Gus Nadir

Mengkaji ISLAM Kontekstual bersama

Gus Nadir

Islam Enjoy Logo
Hikmah

Lelaki Pecinta Rintik Hujan

Begitulah ketika kau buka kanal pintu hatimu, maka cintaku membanjiri relung hatimu hingga tak lagi kau peduli kapan ini akan surut 💘

*

#Cinta itu bukan soal rintik hujan. Tapi butir air mata di pipimu dan kecupan di kelopak matamu sambil berbisik: ‘semoga ini tanda bahagia’

*

Kau tahu kenapa aku menunggu saat hujan begini? Karena itu caraku mengenang kali pertama ku kecup keningmu. Air matamu buatku menggigil beku

*

Hujan ini mengingatkanku saat kita berlari-bekejaran tanpa payung. Kini cintaku telah memayungi hidupmu, tp ciuman kita tetap basah kan?

*

Kau minta aku membaca air matamu? Bagaimana mungkin! Mataku pun telah basah oleh hujan rahmatNya sebagai tanda langit merestui kita

*

Isak tangis bukan sekedar teks yang kamu capture dan kamu viralkan. Ratapan hati pujangga tak bisa terwakili dalam beribu meme, beib!

*

Tapi aku bukan sekedar rintik, aku badai hujan yang mengoyak pintu hatimu hingga kau pun berteduh dan berlindung dalam peluk haruku

*

Kasih, kalau kau tunggu saat hujan mereda, lantas bagaimana dengan hujan rinduku? 💕

*

Hujan mungkin menghapus jejak setapak kita. Biarlah. Tapi hujan tak akan sanggup menghapus tatap mata kita. Indah!

*

Pernahkah kau dengar hujan bisa cemburu? Iya, itu terjadi disaat hujan semakin lebat, tapi tubuh kita semakin merapat-erat

*

Saat sedu sedan mu menyapu kalbu, masih perlukah aku tabayun: inikah yang kau tunggu, kasih, berayun di kalbu ku?

*

Kau begitu menggemaskan, berlari ke genangan air dan berputar sambil tertawa. Mengenang masa kecil katamu. Ah genangan berupa kenangan

*

Masih belum paham jugakah dirimu? Saat ku merindu, bunyi rintik hujan bagai degup jantungmu. Aku tak sanggup menahan petir tangisku

*

Kalau kau benar sayang padaku, petikkan butir hujan untukku | Kasih, petikkan dulu butir air matamu dan taruh di dadaku

*

Kau tanya mengapa lembar surat cintaku kosong? Itu karena ku tulis dengan tinta air mataku di tengah badai hujan rinduku

*

Jika cinta hanya berupa kata, kau masih sanggup mempermainkannya. Tapi cintaku berupa hujan. Angkat wajahmu. Kau hanya bisa terpesona

*

Aku tak ingin mencintaimu dengan sederhana. Cintaku serumit hujan, sekilat petir & sebadai angin. Sapardi Djoko Damono pun akan memakluminya

*

Kasih, kenapa cintamu selalu lebih lambat dari ramalan cuaca. Hujan telah tiba, tapi kamu entah dimana. Haruskah terus menunggu kemarau mu?

*

Tirulah hujan, kasih. Semuanya tercurah tanpa pura-pura. Masa lalu pun terhapus tanpa beban. Kita tinggal mempuitiskannya saja sayang

Tabik,

Nadirsyah Hosen

Nadirsyah Hosen

Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School. Juga Pengasuh PonPes Ma'had Aly Raudhatul Muhibbin, Caringin Bogor pimpinan DR KH M Luqman Hakim.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *