Godaan yang sulit dielakkan bagi kita orang awam itu adalah menceritakan aib orang lain.

Dalam riwayat Imam al-Tirmidzi disebutkan sabda Nabi SAW: “Barang siapa yang membongkar-bongkar aib saudaranya, Allah akan membongkar aibnya. Barangsiapa yang dibongkar aibnya oleh Allah, Allah akan mempermalukannya, bahkan di tengah keluarganya.

Imam Fakhr al-Razi dalam tafsirnya menceritakan sebuah riwayat bahwa para malaikat melihat di lauh al-mahfudz akan kitab catatan manusia. Mereka membaca amal saleh manusia. Ketika sampai pada bagian yang berkenaan dengan kejelekan manusia, tiba-tiba sebuah tirai jatuh menutupnya. Malaikat berkata, “Maha Suci Dia yang menampakkan yang indah dan menyembunyikan yang buruk.”

Kenapa membicarakan aib orang lain itu begitu dikecam dalam Qur’an dan Hadis? Karena saat kita membuka aib orang lain akan berpotensi muncul perasaan bahwa kita lebih baik dari orang tersebut. Merasa lebih baik ini jelas merupakan karakter iblis. Itu sebabnya kita sebagai orang awam harus belajar menahan diri untuk tidak membicarakan keburukan orang lain. Apa kita sendiri tidak punya aib atau kekurangan sampai begitu asyiknya membahas aib orang lain?

Al-Hujurat ayat 13 mengingatkan kita: “Janganlah kamu mengolok-olok kaum yang lain [karena] boleh jadi mereka [yang diolok-olok] lebih baik dari mereka [yang mengolok-olok] dan jangan pula kaum wanita [mengolok-olok] wanita lain [karena] boleh jadi wanita yang [diperolok-olok] lebih baik dari wanita [yang memperolok-olokkan]….

Tentu saja ada pengecualian boleh membuka aib orang lain seperti saat bersaksi di pengadilan, memberi nasehat agar si fulan tidak mengulangi kesalahannya atau memberi peringatan agar orang tidak tertipu kelakuan buruk si fulan. Intinya, mari kita berhati-hati membicarakan keburukan orang lain, jangan sampai Allah pun membuka keburukan kita. Ya Sattar, ustur ‘uyubana….

Kalau godaan bagi orang awam seperti kita ini untuk tidak membuka aib, maka untuk orang-orang khusus atau para penempuh laku spiritual, godaannya adalah untuk tidak sembarangan menceritakan pengalaman ghaibnya.

Pada tahap awal para salik akan melihat berbagai keghaiban. Ini pun sebenarnya ujian. Bila tanpa ijinNya berbagai peristiwa ghaib atau pesan langit diceritakan kemana-mana maka para salik telah gagal melewati ujian ini. Kalau setetes rahasia ilahi yang dititipkan kepadamu sudah membuat dirimu berbangga dan bicara kemana-mana untuk menimbulkan kesan betapa allimnya dirimu, maka bagaimana Allah akan membuka rahasiaNya yang lebih besar lagi?

Kenapa para salik harus menahan diri mengumbar berbagai “karomah” atau “keghaiban” yang mereka alami? Karena dikhawatirkan akan tersembul perasaan lebih suci dan lebih dekat kepada Allah dibanding orang lain. Ini sekali lagi jelas merupakan karakter iblis.

Walhasil, orang awam tidak boleh sembarangan mengumbar aib orang lain. Para salik tidak boleh sembarangan mengumbar cerita ghaib. Karena kedua-duanya bisa jatuh pada perasaan lebih baik dan lebih suci dari orang lain.

Nah, bagaimana kalau ada orang mengaku salik di medsos yang gemar koar-koar menceritakan aib orang lain yang kemudian itu dia klaim berdasarkan petunjuk ghaib? Jangan mudah percaya! Berarti orang tersebut telah dua kali melanggar larangan untuk tidak membuka aib dan perkara ghaib. Medsos memang ajaib: dukun psikopat pun bisa dianggap sufi!

Tabik,

Nadirsyah Hosen

Contributor
Tidak Ada Komentar
Berikan komentar Batal
Comments to: Aib dan Ghaib

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Attach images - Only PNG, JPG, JPEG and GIF are supported.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Login


Khazanah GNH

Komunitas Santri Gus Nadirsyah Hosen

Global Nalar Hakekat
Kompleksitas persoalan kehidupan di abad modern ini meniscayakan terbentuknya sebuah komunitas, dimana anggota dari berbagai latarbelakang agama dan budaya, bisa saling belajar layaknya para santri, di sebuah rumah virtual bersama: Khazanah GNH

Khazanah GNH
Komunitas santri yang berwawasan global, mengindentifikasi beragam persoalan dan isu-isu aktual, dengan mengembangkan nalar yang sehat, bukan atas dasar keberpihakan politik sesaat, tapi melalui diskusi (kajian dan ngaji) akan hakikat kemanusiaan dan kehidupan. Dengan cara ini peradaban manusia yang tercabik-cabik dirajut kembali dengan keluhuran budi dan qalbu guna menebar rahmat dan kasih sayang pada semesta.”

Sudah terdaftar?