?

Seperti biasa, soal per-bid’ah-an ini sebaiknya kita tanya kepada mereka yang hobi sekali berbicara soal bid’ah, yaitu kaum Wahabi. Penyebutan istilah Wahabi ini merujuk pada ungkapan Syekh Bin Baz, saat itu Mufti Saudi Arabia, yang justru menggunakan istilah Wahabi untuk para pengikut Muhammad bin Abdul Wahab, seperti beliau ungkapkan dalam Majmu’ Fatawa Bin Baz (Jadi, tolong tidak usah protes ke saya kalau saya pakai istilah Wahabi!).

Syekh al-Albani, salah satu rujukan terbesar kelompok Wahabi, memfatwakan bahwa mihrab di dalam Masjid itu bid’ah sebab tidak ada riwayat dari Nabi yang memerintahkan membangun mihrab, bahkan ada riwayat hadits hasan yang melarang membuat mihrab. Selain itu, mihrab kesannya mengekor pada tradisi yahudi dan nasrani. Namun demikian, fatwa Syekh al-Albani ini berbeda dengan fatwa Syekh Bin Baz yang membolehkan membangun mihrab karena generasi sebelumnya telah membuat mihrab dan banyak manfaatnya seperti mengetahui bahwa itu bangunan masjid dan juga arah kiblatnya. Menurut Syekh Utsaimin, yang juga ulama besar Wahabi, kalaupun ada larangan Nabi untuk membuat mihrab itu maksudnya adalah dalam pengertian yang pertama, yaitu mihrab tradisi yahudi dan nasrani bukan mihrab dalam bentuk yang sekarang ada.

Perbedaan fatwa di kalangan ulama Wahabi ini menunjukkan bahwa memang hal biasa saja para ulama berbeda pendapat, bahkan di kalangan yang sama-sama mengaku berpegang teguh pada al-Qur’an dan Hadits pun para ulamanya berbeda pandangan. Hadis yang dipegang oleh Syekh al-Albani di atas dianggap dhaif oleh ulama lainnya atau dimaknai secara berbeda. Biar fair, di kalangan ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Aswaja) juga ada yang membid’ahkan mihrab, yaitu Imam Jalaluddin al-Suyuthi.

Jadi, kalau sesama Wahabi berbeda pandangan, di lain kesempatan bisa juga terjadi pandangan seorang ulama wahabi berkesesuaian dengan pandangan seorang ulama Aswaja. Dan dalam pembahasan lain, bisa jadi mereka semua saling berbea pandangan. Dalam tradisi ilmiah hal ini dimungkinkan terjadi. Jadi, tidak usahlah ngeyel menyalahkan sana-sini dan merasa sebagai kelompok yang paling berpegangan pada Qur’an dan Sunnah. Woles aja mas bro 🙂

Namun kapankah mihrab mulai dibangun di dunia Islam?

Mihrab dalam pengertian ceruk tempat Imam memimpin shalat memang tidak ada pada jaman Nabi. Tapi apakah sesuatu yang tidak ada pada jaman Nabi lantas kalau diadakan pada masa kemudian langsung dihukumi bid’ah? Mihrab itu kan ‘cuma’ teknis beribadah, bukan bagian dari ibadah ritualnya. Yang disebut bid’ah itu hanya berkenaan dengan inti ibadah mahdhah saja. Kalau tidak bisa membedakan mana ibadah mahdhah dan mana yang ghairu mahdhah, maka kita akan pukul rata: semua yang tidak terdapat pada jaman Nabi dianggap bid’ah.

Mihrab yang kita kenal saat ini dibangun pada masa Khalifah Mu’awiyah menurut satu pendapat. Pendapat lain mengatakan mihrab di Masjid Nabawi mulai dibangun pada masa Umar bin Abdul Azis sebagai Gubernur Madinah di masa Khalifah al-Walid I (Khalifah keenam dinasti Umayyah). Renovasi masjid yang melibatkan pembangunan mihrab ternyata diterima oleh para sahabat dan tabi’in pada masa itu.

Diduga kuat, Nabi Muhammad pernah shalat di lokasi mihrab yang saat ini terdapat di Masjid Nabawi, di antara mimbar dan makam Nabi. Di Masjid Nabawi sendiri saat ini ada lima mihrab lainnya, yang lokasinya berbeda-beda: Mihrab Utsmani, Mihrab Sulaiman, Mihrab Tahajud, Mihrab Fatimahdan Mihrab Tarawih. Kalau memang mihrab itu bid’ah, maka total terdapat 6 bid’ah di masjid Nabawi saat ini. Untunglah jumhur ulama menganggap mihrab di dalam masjid itu bukan bid’ah. Itulah pula sebabnya masjid di tanah air dan belahan dunia lainnya banyak yang menggunakan mihrab.

Pada mihrab
Ku bersujud Ya Rabb
Meski aku bukan orang Arab
Semoga hati kita terasa akrab

Tabik,

Nadirsyah Hosen

Nadirsyah Hosen

Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School. Juga Pengasuh PonPes Ma'had Aly Raudhatul Muhibbin, Caringin Bogor pimpinan DR KH M Luqman Hakim.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *