Gus Nadir

Mengkaji ISLAM Kontekstual bersama

Gus Nadir

Islam Enjoy Logo
Sufi

Kepekaan

Pekak‘ itu tuli. Ini soal telinga. Tapi ‘peka‘ itu mudah merasa. Ini soal hati. Orang yang pekak tidak mendengar suara apapun, tapi ia masih bisa mendengar suara hatinya. Orang yang tidak peka, telinganya masih bisa mendengar namun nuraninya sudah tertutup.

Iwan Fals pernah bersenandung: “Nyanyian jiwa haruslah dijaga. Mata hati haruslah diasah.” Mereka yang jiwanya selalu bernyanyi, jiwanya tetap hidup dan akan mudah merasakan apa yang dialami dan dirasakan oranglain. Mereka yang selalu mengasah mata hatinya akan bisa melihat apa yang tersembunyi atau disembunyikan.

Ini alinea ketiga. Kata guruku, Mbah Candra Malik, menulis tiga alinea saja, selebihnya akan membosankan. Maka aku pun peka mendengar maksud hatinya. Bukankah ada orang yang telah Allah tutup hati, pendengaran dan penglihatannya, sehingga sama saja mau ditulis panjang lebar pun dia akan tetap gagal paham. Kadang kita harus ‘peka’ pada mereka yang memilih untuk ‘pekak’.

Tabik,

Nadirsyah Hosen
*merasakanMu adalah caraku mendengarMu*

Nadirsyah Hosen

Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School. Juga Pengasuh PonPes Ma'had Aly Raudhatul Muhibbin, Caringin Bogor pimpinan DR KH M Luqman Hakim.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *