Gus Nadir

Mengkaji ISLAM Kontekstual bersama

Gus Nadir

Islam Enjoy Logo
Internasional

Syekh Abdullah al-Harari: Pendekar Aswaja

Beberapa waktu lalu, KH Ahmad Mustofa Bisri di akun facebook beliau men-share video Syekh Abdullah al-Harari yang tengah berkisah tentang barakah dari bilik Nabi. Dikisahkan betapa dulu seseorang dari Lebanon yang berziarah ke makam Baginda Rasul dan memasukkan jari-jarinya ke sela-sela bilik Nabi dan ternyata penyakitnya sembuh. Subhanallah!

Syekh al-Harari mengatakan bahwa Wahabi tidak paham hal-hal seperti ini, bahkan mereka menghalau jamaah yang mendekat dan berlama-lama di depan makam sang kekasih baik berdoa atau hanya sekedar melongok ke dalam lewat celah yang ada. Mereka mengira kita mau menyembah dan mengultuskan Nabi. Gagal paham mereka!

Pak Yai Mustofa Bisri kemudian menulis: “Dalam beragama, aku lebih senang, dan lebih memilih mengikuti orang alim yang tawadhuk seperti Syekh Abdullah Al-Harari ini.

Disebutkannya nama Syekh al-Harari ini mengingatkan saya saat tahun 2012 saya tinggal sebentar di Cairo. Di Cairo, saya ditunjukkan oleh Mas Ahmad Hadidul Fahmi sebuah kitab karya Syekh Abdullah al-Harari yang berjudul Al-Ta’aqub Al-Hatsits ‘Ala Man Tha’ana Fi Ma Shahha Min Al-Hadits. Kitab ini tipis tapi bahasannya amat dalam. Kitab ini scara khusus membantah berbagai pernyataan Syekh Nashiruddin al-Albani, yang menjadi rujukan utama Wahabi dalam soal Hadits. Syekh Abdullah Ghumari, ahli Hadits dari Maroko, mengomentari bahwa apa yang ditulis oleh Syekh al-Harari itu merupakan bantahan yang tepat dan baik.

Syekh al-Harari (1910-2008) adalah salah seorang pendekar Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang membentengi akidah Aswaja dari gempuran Wahabi. Beliau bukan saja hafal al-Qur’an pada usia 7 tahun tetapi juga hafal kutubus sittah (6 kitab utama Hadits) dan berbagai kitab Hadits lainnya lengkap dengan isnad-nya saat berusia 18 tahun. Beliau kemudian melanjutkan pelajarannya dengan menguasai ilmu fiqh dari 4 mazhab utama. Ditambah lagi dengan menguasai 14 qiraat al-Qur’an. Komplit ilmunya. Namun seperti kata Pak Yai Mustofa Bisri, Syekh Abdullah al-Harari ini sangat tawadhuk.

Salah satu bukti ketawadhukan beliau adalah meminta dua ulama Indonesia memberi kata pengantar pada kitab al-Ta’aqub al-Hatsits yang ditunjukkan Mas Fahmikepada saya di Cairo. Dan ini alasannya Mas Fahmi menunjukkan dan menghadiahkan kitab tersebut kepada saya: salah satu ulama Indonesia yang menulis kata pengantar itu adalah Abah saya, Prof KH Ibrahim Hosen LML. Ulama satunya lagi adalah KH Syafi’i Hadzami.

Syekh al-Harari yang disebut-sebut sebagai pembela Aswaja yang paling gigih telah mendirikan kelompok Ahbasy yang kemudian menyebar ke penjuru dunia termasuk Australia. Pengikut beliau Syekh Dr Salim Alwan mendirikan Darul Fatwa di Australia. Bulan lalu Syekh Salim datang ke Pesantren al-Hikam, Depok, menemui KH Ahmad Hasyim Muzadi.
Syekh Salim kemudian menawarkan gagasan untuk membuat semacam Mu’tamar para pakar Islam sedunia.

Kiai Hasyim menyambut ide tersebut tapi beliau bilang akan konsultasi dulu dengan para ulama kaliber internasional mengenai gagasan tersebut. Di media massa, Kiai Hasyim menyebut sejumlah nama yang akan beliau mintakan dulu pandangannya. Entah media salah tulis atau bagaimana, nama saya disebut juga oleh Kiai Hasyim.

Setelah itu Syekh Alwan mencari tahu tentang saya –mungkin aneh juga beliau kok nama saya disebut. Syekh Salim yang berada di Sydney kemudian menghubungi saya di Melbourne. Terjalinlah komunikasi kami dan sekalian saya mengundang Syekh Salim untuk berpidato di acara Konfercab PCI Australia-New Zealand 1-2 Oktober di Adelaide nanti.

Lantas saya singgung kitab al-Ta’aqub al-Hatsits di atas dan saya jelaskan bahwa abah saya ikut menulis kata pengantarnya. Beliau terkejut dan mungkin baru ngeh kenapa Kiai Hasyim sebelumnya menyebut-nyebut nama saya (yang dianggap alim itu sebenarnya abah saya, dan bukannya saya yang gak punya ilmu apa-apa) karena sudah ada “koneksi” sebelumnya antara abah saya dan syekh al-Harari (gurunya syekh Salim).

Begitulah jaringan antar ulama terbina. Para guru saling menghormati, dan kami para murid saling melanjutkan kerjasama ini. Para ulama menjaga aqidah Aswaja, dan kami berusaha terus mengambil barakah dari para ulama. Semoga kita semua dapat belajar dari kedalaman ilmu, dan ketawadhukan para ulama Aswaja.

Maha Suci Engkau Ya Rabb,
Sungguh kami tak punya ilmu apapun kecuali apa-apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami.

Tabik,

Nadirsyah Hosen


syekhharari1 syekhharari2 syekhharari3 syekhharari4 syekhharari5

Nadirsyah Hosen

Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School. Juga Pengasuh PonPes Ma'had Aly Raudhatul Muhibbin, Caringin Bogor pimpinan DR KH M Luqman Hakim.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *