Gus Nadir

Mengkaji ISLAM Kontekstual bersama

Gus Nadir

Islam Enjoy Logo
Filsafat

Kisah Terusan Kiai Tua dan Kiai Muda (4): Bertemu Jin

Selepas menikmati acara akikah berikut jamuan tuan rumah, kedua Kiai meneruskan perjalanannya. Mereka keluar dari perkampungan dan untuk kesekian kalinya memasuki hutan. Selepas shalat Ashar mereka bedua bersandar pada pohon besar sekedar merehatkan punggung dan meluruskan kaki mereka.

Kiai Muda tanpa sengaja kakinya menyepak sebuah botol. Botol itu bentuknya terlihat unik, aneh dan kotor. Sebagai rasa penyesalan karena tanpa sengaja sudah menyepak botol itu, maka Kiai Muda mengambil botol itu dan mulai membersihkannya dengan mengusap botol itu. Tanpa disangka keluarlah dari dalam botol sebentuk makhluk.

“Assalamu alaikum dua manusia budiman. Saya jin muslim berterima kasih sudah dibebaskan dari botol ini. Saya akan penuhi 3 permintaan masing-masing dari anda.”

“wa alaikum salam”, jawab Kiai Muda seolah tak percaya dengan apa yang disaksikannya. Kiai Tua tersenyum melihat peristiwa ini.

Kiai Muda kemudian berkata: “permintaan pertama saya: jadikan saya manusia paling alim di kalangan para ulama di Indonesia!”

Kiai Tua nyeletuk: “yang jelas dong…maksudnya ulama yang mana: NU, Muhammadiyah, MUI atau yang lain?”

Kiai Muda menjawab, “ya pokoknya saya mau jadi orang alim yang ilmunya melebihi semua ulama baik dari NU, Muhammadiyah maupun MUI.”

Jin menjawab: “baik, saya sudah catat.”

“Permintaan saya yang kedua,” Kiai Muda meneruskan omongannya, “saya minta diberi harta yang paling kaya di dunia ini”

Kiai Tua kembali menyeletuk, “yang jelas dong…lebih kaya dari Sultan Hasanal Bolkiah, atau Bill Gates atau Mark Zuckerberg?”

Kiai Muda gregetan menjawabnya, “ya pokoknya melebihi mereka semua. Saya ingin menjadi yang paling kaya! Saya kira Jin ini sudah paham maksud saya.”

Jin menjawab, “baik, saya sudah catat. Lantas permintaan ketiga?”

Dengan senyum malu-malu, Kiai Muda berkata, “Saya ingin mendapat istri yang paling cantik sejagat.”

Kiai Tua menyeletuk lagi: “yang jelas dong…secantik gadis ayu di tepi sungai tempo hari, atau seperti Jennifer Lopez atau Jennifer Lawrence?”

“Pokoknya cantiknya melebihi mereka semua!” Kiai Muda tak sabaran menjawab, “Jin, catat yah….paling cantik sejagat raya!”

Jin mengangguk. Lantas Jin menoleh kepada Kiai Tua. “Bagaimana dengan anda?”

Kiai Tua membenahi posisi duduknya, terus berkata dengan penuh wibawa:

“Permintaan pertama, saya minta kamu untuk tidak mengabulkan satupun permintaan kawan saya ini. Kedua, saya minta kamu balik lagi ke dalam botol. Dan ketiga, saya minta siapapun yang mengusap dan apapun yang terjadi, kamu tidak boleh keluar lagi dari botol itu. Mengerti?!”

Jin langsung masuk ke dalam botol mendengar permintaan yang seperti perintah dari Kiai Tua.

Kiai Muda matanya terbelalak dan mulutnya terbuka lebar membentuk huruf A. “Pak Yaiiiii…..apa yang telah Pak Yai lakukan?!”

Kiai Tua terkekeh-kekeh. “Kalau sampean jadi ketuanya para ulama, paling kaya dan istri paling cantik, lha terus yang menemani saya jalan keluar masuk hutan ini siapa?” Jawab Kiai Tua dengan enteng.

Mulut Kiai Muda tertutup. Kepalanya menggeleng. Kakinya menghentak-hentak. “Ya Allah kenapa saya jalan bareng kiai gila ini!” mbatinnya menjerit.

Kiai Tua terus bangun bersiap meneruskan perjalanan:

“Jin aja kok kamu percaya. Jin Muslim sekalipun itu sikapnya suka iseng dan suka berbohong. Ya persis seperti orang Muslim yang meski Muslim tapi omongannya belum tentu bisa dipercaya. Godaan utama buat para salik (pejalan) seperti kita berdua ini adalah sering menghayal minta ini dan itu. Disangkanya dengan berjalan menuju Allah maka kita akan dapat berbagai kenikmatan dengan cuma-cuma dan instan. Ada jarak dan proses serta prosedur antara Kun menuju Fayakun. Allah saja menciptakan semesta dalam enam masa. Masak kamu mau segampang itu mau jadi yang paling alim, paling kaya dan istrinya paling cantik. Dalam perjalanan mencari ridha Allah ini mari kita belajar mematikan keinginan bukan malah mengumbar keinginan dengan jalan pintas. Sudah, ayo jalan lagi kita!”

Kiai Muda bangkit dengan gontai. Dia menundukkan kepala dan masih belum bisa menerima sepenuhnya bahwa gara-gara Kiai Tua apa yang dia inginkan lenyap dalam sekejap.

Bersambung….bi idznillah

Tabik,

Nadirsyah Hosen


ps.
kisah di atas terinspirasi surat al-Jin dan film ghostbusters 🙂

Nadirsyah Hosen

Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School. Juga Pengasuh PonPes Ma'had Aly Raudhatul Muhibbin, Caringin Bogor pimpinan DR KH M Luqman Hakim.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *