Kata Pengantar Buku Wajah Muslim Indonesia:

Nadirsyah Hosen

Sejak menjamurnya survei dan polling di tanah air paling tidak dalam satu dekade ini, diskursus publik banyak melibatkan angka. Dari mulai pemilu sampai masalah radikalisme disajikan melalui angka yang diperoleh dari hasil survei. Buku yang ditulis Hasanuddin Ali dan Lilik Purwandi mengikuti trend ini. Namun demikian, tetap saja buku ini memiliki kontribusi unik dari kajian serupa. Itulah sebabnya saya menyambut baik terbitnya buku ini dan hendak mengucapkan selamat kepada penulisnya.

Pertama, buku ini merupakan penanda pergeseran kajian akademis yang selama ini terfokus pada argumen kualitatif. Misalnya, perdebatan kategori santri, priyayi dan abangan dalam studi antropologis Geertz mendadak menjadi ‘kering’ dihadapkan dengan temuan terbaru buku ini yang mengandalkan data dari opini responden. Isunya sudah lebih menukik lagi: bagaimana praktek keagamaan dipersepsi oleh para pelakunya sendiri.

Buku ini misalnya menyodorkan temuan menarik:

“Ada sebanyak 90% responden yang mengaku ikut merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW. Ritual ini sangat terasa tidak hanya oleh masyarakat Muslim di perdesaan saja, tetapi demikian juga oleh masyarakat Muslim di perkotaan. Pria maupun wanita, usia muda maupun tua ikut merayakannya.”

Apakah membaca angka ini kemudian kita bisa menyimpulkan bahwa perayaan tradisi Maulid yang selama ini dianggap hanya dilakukan oleh para santri ternyata telah menembus ke segala penjuru arah? Inikah santrinisasi masyarakat kota? Belum tentu. Sukar lagi kita membedakan bahwa hanya santri yang mengikuti perayaan Maulid, sementara abangan dan priyayi tidak. Angka yang disodorkan sangat besar, yaitu 90%.

Kedua, kontribusi buku ini juga menggeser perdebatan keagamaan yang selama ini melulu berdasarkan adu dalil. Tahun 70 dan 80-an kencang sekali adu dalil ini khususnya antara Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Tahun 90-an sampai sekarang bergeser menjadi perdebatan ritual antara Wahabi dan Nahdlatul Ulama. Tapi bagaimana angka-angka menjelaskannya sekarang?

Buku ini menunjukkan data yang mengejutkan bagi kalangan yang gemar adu dalil.

“Sebanyak 71,7% Muslim Indonesia melaksanakan qunut saat sholat subuh. Muslim di perdesaan (rural) yang melakukan qunut saat sholat subuh lebih banyak dibandingkan Muslim yang tinggal di perkotaan (urban). Muslim di perdesaan yang melaksanakan qunut subuh sebesar 74,1% sedangkan Muslim yang berada di perkotaan sebesar 69,6%.”

Perdebatan membaca atau tidak membaca qunut sekarang tidak lagi dilihat dalam konteks mana dalil yang lebih kuat, tapi mana yang lebih banyak melakukannya. Ternyata kalau kita kombinasikan dua temuan di atas, yaitu soal Maulid dan qunut kita menemukan fakta bahwa lebih banyak yang mengikuti perayaan Maulid (90%) ketimbang yang membaca qunut (71,7%). Berarti tidak semua dari 90% responden yang mengikuti Maulid itu juga membaca qunut. Menarik, bukan?

Ketiga, buku ini juga memberi kontribusi terhadap relasi antara satu ritual dengan ritual lainnya. Misalnya kita jadi bertanya-tanya bahwa melaksanakan satu ritual dalam ketgori santri misalnya (katakanlah tahlilan), tidak lantas berarti ritual santri lainnya akan diikuti dengan ketat. Terjadi varian dan kalau mau lebih jauh bisa dikatakan, telah terjadi keragaman ritual di kalangan Muslim Indonesia. Selama ini varian atau keragaman ini tidak terlihat kalau kita hanya mengandalkan “adu dalil” atau memakai bendera ormas.

Buku ini menyodorkan angka menarik soal varian ini. Misalnya ditemukan bahwa 84,3% Muslim Indonesia melaksanakan tahlilan. Namun angka ini langsung drop ketika responden ditanya soal ziarah ke makam ulama. Ternyata hanya 48,8% yang melaksanakan ziarah ulama. Ini artinya mereka yang melaksanakan tahlilan, boleh jadi juga senang merayakan Maulid (90%), tapi tidak otomatis mereka senang berziarah ke makam ulama. Padahal kita tahu bacaan tahlilan erat kaitannya dengan kematian. Ziarah juga berkenaan dengan kematian. Tapi keduanya tidak otomatis dilaksanakan oleh orang yang sama. Amat menarik, bukan?

Varian lainnya kita temukan dalam buku ini ketika bicara soal jumlah rakaat tarawih. Buku ini menyajikan data hanya 45,9% yang melaksanakan 23 rakaat tarawih. Saya kutip:

“Riset Alvara menunjukkan bahwa lebih banyak muslim yang melakukan 11 rakaat, baik Muslim urban maupun rural dan di semua kepulauan. Namun proporsi muslim urban yang memilih 11 rakaat lebih banyak dibanding muslim rural. Di Jawa proporsinya relatif berimbang yaitu 49,1% yang melakukan 23 rakaat dan 50,1% yang melakukan 11 rakaat. Sementara, di Maluku dan Papua cukup banyak yang menjalankan 11 rakaat (69,2%). Hanya kelompok umur 17 – 25 tahun (usia muda) yang lebih banyak menjalankan Tarawih dan Witir 23 rakaat (54,9%). Selebihnya lebih banyak yang memilih 11 rakaat. Hal ini menarik, karena kelompok umur tersebut tergolong masih belia, namun lebih banyak yang siap dan mau menjalankan 23 rakaat.”

Apakah kemudian bisa kita simpulkan bahwa Muslim Indonesia sekarang juga selektif dalam memilih ritualnya berdasarkan sisi praktisnya? Jika benar, maka sekali lagi perdebatan antara modernis-tradisionalis, santri-abangan, bahkan “adu dalil” antar ormas sekarang telah menemukan wajah yang berbeda. Dari angka-angka yang disodorkan boleh jadi wajah Muslim Indonesia kontemporer lebih banyak yang melaksanakan ritual tradisional tapi tetap selektif-pragmatis.

Saya menyambut baik buku yang luar biasa ini. Kita punya cara pandang baru untuk keluar dari perdebatan klasik, dan lebih melihat Islam sebagai ‘living religion’ dimana umat menjadi pelaku aktif lewat opini mereka yang dikuantitatifkan. Umat yang selama ini hanya menjadi obyek perdebatan ‘adu dalil’, kini menjadi subjek kajian. Mau tidak mau, inilah arah baru kajian Islam di Indonesia: melihat problematika masyarakat dari balik angka.

Saya akhiri pengantar ini dengan mengutip joke dari Gus Dur: “Angka statistik itu seperti kutang. Yang penting adalah isi dibaliknya.” Artinya, angka-angka itu penting, tapi jauh lebih menantang lagi adalah penjelasan di balik angka. Selamat membaca temuan-temuan menarik!

**
Kalau mau beli bisa wa ke 082141221797

Login


Khazanah GNH

Komunitas Santri Gus Nadirsyah Hosen

Global Nalar Hakekat
Kompleksitas persoalan kehidupan di abad modern ini meniscayakan terbentuknya sebuah komunitas, dimana anggota dari berbagai latarbelakang agama dan budaya, bisa saling belajar layaknya para santri, di sebuah rumah virtual bersama: Khazanah GNH

Khazanah GNH
Komunitas santri yang berwawasan global, mengindentifikasi beragam persoalan dan isu-isu aktual, dengan mengembangkan nalar yang sehat, bukan atas dasar keberpihakan politik sesaat, tapi melalui diskusi (kajian dan ngaji) akan hakikat kemanusiaan dan kehidupan. Dengan cara ini peradaban manusia yang tercabik-cabik dirajut kembali dengan keluhuran budi dan qalbu guna menebar rahmat dan kasih sayang pada semesta.”

Sudah terdaftar?