Gus Nadir

Mengkaji ISLAM Kontekstual bersama

Gus Nadir

Islam Enjoy Logo
Syariah

Benarkah Dosa Riba Lebih Berat dari Berzina?

Keharaman riba telah disepakati oleh para ulama. Namun apakah bunga bank itu termasuk riba? Para ulama berbeda pandangan. MUI mengatakan: Iya, termasuk riba. Namun para ulama Mesir yang tergabung dalam Majma’ al-Buhuts Islamiyah (MBI) mengatakan tidak. Mufti Taqi Usmani dari Pakistan mengatakan Iya. Namun Mufti Nasr Farid Wasil dari Mesir mengatakan Tidak. Syekh Wahbah az-Zuhaili mengatakan Iya. Sayyid Thantawi (Grand Syekh al-Azhar) mengatakan Tidak

Jadi, buat ulama yang menganggap bunga bank termasuk riba, maka hukumnya haram, dengan segala konsekuensinya termasuk bekerja di bank konvensional. Sementara buat ulama yang menganggap bunga bank bukan termasuk riba maka hukumnya boleh, termasuk boleh bekerja di bank konvensional.

Sampai sini, sudah jelas yah? Gak usah ribut. Ini perkara khilafiyah

Namun belakangan ini beredar meme/gambar sampai baliho/spanduk yang mengutip hadits Nabi yang mengatakan 1 dirham riba lebih besar dosanya dari perbuatan zina sebanyak 36 kali. Bahkan ada hadits yang lebih serem lagi: Riba memiliki 72 pintu. Yang paling rendah seperti menzinahi ibu kandung.

Mari kita bahas sanad dan matan kedua hadits di atas. Sahihkah haditsnya?

Hadits dengan redaksi yang mirip banyak diriwayatkan melalui berbagai jalur periwayatan: Abu Hurairah, Ibn Mas’ud, dan Siti Aisyah. Para ulama sudah membahasnya dan mereka berselisih mengenai sahih atau tidaknya hadits-hadits tersebut. Al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak mengatakan haditsnya sahih sesuai kriteria Bukhari-Muslim. Namun ulama lain mengatakan tidak sahih.

Hasil pelacakan saya, hadits seputar dosa riba yang melebihi dosa perbuatan zina itu sanadnya lemah dan matannya mungkar. Ini alasannya:

1. Ibn al-Jauzi menjelaskan kedhaifan riwayat-riwayat hadits semacam ini dalam kitabnya al-Maudhu’at (juz 2, halaman 247):

ليس في هذه الاحاديث شئ صحيح

Gak ada satupun yang sahih dalam kumpulan hadits seputar masalah ini.’

Ibn Al-Jauzi mengutip bagaimana Imam Bukhari mengomentari sejumlah perawi hadits yang bermasalah

Abu Mujahid: haditsnya munkar.

Thalhah bin Zaid: munkar.

Jadi bagaimana mungkin dikatakan haditsnya sahih sesuai syarat Bukhari-Muslim?

2. Syaikh Abdur Rahman al-Mu’alimi al-Yamani ketika mentahqiq kitab al-Fawa’id al-Majmu’ah fi al-Hadits al-Maudhu’ah (juz 1, halaman 150) menulis:

والذي يظهر لي أن الخبر لا يصح عن النبي صلى الله عليه وسلم البتة

yang jelas tampak bagiku bahwa khabar (seputar topik ini) tidak benar sama sekali berasal dari Nabi SAW.

3. Ahli hadits lainnya Abu Ishaq al-Huwaini dalam kitab Ghauts al-Makdud bi Takhrij al-Muntaqa Libnil Jarud membuat kesimpulan

‎أن الحديث لا يمكن نسبته إلى النبي صلى الله عليه وسلم ، لا تصحيحاً ولا تحسيناً ، وأحسن أحواله أن يكون ضعيفا ، وعندي أنه باطل ، وفي متنه اضطراب كثير

Hadits semacam ini tidak mungkin dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW, statusnya tidak sahih dan juga tidak hasan. Paling banter dikatakan dha’if. Tapi buat saya haditsnya batil, dan di matan (teks)nya terdapat perbedaan redaksi yang banyak (mudtarib).”

4. Terakhir, Syekh ‘Ali as-Shayyah, dosen ilmu hadits di Universitas King Saud, Riyadh, Saudi Arabia melakukan riset tentang hadits seputar ini. Beliau menyimpulkan:

لم يصح شيء مرفوع إلى النبي صلى الله عليه وسلم في تَعْظيمِ الرّبَا على الزنا

Tidak satupun hadits yang marfu’ bersambung kepada Nabi dalam topik lebih besarnya dosa riba daripada perbuatan zina”.

Jadi, dari segi sanad, hadits seputar topik ini dianggap lemah, batil, dan tidak sampai ke Nabi, oleh para ulama hadits di atas.

Dari sisi teks atau matan, hadits seputar ini juga bermasalah. Perbuatan zina itu termasuk dalam hal jinayat (pidana Islam). Sedangkan riba itu tidak termasuk dalam jinayat. Bagaimana mungkin dosa riba melebihi dosa perbuatan zina, apalagi dikaitkan dengan melebihi dosa menzinahi ibu kandung. 36 kali dosanya lebih besar. Jadi bagaimana hukuman cambuknya? 36 dikali 100 cambuk? Tidak masuk akal.

Karena itu kesimpulan saya hadits-hadits seputar masalah ini tidak bisa dijadikan pegangan kita. Wa Allahu a’lam

Tabik,

Nadirsyah Hosen

 

Nadirsyah Hosen

Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School. Juga Pengasuh PonPes Ma'had Aly Raudhatul Muhibbin, Caringin Bogor pimpinan DR KH M Luqman Hakim.

This Article Has 13 Comments
  1. Sani Yuliani Reply

    terima kasih atas pencerahannya gus!!!! klo bisa di uraikan lagi lebih detail persoalan RIBA ini, termasuk argumentasi para Ulama mengenai Riba atau tidaknya bunga bank…

  2. Yap Siauw Soen Gie Reply

    Gus Nadir saya senang membaca tulisan2 Gus yang mencerahkan.
    Walaupun non muslim saya beberapa kali membaca ulasan2 tentang Islam agar setidaknya saya lebih mengenal sekeliling saya yang mayoritas muslim.
    Tadi saya membaca sebuah artikel yang membuat saya agak mengernyitkan dahi karena saya merasa bahwa apa yang diinginkan oleh Politisi ini bisa menimbulkan komplikasi dalam hukum di Australia.
    Bagaimana pandangan Gus Nadir soal ini, berikut linknya:
    https://www.buzzfeed.com/markdistefano/aly-on-islam?utm_term=.ywjy8VvMp#.iryDPQRvX

  3. iwanaprawira Reply

    Kajian yang hebat, sejalan dengan kaidah ilmu ekonomi anglo saxis dan continental..

  4. Arif Reply

    Terimakasih pencerahannya Gus…, temen saya sampai galau karena suaminya kerja di Bank Konvensional.

  5. Lalu Iman Imbong Reply

    Seandainya tidak seperti itu besar dosanya, terus apakah keharaman riba itu terus gugur?

  6. Mentari Reply

    Gus, bagaimana dgn Q.S. Al Baqarah ayat 275-276 yang menjelaskan tentang haram dan keburukan dari riba? Apakah Al-Quran juga salah?

    • Puput Reply

      Di bagian pembukaan kan sudah ditegaskan oleh Gus Nadir bahwa semua sepakat bahwa riba adalah haram.
      Yang menjadi khilafiah adalah apakah bunga bank masuk dalam kategori haram.
      Ketidakshohihan hadis yang dibahas di atas bukan masalah ribanya, melainkan menyandingkan dosa riba dengan dosa zina

  7. Miftahul anam Reply

    Terima kasih pencerahan nya Gus..
    Izin share

  8. Hery Reply

    Mantap Gus. Lanjutkan. Semoga selalu sehat dan barakah umurnya. Aamiin.

  9. rizky goenardi Reply

    Trimakasih Gus Nadir untuk pencerahannya

  10. Erwin Reply

    Apa yg dijelaskan Gus Nadir bukan menjelaskan gugurnya keharaman riba.
    Gus Nsdir menjelaskan mengenai sanad hadist ttg riba lebih tinggi hukumannya timbang 36x berzinah.. yg ternyata tidak bersambung ke Rasulullah SAW berdasarkan kutipan diatas

    Syekh ‘Ali as-Shayyah, dosen ilmu hadits di Universitas King Saud, Riyadh, Saudi Arabia melakukan riset tentang hadits seputar ini. Beliau menyimpulkan:

    لم يصح شيء مرفوع إلى النبي صلى الله عليه وسلم في تَعْظيمِ الرّبَا على الزنا

    “Tidak satupun hadits yang marfu’ bersambung kepada Nabi dalam topik lebih besarnya dosa riba daripada perbuatan zina”.

    Jadi bukannya Riba itu tidak haram, dan Al Quran itu salah.. apagi menggugurkan keharamannya..
    Riba tetap haram.. bagaimana dan apapun itu..
    Alhamdulillah u ilmu2Nya.. beginilah cara Allah SWT memberi nikmat iman n ilmu..
    Jazakallahu khoiron katsiron Gus Nadir untuk pencerahannya.. lanjutannya ditunggu yaa..

  11. Ahmad Zaki Reply

    Assalammualaikum, terimakasih Kyai atas tulisan2 antum yang mencerahkan dan memudahkan. Izin dishare ke rekan2, Semoga Allah membalas segala kebaikan antum. Jazakallah khoir… wassalammualaikum . Zaki Bogor

  12. Ma'ruf Reply

    Tentang keharaman bunga kita dilarang ribut krn masuk dalam khilafiyah. Tp dalam hadist panjenengan hadisnya lemah, padahal ulama juga khilaf, ada yg bilang sohih, ada yg bilang doif.
    Gimana?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *