Hari minggu pagi ini saya bersiap untuk mengisi pengajian tafsir al-Qur’an di Majelis Khataman Doa dan Dzikir Melbourne. Saya sempatkan lihat-lihat twitter mengenai perkembangan dunia Islam. Perhatian saya tertuju pada pemilu legislatif di Iran.

Pertarungan antara kelompok konservatif dan reformis begitu nyata di Iran. Saya bukan pengamat politik timur tengah jadi saya tidak banyak tahu apa yang terjadi di sana. Tapi satu hal yang luar biasa adalah perubahan image iran. Kalau dulu imagenya adalah Iran dengan foto-foto perempuan berjilbab panjang dan hitam.
Revolusi Iran tahun 1979 menghembuskan cotra perempuan dg jilbab panjangnya dan sejak itulah mulai berkembang gerakan jilbab ke penjuru dunia Islam termasuk Indonesia. Jilbab dikaitkan dengan politik di masa orde baru –dan karenanya sempat dihambat dan dilarang di sejumlah sekolah.

Kerudung mahasiswi IAIN, santri dan ibu2 majelis ta’lim pun berganti dengan jilbab –dan makin lebar dan panjang. Dari hijab syar’i sampai jilbab halal.

Tapi hari ini foto-foto pemilu legislatif di Iran menampilkan foto para perempuan Iran yang memakai kerudung. Ada apa dengan Iran? Apakah Iran sekarang sudah berubah?
Atau ini hanya fenomena terbatas?

Mungkin ada kawan-kawan yang bisa bercerita banyak soal Iran dan perempuan di sini? Ditunggu pencerahannya.

Contributor
Tidak Ada Komentar
Berikan komentar Batal
Comments to: Iran yang Berubah

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Attach images - Only PNG, JPG, JPEG and GIF are supported.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Login


Khazanah GNH

Komunitas Santri Gus Nadirsyah Hosen

Global Nalar Hakekat
Kompleksitas persoalan kehidupan di abad modern ini meniscayakan terbentuknya sebuah komunitas, dimana anggota dari berbagai latarbelakang agama dan budaya, bisa saling belajar layaknya para santri, di sebuah rumah virtual bersama: Khazanah GNH

Khazanah GNH
Komunitas santri yang berwawasan global, mengindentifikasi beragam persoalan dan isu-isu aktual, dengan mengembangkan nalar yang sehat, bukan atas dasar keberpihakan politik sesaat, tapi melalui diskusi (kajian dan ngaji) akan hakikat kemanusiaan dan kehidupan. Dengan cara ini peradaban manusia yang tercabik-cabik dirajut kembali dengan keluhuran budi dan qalbu guna menebar rahmat dan kasih sayang pada semesta.”

Sudah terdaftar?